Senin, 06 Apr 2020
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Sampah di Kediri: TPA Sekoto Siapkan Sanitary Landfill

24 Februari 2020, 18: 39: 30 WIB | editor : Adi Nugroho

tpa sekoto

MENGGUNUNG: Sampah di TPA Sekoto Kediri. (Didin Saputro - radarkediri)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri - Memperluas tempat pemprosesan akhir (TPA) Sekoto menjadi pilihan satu-satunya saat ini. Sebab, antara volume sampah dan daya tampungnya sudah tak berimbang. Namun, perluasan tersebut juga mempertimbangkan hal lain. Salah satunya dengan menyiapkan sanitary landfill.

Selama ini TPA Sekoto masih menggunakan sistem sederhana dalam pemprosesan sampah. Terutama pengolahan sampah yang digunakan untuk membuat kompos. Yaitu dari sampah serasah atau daun-daunan.

“Kompos itu digunakan untuk perawatan RTH (ruang terbuka hijau, Red) dan diberika ke instansi atau sekolah yang membutuhkan,” terang Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DKLH) Putut Agung Subekti.

tpa klotok

MENUMPUK : Para pemulung mengais sampah di Tempat Pemprosesan Akhir (TPA) Klotok, Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. (Iqbal Syahroni - radarkediri)

Dalam perluasan nanti, Sekoto tak hanya melakukan pemprosesan itu saja. Tapi juga dimaksimalkan dengan sistem sanitary landfill. Yaitu penimbunan sampah yang sudah tak bisa didaur ulang.

Sistem tersebut akan meratakan dan memadatkan sampah setiap hari. Kemudian sampah yang padat akan ditutup dengan lapisan tanah. Agar limbah pencemar udara dan penumpukan sampah terkurangi.

Putut menyebut, ke depan juga akan ada fasilitas penunjang lain seperti jembatan timbang. “Timbangan angkut sampah ini agar truk pengangkut sampah yang masuh TPA nanti bisa diketahui data kapasitas sampah yang dibawa. Sehingga diharapkan data itu bisa lebih akurat setiap hari dan seterusnya,” urainya.

Selain itu juga dilakukan revitalisasi kolam pengolah limbah atau lindi. Sehingga, limbah yang selama ini masih belum tertangani maksimal itu akan bisa teratasi.

Untuk diketahui, data timbulan sampah di Kabupaten Kediri selama ini menjadi perhatian serius pemerintah. Dalam sehari ratusan ton sampah timbul. Dengan 73 ton yang ditampung di TPA Sekoto.

Sementara itu, di Kota Kediri, pengiriman sampah juga terus dilakukan setiap harinya. Bahkan, sampah yang datang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto itu mencapai kurang lebih 130 ton per harinya.

Sampah yang datang kebanyakan sudah tercampur menjadi satu. Sampah organik bercampur dengan sampah non-organik seperti plastik. “Semuanya sudah tercampur, baik dari sayur, hingga plastik,” terang Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) TPA Dinas Lingkungan Hidup, Kebersihan, dan Pertamanan (DLHKP) Kota Kediri Ika Ardianto.

Karena sering bercampur, Ika menjelaskan, sampah semakin susah dipilah ketika sudah sampai di TPA. Petugas yang berjaga, memang ditugasi hanya untuk meratakan sampah yang dibawa dump truk dari TPS. “Sisa sampah yang sudah bercampur, ini nanti juga masih akan dicacah lagi oleh para pemulung yang sudah standby di sekitar lokasi,” imbuhnya.

Untuk mengurangi pencampuran sampah organik dan non-organik, DLHKP Kota Kediri sudah melakukan sosialisasi ke setiap kelurahan dan rumah tangga. Yaitu agar mereka memilah sampah mulai dari rumah.

Ika menjelaskan, selain melakukan sosialisasi di kawasan kelurahan hingga di rumah tangga, pihaknya juga sering mengisi materi pengenalan TPA dan mengajarkan untuk memilah sampah organik dan non-organik bagi kalangan pelajar. “Mulai dari anak-anak TK hingga kuliah, yang izin mau mampir dan belajar bersama pasti juga kami fasilitasi,” ujarnya.

Sementara itu, Kabid Kebersihan dan Pengelolaan Sampah DLHKP Ronni Yusianto menjelaskan sosialisai bebas plastik sudah dimulai sejak dari karyawan DLHKP Kota Kediri. Mereka sudah bebas penggunaan plastik sekali pakai di kantor. “Mulai dari diri sendiri, dan nantinya ke keluarga dan kerabat,” imbuhnya.

Ia menjelaskan, sedikit demi sedikit pengurangan penggunaan plastik juga bakal berdampak. Karena itulah DLHKP juga berupaya mencontohkan kepada masyarakat melalui aksi gerakan yang mereka lakukan sendiri. “Mengajak tidak hanya sekadar lewat ucapan. Namun juga lewat aksi dari diri sendiri sebagai contoh,” pungkasnya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia