Rabu, 03 Jun 2020
radarkediri
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Harga Telur Naik, Peternak Keluhkan Harga Pakan Mahal

13 Maret 2020, 13: 10: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

ayam petelur

HARUS TELATEN: Joko Susanto memeriksa kondisi ayam petelurnya di kandang peternakan Desa Silir, Kecamatan Wates, kemarin. (Samsul Abidin - radarkediri)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Meski sempat mengalami fluktuasi, harga telur ayam di pasaran masih cukup tinggi hingga kemarin (12/3). Penyebab melonjaknya harga komoditas ini diduga kuat karena harga pakan ternak yang mahal. Selain itu, terimbas pelarangan penggunaan komponen antibiotik growth promoters (AGP) dalam pakan. Faktor cuaca pun berpengaruh.

“Harga telur ayam itu berubah-ubah. Setiap hari ada up date harganya Mas,” terang Joko Susanto, peternak ayam petelur di Desa Silir, Kecamatan Wates, kemarin.

Berdasarkan yang didapatkan koran ini, kenaikan harga telur terjadi secara bertahap. Mulai dari Rp 200 sampai Rp 500 per kilogram (kg)-nya. Kondisi ini sudah terjadi sejak seminggu terakhir.

Hingga saat ini, di pasar tradisional harga telur ayam per kilogramnya mencapai Rp 24.500. “Kalau di tingkat peternak itu kemarin paling tinggi Rp 22.500, hari ini (12/3) harganya Rp 21.400 – Rp 21.500,” papar Joko.

Peternak laki-laki berusia 53 tahun ini mengatakan, harga telur ayam ini merupakan efek dari mahalnya pakan yang harus dibeli oleh para peternak ayam petelur. Pakan ternak tersebut merupakan campuran dari jagung, katul, dan konsentrat.

Saat ini harga jagung Rp 4.400 per kg dari para petani. Ketika sudah digiling menjadi sekitar Rp 4.600 per kg. Untuk sentrat dari pabrik per sak nya sudah Rp 360 ribu. Namun, jika buat sendiri Rp 310 ribu per sak. Sedangkan katul per kilogramnya Rp 6 ribu.

“Jadi wajar kalau harga di telur di pasaran segitu, karena pakan itu sudah mahal dan pemerintah juga sudah melarang komponen AGP dalam pakan ternak digunakan untuk unggas,” jelas Joko.

Untuk menyiasati harga pakan mahal, Joko membuat perbandingan sendiri pakan yang diberikan kepada 12 ribu ayam petelurnya. Yakni 70 persen dari pakan yang dibuat sendiri dan 30 persen dari pakan yang ia beli.

Antibiotik growth promoters (AGP) sebenarnya bagus untuk daya tahan ayam petelur. Namun dilarang penggunaannya sejak 1 Januari 2018. Akibatnya, angka kematian ayam lebih banyak. Peternak harus pintar-pintar mencari jalan keluar mengatasi hal tersebut, salah satunya dengan penggunaan ramuan.

Dampak dari penggunaan AGP, menurut Joko, sudah dijelaskan oleh pemerintah, akan berdampak buruk kepada manusia yang mengonsumsinya.

Ketika AGP dilarang, peternakan produksinya tidak bagus. Ini karena kekebalan tubuh ayam tidak begitu bagus. Apalagi cuaca juga berpengaruh, produksinya bisa turun. Hujan yang terus-menerus juga berpengaruh.

Untuk itu Joko menggunakan EM-4 yang difermentasi selama 15 hari dan dicampur dengan ramuan empon-empon untuk meningkatkan daya tahan tubuh. “Diberikan dua kali dalam seminggu,” katanya.

Menurutnya, tidak semua minuman harus dibeli di toko. Tetapi bisa meracik sendiri. Selain itu, saat ini kandangnya dalam sehari bisa menghasilkan 8.000 butir. Untuk harga mengikuti perekmbangan dari Blitar. Biasanya di-up date pukul 12.00 WIB karena harga di Blitar dan Kediri hampir sama.

“Kalau untuk sekarang stok di kandang aman,” ungkap Joko. Telur itu mampu tertahan selama 2-3 hari maksimal, sudah ada yang mengambil dari para pelanggannya.

Tak jauh berbeda dengan Joko, Asrori, 43, peternak di Desa Ngreco, Kecamatan Kandat mengamini hal tersebut. Menurutnya, pakan yang tinggi menjadi penyebab harga telur ayam saat ini mahal.

“Iklim itu juga berpengaruh, tapi pakan itu yang paling berpengaruh,” tuturnya. Asrori juga menambahkan, saat ini ayam sulit untuk cepat tumbuh besar. Biasanya ayam usia 5 bulan sudah bisa bertelur. Tetapi sekarang 5 bulan lebih sampai 6 bulan baru bisa bertelur.

Disinggung mengenai dampak pelarangan AGP, menurutnya, memang berdampak dan dikeluhkan oleh para peternak. Untuk menyiasati hal tersebut, Asrori menggunakan vitamin yang digunakan sebagai penunjang saja. “Beternak ayam petelur itu sulit,” pungkasnya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia