Senin, 14 Jun 2021
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Terdampak ‘Tsunami’ Korona, Beginilah Kondisi Kampung Inggris Kediri

Jalanan Lengang, Sewa Ontel pun Sepi

19 Maret 2020, 18: 51: 41 WIB | editor : Adi Nugroho

korona kampung inggris

SEPI: Seorang pelajar memarkir sepeda ontel di tepi jalan di Kampung Inggris. Jalanan menjadi sepi sejak ada larangan beraktivitas di kampung tersebut untuk sementara waktu. (Rendi Mahendra - radarkediri)

Share this          

Jalanan itu terasa sekali kelengangannya. Hanya beberapa pengendara sepeda ontel dan motor saja yang melintas. Padahal, biasanya padat oleh aneka kendaraan dan pejalan kaki.

RENDI MAHENDRA, Kabupaten, JP Radar Kediri

Jalan-jalan, serta gang, di Kampung Inggris itu kemarin tak seperti biasanya. Tak terlihat antrean kendaraan yang melintasi jalanan yang masuk wilayah Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare tersebut. Juga tak terlihat anak-anak muda bersepeda ontel sewaan menuju lokasi-lokasi kursus.

Baca juga: Gabluk Pagebluk

Di jalanan utama wilayah kursus paling terkenal di Kediri itu, Jalan Brawijaya dan Jalan Anyelir, hanya ada beberapa pengendara yang melintas. Beberapa naik motor. Sebagian lagi mengayuh sepeda kumbang. Jauh berbeda bila dibanding dua hari sebelumnya. Ketika jalanan itu padat oleh anak-anak muda yang hendak pergi ke tempat belajar mereka.

Memang, imbas dari kegaduhan Corona Virus Disease (Covid)-19 sampai pula hingga ujung-ujung gang di Kampung Inggris. Apalagi setelah proses belajar-mengajar dihentikan sementara. Wilayah yang sebelumnya selalu padat dan ramai oleh pengendara beragam kendaraan kini menjadi lengang.

Di tengah kesepian suasana jalan itu, kemarin, ketika hari menjelang siang, satu mobil ambulans melaju sendirian. Menyusuri jalan-jalan dan memasuki gang-gang di kampung ini. Ambulans milik Puskesmas Tulungrejo itu berkeliling dengan pengeras suara di bagian atas mobil terus menyuarakan imbauan. Meminta masyarakat agar mencuci tangan dan menjaga kebersihan untuk mencegah penularan virus korona.

Seperti itulah suasana hari-hari ini di kampung pusat kursusan bahasa Inggris itu. Hampir semua siswa memilih pulang kampung. Menyusul penutupan sementara aktivitas di lokasi yang menjadi jujugan belajar pemuda-pemuda dari pelosok tanah air ini.

Tapi, tidak semuanya pulang kampung. Beberapa masih ada yang bertahan. Fani Afrizal Rohman salah satunya. Pemuda 17 tahun ini memilih tetap berada di Kampung Inggris.

“Saya khawatir juga soal virus korona ini. Tapi sama lembaga (kursus) diimbau untuk tidak pulang terlebih dulu,” kata pemuda asal Kudus, Jawa Tengah ini.

Fani sudah empat bulan kursus di BEC. Sejak Desember 2019. Jauh sebelum merebaknya kasus Covid-19. Selama itu pula Fani belum sekalipun pulang ke rumahnya.

“Keluarga sih khawatir. Tapi tidak menyuruh saya untuk pulang. Keluarga cuma memberi nasihat (agar) berhati-hati di sini, gitu,” kata Fani yang tengah menunggu dimulainya kelas kursusnya.

Selasa (18/3) siswa-siswa yang kursus di Kampung Inggris dikumpulkan di balai desa. Mereka mendapat sosialisasi terkait virus korona. Dari sosialisasi tersebut, Fani tahu bahwa virus korona dapat menular dari manusia ke manusia lewat droplat atau cairan saat bersin atau batuk.

“Kalau dari tempat kursus sudah disediakan hand sanitizer di tiap-tiap kelas Mas. Jadi kalau masuk, kami cuci tangan dulu. Hal itu membuat siswa seperti saya terbantu,” jelas Fani.

Di tempat les-lesannya, aku Fani, semua tidak ada yang pulang kampung. “Soalnya nanti kalau pulang tidak boleh ke sini lagi. Sementara ini beberapa minggu ke depan kan mau tes,” akunya.

Sejak Selasa (17/3) aturan penghentian proses belajar-mengajar di Kampung Inggris mulai berlaku. Untuk sementara setiap lembaga kurus tidak boleh menerima atau mendatangkan siswa baru.

“Ada pemberitahuan memang untuk tidak menerima siswa baru. Tapi untuk siswa yang sudah telanjur mengikuti progam kursus sebelum pemberitahuan itu, harus menyelesaikan dulu progamnya. Soalnya juga kasihan sama siswanya,” jelas Ima, seorang staf salah satu lembaga kursus.

Tentu saja, bukan hanya lembaga kursus saja yang terdampak larangan itu. Beberapa aktivitas bisnis yang terkait dengan Kampung Inggris pun terkena dampaknya. Baik itu rumah kos, warung, kafe-kafe yang selama ini melayani siswa-siswa kursus, dan bahkan persewaan sepeda ontel.

“Banyak yang pulang semua. Kalau tidak ada korona pertengahan bulan biasanya lebih banyak yang datang. Ini semua anak banyak yang pulang. Sepeda banyak yang kembali. Kan disuruh pulang sama orang tuanya,” jelas Anam, pengelola persewaan sepeda ontel.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news