Jumat, 03 Apr 2020
radarkediri
Home > Kolom
icon featured
Kolom
SUKO SUSILO

Kepompong Kebudayaan

23 Maret 2020, 19: 19: 33 WIB | editor : Adi Nugroho

Suko Susilo

Oleh : Suko Susilo (radarkediri)

Share this          

Kita, atau orang Jawa pada umumnya, cenderung memiliki kesadaran tinggi terhadap keberadaan orang lain. Dalam hidup, orang tidaklah sendiri. Manusia terus bergerak ke dalam dan ke luar dari ruang pribadi masing-masing ke ruang sosial. Akan sangat bijaksana jika pergerakan itu dapat dilalui dengan berbagai interaksi yang harmonis. Tanpa konflik dan menyenangkan dengan mengakui secara sopan kehadiran orang lain.

Memberi salam dan menganggukkan kepala sedikit atau membungkukkan badan ketika berjalan lewat. Masuk warung makan kecil dengan duduk berhimpitan sambil bergumam maaf atas kemungkinan menganggu kenyamanan orang yang lebih dulu datang. Bahkan, bagi yang lebih dulu datang, sembari menyendok makanan meminta maaf karena mendahului makan atau justru menawarkan makanannya untuk dimakan bersama.

Ritual wajib lain bagi masyarakat Jawa adalah menyapa dan mengharap kesudian mampir saat ada tetangga atau kenalan lewat di depan rumahnya. Sapaan mangga pinarak seperti kewajiban saat ada kenalan lewat. Menyapa dan menghormat ketika bertemu seolah menjadi keharusan. Adalah tidak sopan dan kasar untuk tidak saling menegur. Keadaan ini sering dianggap sebagai penanda adanya pertikaian.

Gempuran teknologi informasi kini memang menjadi provokator utama perubahan perilaku masyarakat Jawa. Sekalipun demikian, masih terasa nyata mainstream perilaku Jawa dalam pergaulan keseharian masyarakat. Sebagaimana sifat budaya yang rentan terhadap pengaruh budaya lain, namun budaya kita cukup tangguh menghadapi serbuan budaya asing.

Tetapi, tanpa dinyana-nyana, datang korona sebagai virus penyebar teror yang tak tanggung-tanggung dalam waktu singkat menjadi wabah internasional. Semua negara panik menghadapinya, tak terkecuali Indonesia. Memerangi virus ini, semua negara memiliki anjuran yang sama.

Jauhi orang, kurung diri di rumah dan bercurigalah bahwa tiap orang potensial menularkan bencana. Jabat tangan, bahkan sekedar tegur sapa tak dianjurkan dalam jarak yang dekat. Interaksi sosial harus berjarak minimal satu meter, dan hindari saling bertamu serta saling kunjung. Masing-masing rumah tangga usahakan menjadi isolasionis.

Korona datang membawa antitesis kebudayaan Jawa. Nilai tata pergaulan yang dispiriti kesopanan dan penghargaan pada kehadiran orang lain menjadi sebaliknya. Kerisauan yang muncul, jangan-jangan korona ini menjadi kepompong kebudayaan baru masyarakat kita.

Kesadaran kolektif berganti kesadaran individual. Nilai harmoni bergeser kearah disharmoni karena saling curiga. Saling hormat secara sopan berganti cuek bebek terhadap kehadiran orang lain. Tiap orang menjadi potensial mementingkan diri sendiri dan keluarga intinya.

Sekalipun anjuran pemerintah terbatasi waktunya, tetapi setidaknya hal ini telah menjadi pengetahuan baru sarana penyelamatan diri dari kemungkinan diterjang penyakit. Karenanya, bisa jadi juga memperoleh peluang pembiasaan untuk waktu yang lama dan akhirnya menjadi bagian perilaku dalam cara kita menjalani hidup.

Persoalan ini tentu menjadi masalah berat bagi pemerintah pusat maupun daerah. Dari pandangan yang pesimistis keberlangsungan Indonesia menjadi taruhan. Keadaan ini bisa saja berkembang ke arah yang lebih menakutkan. Saya hampir yakin jika ada survey tentang segmentasi klas sosial ekonomi korban korona hasilnya adalah orang miskin yang paling banyak menderita. Padahal jumlah penduduk miskin di negeri ini masih tinggi.

Mereka yang hidup di jalanan, mengais sedikit rejeki diberbagai tempat ramai. Mereka yang banting tulang memecah batu didasar sungai dan yang mengumpulkan ranting pohon di tepian hutan. Yang keluar rumah tanpa kemampuan untuk melindungi diri sendiri. Mereka ini semua yang potensial menderita karena korona.

Tapi semoga kita tidak semenderita yang dibayangkan dan selamat dari wabah korona. Saya menjadi ngeri sendiri membayangkan jika wabah ini tak segera teratasi.

Karena, jika tidak teratasi, kemungkinan akan memunculkan gerakan sosial. Gerakan yang disemangati oleh kesadaran adanya ketidakadilan dalam pembagian kekayaan di negeri ini. Jurang kaya miskin menganga begitu lebar di negara yang katanya kaya raya.

Dari kesadaran ketidakadilan ekonomi berlanjut pada kesadaran mempertahankan nyawa agar selamat dari wabah korona. Salah satu sarana pertahanannya adalah sumberdaya ekonomi. Untuk beli sanitizer, obat-obatan, masker, bahan pokok makanan sebagai persediaan karena anjuran tak keluar rumah untuk bekerja atau lain-lain kepentingan, dan lain sebagainya untuk perlindungan diri. Padahal mereka miskin. Sementara di depan matanya kekayaan menumpuk pada sedikit orang.

Revolusi Bolshevik 1917 yang melahirkan almarhum Uni Soviet ditahun 1922 itu salah satu pemicunya adalah penindasan kaum feodal dan kapitalis pada kaum buruh. Tapi jika terjadi gerakan sosial (untuk tidak mengatakan revolusi) yang disebabkan oleh korona ini pemicu utamanya adalah penyelamatan nyawa. Tentu lebih menakutkan.

Ah, semoga saya salah dan terlalu pesimistis. Semoga efek sosiologis korona tak sampai ke sana, dan berhenti menjadi kepompong kebiasaan dalam cara kita menjalani hidup saja. Semoga korona secepatnya teratasi dan kita tetap dalam lindungan Allah SWT. Amin2. (Penulis adalah Direktur Pascasarjana IAI Tribakti)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia