Rabu, 08 Jul 2020
radarkediri
Home > Catatan
icon featured
Catatan

Mengejar Kemenangan

08 Maret 2020, 15: 27: 19 WIB | editor : Adi Nugroho

Mengejar Kemenangan

Share this          

Ini bukan tentang Maulidia Octavia. Yang bagi publik Indonesia lebih dikenal nama panggungnya: Via Vallen. Tapi tentang pendahulunya. Yang album keduanya keluar pada tahun ketika Maulidia –yang dari namanya mudah ditebak: lahir pada bulan Oktober—dilahirkan.

1991 adalah tahun ketika Maulidia, eh Via, menghirup pertama kalinya udara di bumi. Itu adalah tahun ketika album kedua sang senior meledak di pasaran dan hits-nya melambungkan namanya. Vety Vera.

Via Vallen. Vety Vera. Entah kebetulan entah tidak, senior dan junior itu punya nama panggung yang huruf depannya sama: V and V. V is Via and V is Vety. V is Vallen and V is Vera.

V. Huruf yang dalam bahasa Inggris cukup keramat karena sering diasosiasikan dengan Victory. Kemenangan. Maka, jika dua jari: telunjuk dan tengah, diacungkan bersamaan, itu bukan semata simbol dari jargon keluarga berencana yang digaungkan pemerintahan Orde Baru. Akan tetapi, simbol kemenangan. Suporter bola atau suporter apa pun biasa menggunakan simbol tersebut. Dan, itu bukan berarti mereka ingin mengatakan dua anak cukup.

Mengacungkan dua jari itu: telunjuk dan tengah, bisa disertai luapan kegembiraan dan kebanggaan. Sangat emosional. Sekalipun kemenangan itu belum diraih dan berada dalam genggaman tangan. So, simbol V dalam konteks demikian bisa berarti harapan. Harapan akan kemenangan.

Lalu, siapa yang tak mengharapkan kemenangan? Rasanya, tak ada yang demikian. Semua pasti menginginkan. Sebab, kemenangan adalah bagian dari tujuan dalam hidup. Bukankan dalam adzan –yang menjadi seruan salat bagi umat Islam, salah satu kalimatnya adalah hayya ‘ala al falaah? Marilah menuju kemenangan.

Lantas, kemenangan seperti apakah yang dimaksud dalam seruan itu? Ini pertanyaan besar yang membutuhkan jawaban lebih panjang dan mendalam lagi. Sebab, tentu saja, kemenangan yang dimaksud bukanlah kemenangan ‘kaleng-kaleng’ seperti banyak kita harap di dunia ini.

V for Via. 2017. Lagu ‘Sayang’ yang dinyanyikannya meledak dan melambungkan namanya. Berisi lirik tentang jeritan hati kepada sang kekasih pujaan. Mbok hingga memutih rambut, mbok hingga menangis sampai keluar eluh getih putih, sang kekasih akan tetap dicintai dan diharapkan untuk kembali.

Mellow. Menyayat hati jika kita hanya menyimak liriknya. Akan tetapi, kepedihan itu ternyata dinyanyikan secara suka ria. Dengan musik yang nge-beat pula. Kemenangan, bagi Via, barangkali adalah perayaan kepedihan hati itu. Sesedih apa pun, sepedih apa pun, bahkan hingga nangis getih putih, hidup tetaplah harus berjalan.

V for Vety. 1991. Lagu ‘Sedang-Sedang Saja’ yang dibawakannya meledak dan melambungkan namanya. Berisi lirik tentang pesan untuk menyikapi segala sesuatu dalam hidup ini dengan jangan serba-terlalu. Yang biasa-biasa saja. Yang sedang-sedang saja. Sebab, yang serba-terlalu akan bikin sakit kepala.

Itu adalah nasihat untuk menjauhi ekstremitas. Karena ekstremitas pasti akan melahirkan ekstremitas yang lain. Seperti bandul. Ketika ditarik terlalu ke kiri, pasti dia akan melenting terlalu ke kanan. Dan dia tidak akan berhenti sampai kemudian sampai pada titik keseimbangannya: di tengah.

Lalu, kenapa ekstremitas muncul? Ya karena sikap yang serba-terlalu itu. Terlalu cinta. Terlalu benci. Terlalu atas. Terlalu bawah. Terlalu kanan. Terlalu kiri. Dan yang terlalu-terlalu itu, bagi Vety, bukanlah kemenangan. Sebab, hanya akan membuat sakit kepala. Kemenangan, bagi Vety, adalah yang ‘tengah-tengah saja’. Tidak bikin pusing kepala.

Khairul umur ausathuha. Sebaik-baik perkara adalah yang tengah-tengah. Itu hadis mauquf. Bahkan, Nabi dan para sahabat pun menyampaikan demikian. Termasuk dalam beragama. Bagi para sufi, sikap berlebihan dalam beragama kadang justru patut dicurigai: jangan-jangan ada nafsu di baliknya. Nafsu ingin dianggap saleh oleh orang lain. Nafsu untuk menganggap bahwa dirinyalah yang paling benar. Tidak ada kebenaran lain selain dirinya. So, tidak ada kemenangan apa pun dalam cara beragama demikian. Kecuali hanya kemenangan hawa nafsunya.

Soal kemenangan. Dalam kontestasi apa pun, itu adalah harapan yang ingin dicapai. Apalagi dalam kontestasi politik seperti hari-hari ini. Dan, untuk mencapai kemenangan itu, banyak di antara kita yang jatuh pada sikap serba-terlalu. Inilah yang perlu diwaspadai. Apalagi bagi kita yang maqam-nya hanya kelas pendukung. Pemandu sorak. Sebab, jangan-jangan, kemenangan yang diraih nanti hanyalah kemenangan hawa nafsu kekuasaan. Dan, justru menjadi kekalahan dalam hal kemanusiaan. Kebangkrutan dalam hal demokrasi. Sebuah kemenangan yang kaleng-kaleng. (Penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/jpr/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia