Jumat, 03 Apr 2020
radarkediri
Home > Events
icon featured
Events

Puluhan Penggiat Literasi Ikuti Pembinaan Balai Bahasa di Radar Kediri

Bagikan Tips Menulis dengan Isu Lokal

23 Maret 2020, 12: 35: 05 WIB | editor : Adi Nugroho

CARI IDE: Salah satu penggiat literasi mencoba menggali tip dari pembicara saat sesi dialog pada hari ketiga pembinaan komunitas literasi yang digelar Balai Bahasa Jatim di Ruang Brantas Gedung JP Radar Kediri (19/3)

CARI IDE: Salah satu penggiat literasi mencoba menggali tip dari pembicara saat sesi dialog pada hari ketiga pembinaan komunitas literasi yang digelar Balai Bahasa Jatim di Ruang Brantas Gedung JP Radar Kediri (19/3) (JP RADAR KEDIRI)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri- Mengapa sering berpikir terlalu ‘melip’ sementara di sekitar kita banyak hal yang bisa menjadi ide penulisan? Cara berpikir itulah yang Kamis lalu (19/3) dibongkar dalam sesi ‘Pengembangan Ide Kreatif Berbasis Kearifan Lokal dalam Penulisan Esai’ yang digelar Balai Bahasa Jawa Timur di Ruang Brantas Gedung JP Radar Kediri.

Dihadiri oleh sekitar 50 penggiat literasi di Kabupaten Kediri, sesi itu merupakan sesi kelima dari kegiatan pembinaan komunitas literasi yang digelar tiga hari berturut-turut sejak Selasa (17/3). “Berpikir ‘melip’ itu salah satu ‘penyakit’ penulis pemula karena ingin segera dianggap hebat tulisannya,” ujar Tauhid Wijaya yang dihadirkan sebagai pembicara pada sesi tersebut.

Wartawan yang juga direktur Jawa Pos Radar Kediri itu mengungkapkan, cara berpikir seperti itu bisa jadi masih terpengaruh cara berpikir sentralistis ala Orde Baru. Bahwa semua hal yang tidak terkait dengan ibu kota sebagai pusat kebijakan dianggap tidak menarik. “Kalau tidak bicara Jakarta tidak menarik. Kalau tidak membahas isu nasional tidak menarik. Kalau tidak membahas masalah dunia tidak menarik,” ungkapnya.

Padahal, lanjut dia, sejak reformasi yang melahirkan otonomi daerah, lokalitas semakin menarik. Apalagi dengan lahirnya Undang-Undang Desa Nomor 6/2014 yang memberikan kewenangan dan anggaran lebih besar di tingkat desa. Hal-hal yang sebelumnya tidak terlihat di desa, kini bisa berkilau dan menjadi perhatian nasional bahkan internasional

“Makanya, kalau Cak Nun (Emha Ainun Nadjib, Red) bilang Indonesia Adalah Bagian dari Desa Saya, itu adalah benar adanya. Sekarang bahkan kita bisa bilang, dunia adalah bagian dari desa saya,” lanjut Tauhid seraya menyebut Kampung Indian dan Kampung Korea di Ngancar sebagai contohnya.

“Jadi, lokalitas itu penting,” tandas dia. Terlebih dalam situasi dunia yang datar dan tanpa batas akibat kemajuan teknologi informasi ini. “Lokalitas bisa menjadi pembeda dari isu-isu yang seragam di seluruh dunia,” sambungnya di hadapan peserta yang sebagian para guru bahasa Indonesia.

Tauhid lantas mengangkat rubrik Sego Tumpang yang ditulisnya di harian ini sebagai contoh tulisan yang kental dengan nuansa lokal. Mulai dari setting-nya, dialognya, hingga isu-isunya. “Isu apa pun, begitu ditulis di Sego Tumpang menjadi terasa lokalitasnya. Sebab, kita tahu, sego tumpang adalah produk yang sangat khas Kediri. Yang hampir tidak bisa ditemukan di luar wilayah ini,” bebernya.

Karena itulah, Tauhid mengajak para penggiat literasi itu untuk lebih peka dalam mengamati kehidupan di sekitar tempat tinggalnya. Sebab, di situlah bertebaran kejadian yang bisa diangkat sebagai tulisan. “Nggak usah melip-melip mikir Amerika atau Eropa segala,” tandasnya.

Untuk diketahui, pembinaan komunitas literasi yang digelar selama tiga hari itu menghadirkan sejumlah pembicara. Mulai dari Kepala Balai Bahasa Jatim Mustakim, guru besar Universitas Negeri Malang (UM) Prof Djoko Saryono, budayawan Bonari Nabonenar, ahli bahasa Hero Patrianto, hingga penulis Arfan Fathoni. “Kegiatan ini penting untuk menumbuhkan budaya literasi di tengah masyarakat,” ujar Mustakim.

Ahmad Ikhwan Susilo dari Taman Baca Masyarakat (TBM) Jambu, Kayenkidul mengungkapkan, jaringan literasi di Kediri relatif sudah terbentuk. Cuma, mereka masih butuh terus didorong untuk melahirkan karya. “Ini tantangan bagi kami,” akunya. (sam)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia