Jumat, 03 Apr 2020
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Ketika Federasi Panjat Tebing Kediri Berjuang di Tengah Keterbatasan

Raih Prestasi dari Wall yang Bolong

22 Maret 2020, 16: 51: 03 WIB | editor : Adi Nugroho

panjat tebing

SEADANYA: Beberapa atlet FPTI Kota Kediri berlatih memanjat boulder wall kemarin. (Samsul Abidin - radarkediri)

Share this          

  Gedung itu seakan termakan usia. Tua dan kumuh. Namun, di tempat itulah para atlet ini menempa diri. Mempersiapkan diri menghadapi pertarungan di berbagai arena panjat tebing.

Bangunan ini berada di Jalan Sudanco Supriadi, Kota Kediri. Bekas gedung Dewan Kesenian Kota Kediri. Kondisinya mengenaskan. Terkesan sebagai gedung tua yang sudah dimakan usia. Di tempat itulah sehari-hari atlet Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kota Kediri berlatih.

Bila tak ada logo FPTI, mungkin tak ada yang tahu bila  bangunan ini merupakan kawah candradimuka bagi para atlet panjat tebing Kota Kediri. Sebab hanya logo itu yang menjadi pembeda bangunan ini dengan deretan gedung di jalan tersebut.

Baru ketika masuk ke dalam gedung terlihat fasilitas yang menandakan tempat ini sebagai lokasi berlatih atlet FPTI. Ada wall yang berdiri tegak. Jumlahnya empat unit.

“Ayo naik ke bagian yang itu,” teriak beberapa orang yang berdiri di sekitar wall.

Teriakan itu mereka tujukan kepada empat orang yang bergelantungan di wall tersebut. Kebetulan saat itu ada empat atlet yang berlatih. Tiga laki-laki dan seorang perempuan. Mereka terlihat asyik menapaki point demi point di tembok itu.

Seorang lelaki terlihat serius mengamati pergerakan empat orang tersebut. Sesekali memberikan motivasi.

“Awalnya (FPTI) didirikan Sri Wibowo atau Mas Bowo. Ketika itu, ia baru pulang dari Jember dan ingin mengadakan kompetensi wall climbing dengan merangkul beberapa sekolah,” kata Anom Suroso, ketua FPTI Kota Kediri saat ini, lelaki yang berdiri mengamati empat atlet berlatih.

Namun, acara yang berlangsung di alun-alun itu belum menggunakan nama FPTI. Acara yang tergolong sukses itu masih berbendera Karang Taruna Kota Kediri.  “Saat itu kebetulan Pak Wali kota Maschut datang dan memberi sambutan. Ini berapa harganya? Besok kita beli,” kenang Anom.

Akhirnya, November 2002 FPTI Kota Kediri diresmikan. Menempati sekretariat yang berada di Perpustakaan Daerah Kota Kediri, yang berada di Jalan Diponegoro bersama Pramuka. Kemudian markas mereka berpindah ke bekas gedung Dewan Kesenian Kota Kediri.

“Saat Kota Kediri jadi tuan rumah Porprov itulah punya tiga macam wall. Yakni speed, lead, dan boulder,” tambahnya.

Malang tak dapat ditolak, wall climbing yang berjumlah tiga tersebut pernah terkena angin kencang. Salah satunya ambruk mengenai bangunan.  Hingga kini bangunan yang tertimpa wall itu belum dibenahi.

Kemalangan FPTI tak berhenti sampai di situ. Taman Sekartaji direnovasi dan deretan PKL dipindah ke halaman gedung bekas DKKK tersebut. “Maka semua wall dicopoti. Dan akhirnya dipasang di dalam ruangan. Termasuk wall boulder,” ucapnya.

Sebenarnya, panjat tebing tergolong banyak peminat. “Saat ini ada 8 atlet yang aktif untuk berlatih, Kadang sampai ada 15 orang juga yang latihan,” jelas Anom.

Saat ini kondisi fasilitas yang ada di gedung latihan tersebut serba kekurangan. Ada matras yang rusak namun tetap digunakan. Karena tidak ada matras lain yang bisa digunakan. Beberapa point juga sudah copot. Juga ada beberapa lubang yang ada di wall clambing. Tapi kondisi itu tak lantas membuat para atlet patah arang dalam berlatih. Bagi para atlet, fasilitas tersebut masih bisa digunakan dan dimaksimalkan sebaik mungkin.

Terbukti prestasi panjat tebing Kota Kediri cukup moncer. Diakui di tingkat Jawa Timur. “Untuk Kejurda selama ini mendapatkan juara 3. Bahkan ada Yohanes Angel RQ yang saat ini di Puslatda Jatim dan akan berangkat PON XX di Papua nanti,” tutur Anom.

Kini, FPTI menggandeng beberapa kampus untuk ikut andil dalam perkembangan olahraga panjat tebing. Kepengurusan yang baru juga melibatkan anak-anak kampus di dalam internal ke pengurusan. “Harapannya ke depannya bisa masuk-masuk ke sekolah agar bisa menjaring calon-calon atlet yang berprestasi,” pungkasnya.

Matras Bolong, Jatuh Kena Lantai

Ruangan itu tampak begitu pengap, beberapa plafon juga tampak sudah berlubang. Tak hanya itu, beberapa lampu yang ada di gedung tersebut juga sudah tak menyala. Namun, hal tersebut tak lantas membuat empat atlet yang tengah latihan tersebut menghentikan aktivitasnya.

Keempatnya terdiri dari tiga pemuda dan satu perempuan tampak begitu ceria berlatih. Sesekali gelak tawa memenuhi ruangan tersebut. Mereka yaitu Alvito Wardana, Calonica Zumzumi Putri Dimam, Putra Tri Ramadani dan juga Cornelis Dennis Setiawan.

“Awalnya diajak sama kakak Mas, kebetulan sejak kecil hobi olahraga. Pas pertama coba kok penasaran dan berniat ikut panjat tebing,” ucap Vito sapaan akrab Alvito.

Vito yang sudah sejak 2016 lalu bergabung dengan panjat tebing mengaku sangat menyukai olahraga ini. Meskipun awalnya ditentang orangtuanya. Namun, lambat laun ia buktikan dengan prestasi yang cemerlang dan akhirnya didukung. “Baru dapat juara itu tahun 2017 mas, setahun kemudian. Kalau terakhir itu dapat perunggu juara 3 tingkat Jawa Timur di tahun 2019 lalu,” tutur atlet berusia 17 tahun ini.

Tak jauh berbeda dengan Vito, Nica, Dani dan Cornelis awalnya kenal panjat tebing karena diajak sang kakak maupun atlet sebelumnya. Seperti Nica, mengaku olahraga panjat tebing itu seru. “Ketika naik itu seru, meskipun kadang suka jatuh,” ujar gadis cilik berambut panjang ini.

Cornelis, 15, sudah menggeluti panjat tebing sejak kelas 3 SD. Namun awalnya ia mengikuti sepakbola. “Karena awalnya dulu itu suka manjat pohon, ada yang ngajak kesini untuk latihan. Tertarik sampai sekarang ini,” ujarnya sembari meneguk air.

Awalnya, Cornelis sempat merasa kesusahan karena jarak point yang cukup jauh. Ia juga menambahkan suka bosan karena jumlah yang latihan hanya sedikit. “Dulu itu pernah cuma latihan 2 atau 3 orang saja, suka bosen,” imbuhnya.

Durasi latihan yang selama 3 jam tersebut dirasa sudah sesuai dengan kondisi fisik para atlet. Beberapa atlet mengungkapkan fasilitas sudah cukup baik namun ada beberapa hal yang masih kurang. “Kalau wall itu sudah cukup mas, cuma kalau matras masih kurang, apalagi ada yang sudah sobek-sobek kayak tadi itu,” ujar Vito. Bahkan ia pernah terjatuh  namun baginya sudah menjadi hal yang biasa saja.

Hal tersebut juga diungkapkan Dani sapaan akrab Putra Tri Ramadani, bahkan karena matras yang bolong ia sempat jatuh terkena lantai. “Suka gemblodak dan juga pernah kena mester (lantai) karena matrasnya bolong,” jelas pemuda berusia 15 tahun ini.

Namun, hal-hal tersebut tak menjadi penghalang bagi mereka untuk berprestasi. Bahkan akhir Oktober 2019 lalu, menjadi peringkat 3 se Jawa Timur. Dengan memboyong 3 emas, 1 perak dan 2 perunggu. Yakni melalui Dani, Cornelis, Jennifer, dan juga Vito.

“Harus bisa menjaga kesehatan dan juga bagi waktu antara sekolah dan juga jadi atlet. Semoga bisa terus berprestasi dan mengharumkan nama Kota Kediri,” pungkas Vito.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia