Kamis, 04 Jun 2020
radarkediri
Home > Catatan
icon featured
Catatan
ANWAR BAHAR BASALAMAH

Menjadi Lebih Dewasa

16 Maret 2020, 18: 13: 42 WIB | editor : Adi Nugroho

Anwar Bahar Basalamah

Oleh : Anwar Bahar Basalamah (radarkediri)

Share this          

Apa ukuran seseorang dikatakan dewasa? Jika mengacu pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), maknanya menjadi bukan kanak-kanak atau akil balig. Jika demikian, sudut pandangnya adalah umur. Itu berarti, orang dewasa kira-kira berumur di atas 18 tahun.

Namun, menyikapi kedewasaan tidak semudah itu memandangnya. Lebih rumit. Apalagi menyangkut tentang karakter pribadi. Maka, sebenarnya usia tidak lagi menjadi jaminan untuk mengukur apakah seseorang sudah dewasa atau belum.

Karena ada, orang berumur lebih dari 20 tahun, bersikap seperti anak-anak. Layaknya seorang anak, mereka masih sulit membedakan mana yang boleh dilakukan dan tidak. Setelah makan permen, semestinya bungkusnya dibuang di tempat sampah. Nyatanya, tidak semua orang dewasa melakukan itu.

Sebaliknya, anak-anak yang usianya belum genap 15 tahun bisa bersikap lebih dewasa. Mereka bukan saja memahami aturan. Tetapi juga matang dalam bersikap. Untuk orang-orang seperti ini, jumlahnya memang segelintir di dunia. Karena kedewasaan membutuhkan proses yang panjang.

Dalam sepak bola, berlaku idiom yang sama. Khususnya mereka yang selalu jadi sorotan: penonton dan pemain. Tanpa kematangan berpikir dan bertindak, mustahil untuk menciptakan olahraga yang mengagungkan fair play itu.

Dari barisan penonton, perubahan-perubahan berperilaku saat memberikan dukungan memang wajib diubah. Dulu, orang berpandangan, pertandingan sepak bola tidak ubahnya seperti peperangan antar-pasukan yang menyeramkan.

Sebab, tidak semua penonton mau bersikap dewasa. Mereka hanya mau menerima kemenangan. Ketika tim kesayangan mereka kalah, tindakan anarkitis yang ditunjukkan. Atau gesekan bisa saja terjadi ketika militansi kebablasan mengalahkan logika.

Suporter adalah unsur penting dalam olahraga paling populer sejagat itu. Kehadiran mereka ke stadion dalam jumlah ribuan sangat dinantikan sekaligus dikhawatirkan. Makanya, kekhawatiran bentrok itu diantisipasi lewat pengamanan kepolisian dan tentara yang berlapis-lapis.

Di luar soal bentrok, ketertiban saat masuk stadion juga termasuk dalam sikap dewasa. Kita memang terbiasa dengan budaya berdesak-desakan. Selalu ingin berada di depan dulu tanpa memperdulikan antrean orang lain. Setelah berada di dalam, cara duduk kadang-kadang kurang menunjukkan betapa tidak dewasanya kita.

Di masa-masa sepak bola Indonesia masih merangkak menjadi industri, pemandangan penonton duduk di atas tembok stadion sangat jamak ditemukan. Dari tribun, mereka memanjatnya. Ada pula yang nekat dari luar stadion.Kini, sebenarnya suporter jauh lebih dewasa. Mereka mulai meninggalkan cara-cara yang dianggap kekanak-kanakan. Walau belum sempurna, tapi perubahan itu sudah tampak di permukaan. Di Liga 1, kita sudah jarang menemukan suporter naik ke tembok atau tower untuk menyaksikan pertandingan.

Penjualan tiket sekarang juga dilakukan secara online. Sehingga antrean yang mengular tidak terjadi lagi seperti dulu. Dan yang penting, suporter mau meninggalkan tindakan barbar. Karena hal tersebut yang belum hilang dari olahraga ini.

Di lapangan, pemain juga selalu ingin menunjukkan sikap dewasa. Caranya beragam. Bagi pemain, sama halnya dengan suporter, mereka harus tahu mengambil  sikap dalam menerima kekalahan dan merayakan kemenangan.

Baru-baru ini, netizen sepak bola Eropa tengah mencemooh cara pemain Paris Saint Germain (PSG) merayakan kemenangan atas Borussia Dortmund. Kemenangan 2-0 memang mengantarkan PSG melenggang ke babak perempat final Liga Champions.

Namun, bukan berita kemenangannya yang menjadi heboh. Tetapi, sikap pemain PSG yang rata-rata berumur di atas 20 tahun itu dinilai tidak dewasa. Di dalam foto yang viral di media sosial (medsos), setelah pertandingan, mereka melakukan selebrasi dengan menirukan gaya Erling Haaland.

Haaland adalah striker Dortmund yang mencetak dua gol ke gawang PSG di leg pertama. Selama ini, penyerang belia 19 tahun itu dikenal dengan selebrasi duduk bersila seperti orang bermeditasi. Cara para penggawa PSG tersebut dianggap merendahkan lawannya.

Begitulah pemain bola ketika mereka berada di lapangan. Terkadang, kematangan bertindak terlupakan ketika rivalitas meracuni hati dan pikiran. Pun bagaimana menghormati pemain yang timnya dikalahkan juga kerap luput dari perhatian.

Namun, di luar yang sedang heboh itu, banyak pemain bola menunjukkan kedewasaan di lapangan. Merekalah yang patut dicontoh. Buat para penggemarnya, juga untuk orang-orang yang tidak menggilai sepak bola.

Kita ambil contoh sikap Miroslave Klose yang mengakui bola menyentuh tangannya sebelum meluncur ke gawang Napoli. Padahal, wasit sebenarnya mengesahkan gol tersebut. Akhirnya, wasit menganulir gol dari bomber Jerman itu.

Setelah kejujuran tersebut, Klose yang saat itu bermain untuk Lazio di Serie A musim 2011/2012 mendapat apresiasi dari lawannya. Bahkan, dia mendapat ganjaran penghargaan fair play dari federasi sepak bola Jerman (DFB) atas sikapnya tersebut.

Soal pengakuan itu, Klose punya alasan. “Wasit bertanya kepada saya apa bola menyentuh tangan. Saya mengakui itu. Bagi saya, hal itu merupakan sesuatu yang pernah terjadi sebelumnya. Ada banyak remaja duduk di depan televisi dan kami harus memberikan contoh yang baik,” kata Klose seperti dilansir The Panzer.

Begitu seharusnya sikap seorang dewasa yang sesungguhnya. Menjauhkan kepentingan pribadi demi kepentingan orang banyak. (Penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia