Rabu, 01 Apr 2020
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Zaenuri, Menjaga Situs Calonarang dari Aksi Vandalisme

Bentuk Panitia untuk Cegah Perusakan Lagi

29 Februari 2020, 15: 10: 57 WIB | editor : Adi Nugroho

calonarang

TUGAS: Zaenuri memeriksa artefak-artefak yang disimpan di Situs Calonarang. (Rendi Mahendra - radarkediri)

Share this          

Beberapa tahun silam, situs di tengah kebun tebu ini sering jadi sasaran perusakan. Beberapa orang sampai merusak dan memecah beberapa artefak. Coretan-coretan di lantai situs juga sering muncul.

RENDI MAHENDRA, Kabupaten, JP Radar Kediri

Siang kemarin, Muhammad Zaenuri masih bersongkok, bersarung, dan berbaju batik. Usai mengikuti salat Jumat di masjid Desa Sukorejo, Kecamatan Gurah, dia langsung menuju tempat kerjanya. Tanpa sempat pulang ke rumah untuk sekadar berganti pakaian.

Lelaki 64 tahun itu kemudian berkeliling di sekitar lokasi kerjanya. Di tengah-tengah lahan tebu yang ada di Dusun Butuh, Desa Sukorejo, Kecamatan Gurah. Beberapa kali dia melewati perkakas pertukangan yang berserakan. Milik beberapa pekerja yang tengah mendirikan atap di sekitar situs Calonarang, tempatnya mengabdikan diri selama ini.

“Kalau yang sedang dibangun ini sumbangan dari donatur, pengunjung dari Bali,” ucap Zaenuri, sembari menunjuk atap dari galvalum yang tengah dikerjakan oleh enam orang pekerja.

Zaenuri sendiri adalah juru pelaksana (jupel) di Situs Calonarang tersebut. Sebagai jupel, pegawai honorer Dinas Pariwisata dan Budaya Kabupaten Kediri ini bertugas menjaga situs. Juga merawatnya.

Zaenuri, yang rumahnya tak jauh dari lokasi situs, pengunjung terbanyak memang berasal dari Bali. Biasanya mereka berniat ziarah ke situs tersebut. Kebetulan legenda Calonarang yang mereka percaya terkait erat dengan legenda di situs tersebut. Pengunjung dari Bali itu banyak yang datang pada bulan Suro di penanggalan Jawa. Biasanya mereka berombongan dengan menyewa bus.

Dalam legenda, Calonarang adalah wanita yang hidup di abad 12. Janda yang memiliki ilmu hitam. Yang sering merusak panen warga dan menyebarkan penyakit. Hal itu membuat anaknya, Ratna Manggali, tak ada yang berani meminang.

Karena marah, Calonarang menculik anak-anak gadis. Dan mengorbankannya pada Betari Durga. Untuk melawan itu Raja Erlangga memerintahkan Mpu Baradah melawan. Cara Mpu Baradah melawan adalah dengan menikahkan salah satu muridnya dengan anak Calonarang. Setelah itu, dia mencuri kitab mantra sihir Calonarang sebelum mengalahkannya.

Namun, hingga saat ini belum ada data arkeologis yang mengaitkan Situs Calonarang dengan legenda tersebut. Menurut dosen sejarah di Universitas Nusantara PGRI Kediri, keterkaitan situs dengan legenda hanya kepercayaan masyarakat saja.

“Secara topomini dan mitologi masyarakat mempercayai bahwa situs itu merupakan tempat asal Calonarang,” ungkap Sigit.

Saat ini, Situs Calonarang berisi berbagai artefak. Baik berupa batu umpak (batu penyangga tiang rumah), doorpel (batu ambang pintu), balok, dan beberapa artefak yang belum teridentifikasi. Artefak-artefak itu yang ditemukan oleh warga kemudian dikumpulkan di Situs Calonarang. “Ada artefak baru tapi belum diteliti. Jadi kami kumpulkan di sini,” terang ayah dari tiga orang anak ini.

Keberadaan situs yang terkait erat dengan legenda  Calonarang ini juga menjadi penyebab vandalisme atau perusakan. Itu terjadi pada 2014 hingga 2017. Saat itu sempat terjadi perusakan dan pemecahan artefak. Bahkan, di lantai juga ada tulisan yang mengingatkan bahwa tempat itu bukan tempat pemujaan.

Menurut Zaenuri, perusakan dan aksi vandalisme tersebut dipicu dari jupel sebelumnya. Karena dia mengecor area di sekitar situs. Padahal hal itu sudah dilarang. Karena itu, sejak 2017 Zaenuri yang ditunjuk menjadi jupel.

Zaenuri mengatakan, meskipun berusaha meminimalisasi penyalahgunaan situs untuk hal-hal yang tak bisa dinalar, masih ada pengunjung yang punya niat mencari keberuntungan. Biasanya mereka adalah orang luar daerah.

Sedangkan untuk menghindari terjadinya perusakan lagi, sebagai jupel Zaenuri bekerjasama dengan pemerintah desa (pemdes). Mereka membentuk panitia penjaga situs Calonarang. Jumlahnya tiga orang dengan Zaenuri sebagai ketua. Bergantian mereka menjaga candi tersebut. “Sejauh ini, itu yang bisa kami upayakan untuk menjaga situs ini, Mas. Karena kalau bekerja sendirian juga tidak mampu,” pungkas Zaenuri.  

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia