Rabu, 03 Jun 2020
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Harga Bawang Bombai Naik, Pedagang Enggan Jualan

11 Maret 2020, 11: 19: 44 WIB | editor : Adi Nugroho

Pasar

LANGKA: Pedagang Pasar Wage hanya menjual bawang putih selama tiga minggu terakhir. Stok bawang bombai mereka kosong. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK, JP Radar Nganjuk-Merebaknya virus korona membuat harga bawang bombai ikut meroket. Kenaikan harga terjadi setelah stok di pasaran menipis akibat sulitnya impor komoditas tersebut. Pedagang yang enggan berspekulasi dan takut rugi memilih untuk tidak menjual barang yang pangsa pasarnya juga sempit itu.

Data yang dihimpun koran ini menyebutkan, harga bawang bombai biasanya berkisar antara Rp 30 ribu hingga Rp 35 ribu per kilogram. Tetapi, sejak Februari lalu harganya meroket menjadi Rp 60 ribu per kilogram. “Sekarang harganya sudah Rp 90 ribu sampai Rp 100 ribu per kilogram,” ujar Tini, 63, pedagang sayur di Pasar Wage.

Lebih jauh Tini mengungkapkan, naiknya harga bawang bombai bersamaan dengan merebaknya virus korona. Tidak hanya harganya yang melonjak tinggi, stok bawang bombai di pasaran juga seolah menghilang.

Sejak kenaikan harga bawang bombai yang drastis, Tini dan beberapa pedagang memilih untuk tidak menjualnya. Alasannya, modal yang dibutuhkan untuk kulakan bawang bombai lumayan besar. “Kalau nanti tidak laku, bagaimana?” lanjutnya dengan nada tanya, tidak mau berspekulasi.

Dikatakan Tini, sebelum harganya melonjak, dia selalu berjualan bawang bombai. Biasanya, dia kulakan hingga 50 kilogram atau 0,5 kuintal. Tetapi, sejak awal Maret lalu dia memilih untuk tidak lagi kulakan. Sebab, dia takut dagangannya itu tidak laku dan merugi. “Barangnya juga sulit,” tandasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, virus korona juga membuat sejumlah empon-empon menghilang dan harganya melonjak drastis. Bedanya, harga empon-empon seperti jahe merah ini naik karena diburu masyarakat. Jahe merah dipercaya bisa menangkal virus korona.

Demikian pula temu lawak yang juga banyak dicari. Harga temu lawak yang sebelumnya hanya Rp 5 ribu per kilogram kini menjadi Rp 10 ribu per kilogram. “Saya masih punya stok temu lawak,” tutur Tini sembari menunjuk empon-empon di keranjang.

Terpisah, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Nganjuk Heni Rochtanti mengatakan, kenaikan harga empon-empon dan bawang bombai itu sudah menjadi hukum pasar. “Ketika permintaan tinggi dan stok terbatas pasti harganya akan naik,” ungkap Heni.

Disperindag, lanjut Heni, akan menurunkan tim ke lapangan untuk melakukan pengecekan. Di antaranya untuk mengetahui apakah kenaikan empon-empon dan sejumlah komoditas itu berdampak pada kenaikan harga sembako atau tidak. “Tim akan turun ke lapangan,” terangnya.

Heni berharap kenaikan harga rempah-rempah ini tidak dimanfaatkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Yakni, dengan melakukan penimbunan agar bisa mengeruk keuntungan yang besar. “Kami mengimbau masyarakat tidak perlu panik. Tetapi kita tetap harus waspada dan melakukan antisipasi (terkait virus korona, Red),” beber Heni.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia