Jumat, 03 Apr 2020
radarkediri
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Makin Diburu, Jahe Merah Malah Langka

21 Maret 2020, 13: 59: 47 WIB | editor : Adi Nugroho

empon empon jahe merah

LANGKA: Pedagang empon-empon di Pasar Grosir Ngronggo menunjukkan stok jahe gajah yang tersisa, sementara jahe merah kosong. (Habibah Anisa - radarkediri)

Share this          

KOTA, JP Radar Kediri – Sudah beberapa pekan setelah penyebaran virus korona di Indonesia, empon-empon masih diburu masyarakat. Salah satunya jahe merah yang menjadi primadona.

Akibat meningkatnya permintaan, barang tersebut langka di pasaran. Tidak hanya langka, harganya juga menjulang. Harga jahe merah saat ini, dijual dengan harga Rp 50 ribu per kilogram. “Sebelum naik lagi, harga mulai Rp 30 ribu hingga Rp 35 ribu per kilogram,” terang Harsono, 52.

Laki-laki yang merupakan salah satu pedagang Pasar Grosir Ngronggo, mengatakan banyak yang mencari jahe merah. Yang menyebabkan jahe menjadi incaran, hal tersebut dikarenakan dapat menangkal virus korona. Jahe merah sendiri, dapat digunakan sebagai jamu. “Karena banyak masyarakat yang mencari, membuat harga semakin tinggi," imbuhnya.

Kini jahe merah tidak terlihat di lapaknya. Sebelum habis terjual, ia terakhir memiliki stok sebanyak dua kwintal. Setelah datang, sudah habis dibeli dalam satu hari. Padahal, biasnya untuk dua kwintal baru habis setidaknya tiga hari.

Kenaikan harga tersebut, lanjut Harsono, baru terjadi sejak beberapa hari terakhir ini. Selain jahe merah, beberapa jenis rempah lain juga turut diburu warga. Selain jahe merah, kenaikan juga terjadi pada rempah-rempah lainnya. Seperti harga temulawak, kunyit dan laos. Itu terjadi karena banyak permintaan dari masyarakat.

Hal senada juga dingkapkan oleh pedagang di Pasar Grosir lainnya. Seperti Prasetio contohnya, ia tak menampik jika paska merebaknya virus corona  komoditi rempah-rempah menjadi komoditi yang banyak dicari. Bahkan untuk menjualnya pun dirinya mengaku tak kesulitan. “Sekali barang ada langsung habis dalam sehari,” ujar Prasetio.

Prasetio menjelaskan, di tempatnya biasanya menyediakan tiga kwintal jahe. Sediaan tersebut, biasanya habis  selama tiga atau lima hari. Namun setelah banyak yang memburu, stok tersebut habis hanya dalam satu hari.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia