Jumat, 03 Apr 2020
radarkediri
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Kasus Materai Palsu di Nganjuk: Polisi Masih Memperkuat Bukti

22 Maret 2020, 18: 31: 51 WIB | editor : Adi Nugroho

materai palsu

INI YANG ASLI: Polres Nganjuk tengah menyelidiki kasus dugaan materai palsu. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

  GONDANG, JP Radar Nganjuk - Musito, 53, warga Desa Campur, Gondang merasa ditipu telah membeli belasan ribu biji materai yang diduga palsu. Hal tersebut sontak dilaporkan kepada Polsek Gondang, Kamis lalu (5/3). Hingga kini, polisi masih mendalami keaslian dari materai Rp 6 ribu tersebut.

Kapolsek Gondang AKP Alex Candra membenarkan pihaknya masih melakukan penyelidikan kasus tersebut. Hingga kemarin saat dikonfirmasi koran ini, belum ada pihak yang dijadikan tersangka. “Belum. Belum ada (ada tersangka),” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Nganjuk.

Lebih lanjut Alex mengatakan, masih melengkapi dan memperkuat bukti-bukti yang ada. Pihaknya juga telah mengirimkan sampel materai yang diduga palsu tersebut ke pihak laboratorium forensik. Tak lain untuk mengetahui keaslian dari materai tersebut.

Kasus ini sendiri bermula ketika Musito ditawari materai Rp 6 ribu oleh seorang rekannya awal Maret lalu. Materai tersebut awalnya ditawarkan per bijinya seharga Rp 5 ribu. Namun, pelapor menawarnya sehingga terjadi kesepakatan harga sebesar Rp 4.500.

Kala itu, Musito membeli materai sebanyak 32 lembar materai Rp 6 ribu tersebut. Per lembarnya berisikan 50 biji materai. Praktis, pelapor membayarkan uang sebanyak Rp 7,2 juta kepada rekannya tersebut. “Dibayar tunai tanpa kuitansi,” imbuh Alex.

Keesokan harinya, terlapor kembali menawarkan materai serupa lagi kepada Musito. Kali ini, jumlahnya lebih banyak. Yakni sebanyak 45 lembar. Total kesepakatan harga yang dibayarkan oleh Musito kali ini sejumlah Rp 10,1 juta. Uang itu pun dibayarkan secara tunai kepada terlapor.

Transaksi ketiga kalinya, pelapor tetap menawarkan materai dengan harga yang sama. Namun, dia meminta uang sebesar Rp 8 juta kepada Musito. Yakni sebagai biaya transportasi pelapor ke Bandung, Jawa Barat (Jabar) untuk mengambil materai tersebut.

Sementara itu, Musito diberitahu oleh perangkat desa setempat agar berhati-hati kalau membeli materai. Pasalnya, banyak beredar materai Rp 6 ribu yang palsu. “Pelapor lalu memeriksa materai yang dibelinya tersebut,” ujarnya.

Dari keterangan pelapor, materai tersebut warna dan tulisan pada materai tersebut pudar. Begitu juga dengan hologramnya. Bahkan, jika diberi air pada bagian belakangnya tidak dapat menempel. Akhirnya, Musito melaporkan hal tersebut ke Polsek Gondang. Pelapor mengaku menderita kerugian sebanyak Rp 25,8 juta.

“Kini kami masih terus melengkapi bukti dan saksi dalam kasus ini,” tandas perwira dengan tiga balok di pundak ini.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia