Jumat, 03 Apr 2020
radarkediri
Home > Events
icon featured
Events

Mahasiswa FH UB Kuliah Pers Bersama Radar Kediri

Singgung UU Yang Atur Pers dan Medsos

19 Maret 2020, 15: 32: 43 WIB | editor : Adi Nugroho

DARI PRAKTISI: Dosen FH UB Dian Arlesti Lukman dan Direktur JPRK Tauhid Wijaya (tengah) bersama para mahasiswa usai kuliah di kampus Mrican, Selasa malam (17/3).

DARI PRAKTISI: Dosen FH UB Dian Arlesti Lukman dan Direktur JPRK Tauhid Wijaya (tengah) bersama para mahasiswa usai kuliah di kampus Mrican, Selasa malam (17/3).

Share this          

KOTA, JP Radar Kediri- Sebanyak 23 mahasiswa Fakultas Hukum (FH) Universitas Brawijaya (UB) Kediri, Selasa malam (17/3), mengikuti mata kuliah hukum pidana pers. Yang menarik, kuliah malam itu menghadirkan langsung praktisi pers Tauhid Wijaya.

Wartawan yang juga direktur Jawa Pos Radar Kediri itu menyampaikan materi tentang organisasi perusahaan dan redaksional pers. “Khusus materi ini, kami sengaja menghadirkan praktisi di bidangnya agar mahasiswa semakin paham dan mengerti,” ujar Dian Arlesti Lukman SH MH, dosen pengampu mata kuliah tersebut kepada wartawan koran ini.

Untuk menghidupkan suasana, Tauhid langsung membuka perkuliahan malam itu dengan pertanyaan tentang perbedaan pers dan media sosial (medsos). Sebab, medsos inilah yang menghidupkan jurnalisme warga (citizen journalism) –sebagai salah satu sub bahasan materi tersebut. “Anda sebagai generasi milenial pasti tidak ada yang tidak mengenal medsos. Lalu, apa perbedaannya dengan pers?,” pancing wartawan yang memulai karirnya sejak 1999 itu.

Beragam jawaban pun muncul dari mahasiswa. Mulai dari konten informasi, mekanisme pembuatan informasi, hingga peraturan dan pertanggungjawabannya. “Pers informasinya lebih faktual sedangkan medsos tidak, melainkan hanya berisi pendapat atau percakapan,” jawab salah satu mahasiswa.

“Pers terikat kode etik, medsos tidak,” jawab yang lain.

“Pers diatur UU Pers (Nomor 40/1999) sedangkan medsos diatur UU ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik, No 11/2008),” jawab yang lain lagi. 

Tauhid mengamini jawaban-jawaban tersebut. Menurutnya, jawaban yang disampaikan para mahasiswa itu tidak ada yang salah. Semua benar. Meskipun sama-sama memiliki konten berupa informasi, antara pers dan medsos memiliki perbedaan. “Informasi yang diproduksi oleh pers memiliki standar jurnalistik yang ketat dan baku. Sedangkan medsos tidak,” tandasnya.

Karena itulah, lanjut dia, produksi informasi di pers harus dilakukan oleh seorang profesional. Yakni, orang yang memang bekerja di bidangnya, yaitu wartawan atau jurnalis. Sementara di medsos bisa dilakukan oleh siapa saja.

Dari sini, lantas Tauhid menerangkan tentang UU Pers dan kode etik jurnalistik (KEJ) sebagai pedoman baku setiap wartawan di Indonesia dalam menjalankan profesinya.

Dia menyebutkan, pers hadir untuk menjamin terpenuhinya hak individu untuk mendapatkan informasi. Karena itu pers harus merdeka. “Tapi, kemerdekaan itu harus diatur agar tidak disalahgunakan. Makanya hadir UU Pers dan kode etik jurnalistik,” terangnya.

Tauhid juga sempat menerangkan tentang produk-produk tulisan dalam surat kabar. Termasuk cara mencari atau reportasenya. Mulai dari hard news, soft news, hingga depth news. Perkuliahan yang dimulai sekitar pukul 18.30 itu berakhir dua jam kemudian. (syi)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia