Rabu, 03 Jun 2020
radarkediri
Home > Ekonomi
icon featured
Ekonomi

Harga Cabai Mahal, Binatang Ini yang Jadi Sebab

09 Maret 2020, 20: 47: 46 WIB | editor : Adi Nugroho

cabai mahal

TERJUAL: Haikal, pedagang di Pasar Grosir Ngronggo, membungkus cabai yang sudah dipesan konsumen, kemarin.   (Habibah Anisa - radarkediri)

Share this          

KOTA, JP Radar Kediri – Sudah tiga hari ini harga cabai rawit kembali ‘pedas’. Mulai merangkak naik. Akibat dari berkurangnya pasokan dari petani ke pedagang. Dan, ternyata, itu disebabkan oleh ulah si lalat buah.

Mengapa serangga dengan nama latin bactrocera itu jadi tertuduh kenaikan harga cabai? Karena ulah serangga itu yang membuat banyak cabai membusuk buahnya. Repotnya, busuknya cabai itu baru diketahui setelah beberapa hari dipanen. Buah yang busuk itu tentu saja tak bisa dijual ke konsumen. Mengakibatkan stok berkurang dan harga pun terkerek naik.

“Hasil panen turun. Banyak yang mengalami busuk buah,” aku Kemi, pedagang di Pasar Grosir Sayur dan Buah Ngronggo, di sela-sela aktivitasnya melayani pembeli, kemarin.

Pedagang ini menambahkan, para petani biasanya bisa menghasilkan satu ton cabai dari lahan sekitar satu hektare. Namun, kali ini hanya bisa 80 kuintal saja. Penurunan ini yang disebabkan karena buah cabai banyak yang terserang lalat buah.

Berapa tinggi kenaikan harga itu saat ini? Kemi menerangkan, sebelumnya dia menjual cabai rawit Rp 20 ribu per kilogram. Kini sudah berselisih Rp 4 ribu lebih mahal per kilogramnya.

“Terakhir saya membeli dari petani harganya sudah Rp 21 ribu hingga Rp 22 ribu (per kilogram),” akunya menyebut selisih harga kulakan yang dia dapat.

Itupun, aku Kemi, dia tak bisa mendapatkan dalam  jumlah banyak. Suplai dari petani berkurang dalam beberapa waktu terakhir. Kemarin misalnya, dia mengatakan hanya mampu kulakan cabai rawit sebanyak satu kuintal saja. Padahal, bila normal dia mampu menjual empat kuintal cabai dalam satu hari.

“Ini tadi sebagian sudah dibeli. Tinggal satu kresek isi 29 kilogram,” terang Kemi sembari menunjuk tumpukan cabai rawit di lapaknya.

Sementara itu, berbeda dengan cabai rawit, cabai merah besar justru mengalami penurunan harga. Penurunan itu berkisar Rp 3 ribu per kilogram.

“Mulai hari ini (kemarin, Red) cabai besar dijual dengan harga Rp 37 ribu per kilogram,” kata Haikal, pedagang di pasar yang sama.

Soal kenaikan harga cabai rawit itu dibenarkan oleh Kepala Bidang Perdagangan Disperindag Kota Kediri Anik Sumartini. Namun, menurut Anik, kenaikan harga itu tidak begitu signifikan.

Dia mengakui bila pasokan cabai memang menurun dalam beberapa hari terakhir. Tapi tak berpengaruh pada pemenuhan kebutuhan pasar. “Kalau stok caba tetap ada tiap harinya. Cuma jumlahnya berkurang,” aku Anik.

Berkurangnya suplai cabai itu, diakui Anik, karena faktor berkurangnya hasil panen. Karena banyak yang busuk. Bahkan, yang ironis, pembusukan itu tak hanya terjadi di pohon saat panen saja. Namun, juga terjadi saat dalam pengiriman.

“Cabai yang tampak dari luar segar tapi setelah dibelah ternyata ada air dan hamanya,” terangnya.

Untuk diketahui, lalat buah yang sering membuat cemas petani ini kerap menyerang tanaman holtikultura. Seperti semangka, timun, belimbing, jambu biji, jeruk, mangga, pepaya, tomat, dan cabai. Menurut Plt Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dispertabun) Kabupaten Kediri Anang Widodo, melalui Kasi Perbenihan dan Perlindungan Tanaman Holtikultura Arahayu Setyo Adi, larva yang berkembang di dalam buah yang menjadi penyebabnya.

“Yang menjadi hama adalah set (belatung atau larva dari lalat buah, Red)-nya. Terjadi ketika lalat buah menempel di cabai dan bertelur di situ,” terang Adi.

Telur lalat tersebut kemudian menetas di dalam cabai. Efeknya, buah yang diserang akan rontok karena busuk. Untuk melihat gejalanya, cabai dibelah. Saat itulah akan terlihat di dalam banyak setnya.

Lalu bagaimana cara mengatasi lalat buah? “Disemprot dengan insektisida. Yang dapat dilakukan dengan pengendalian ini adalah lalat dewasanya,” ungkap Adi.

Tersengat, Dimasuki Telur, akhirnya Membusuk

1.     Awal serangan, ada lubang kecil di kulit buah. Lubang itu bekas tusukan ovipositor atau alat peletak telur dari lalat buah.

2.     Ketika telur menetas akan menjadi larva. Larva ini berkembang di dalam daging buah cabai dan memakan buah tersebut. Hal itu akan membuat buah busuk lebih cepat.

3.     Setelah proses ini lubang yang tadinya kecil akan meluas dengan cepat. Ketika buah dibelah akan terlihat belatung kecil ukuran 4 – 10 mm.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia