Jumat, 03 Apr 2020
radarkediri
Home > Kolom
icon featured
Kolom
PUSPITORINI DIAN

  Tut..Tut..Tut

23 Februari 2020, 17: 34: 05 WIB | editor : Adi Nugroho

Puspitorini Dian Hartanti

Oleh : Puspitorini Dian Hartanti (radarkediri)

Share this          

Kereta api adalah alat transportasi paling favorit bagi saya. Mengenal transportasi ini pun sejak kecil. Bahkan, saking percayanya dengan kereta api, orang tua sudah membebaskan saya pergi sendirian ke luar kota dengan naik kereta api sejak usia 9 tahun.

Dulu, saat masih kecil, kota yang paling sering dikunjungi adalah Kota Malang. Ketika itu, saat naik kereta, memang harus bersiap-siap adu kecepatan. Sebab, siapa cepat, dia yang dapat duduk. Berjejalan sudah menjadi hal biasa. Berdiri sambil berpegangan di tempat duduk sudah sering dilakukan.

Kalau lelah, kelesotan di lantai. Dan tentu saja..bersiap-siap berdiri sewaktu-waktu kalau ada pedagang lewat. Saking banyaknya yang jualan dan tidak dibatasi, terkadang lebih nyaman berdiri daripada duduk di lantai. Dan yang paling terasa adalah, molor berjam-jam sudah menjadi hal biasa dan dimaklumi.

Begitulah ‘seni’-nya naik kereta waktu dulu. Memberi pengalaman tak terlupakan. Berjalannya waktu, kereta api semakin menjadi favorit saya. Transportasi ini pun menjadi pilihan utama saat sudah kuliah di Jogjakarta. Apalagi saat mudik. Rela harus bangun lebih awal mengejar jadwal dan berpindah tempat di Kertosono untuk mendapatkan jalur cepat.

Saking seringnya pula naik kereta ini, nyaris semua kelas sudah dijajal. Mulai ekonomi, bisnis hingga eksekutif. Beragam jenis kereta pun juga pernah merasakan. Seperti saat berada di ibu kota, sulit rasanya tidak menjajal semua jenis kereta. Mulai kereta listrik, MRT, sky train, hingga kereta bandara.

Merasakan itu semua, membuat saya merasakan transformasi alat transportasi yang satu ini. Seperti di kelas ekonomi, tak ada lagi penjual makanan favorit lalu-lalang di gerbong. Duduk pun nyaman dengan AC. Belum lagi tempat colokan charger di setiap  kursi. Kenyamanan yang dulu hanya bisa didapatkan di kelas eksekutif. Dan tentu saja, on time. Naik kereta saat ini pun tak berani lagi sengaja datang terlambat karena keberangkatan yang selalu tepat waktu.

Bergeser di kereta listrik. Kenyamanannya mungkin banyak dirasakan mereka yang tinggal di Jabodetabek. Datang hampir 5 menit sekali dengan tarif 3 ribu untuk jarak terdekat, membuat KRL menjadi pilihan para pekerja. Berada di dalamnya pun nyaman. Meski harus berdesakan saat tiba waktunya pekerja pulang. Bahkan, bagi para perempuan disediakan satu gerbong khusus. Kian terasa aman dengan banyaknya petugas keamanan yang lalu-lalang.

Kecanggihan teknologi pun kian dirasakan saat menjajal naik MRT, sky train di bandara Soekarno-Hatta, hingga kereta bandara. Ketiga kereta ini memang menonjolkan teknologi dan kenyamanan. Seperti kereta bandara, yang diberikan kenyamanan maksimal di setiap penghentiannya.

Dari stasiun yang berada di Bandara Soekarno Hatta, pembelian tiket pun dilakukan tanpa petugas loket dan dilakukan mandiri dengan alat khusus. Petugas pun berdandan sangat cantik dan keren seperti laiknya pramugari.

Kereta yang datang tepat waktu, tempat menunggu yang sangat nyaman memberikan nilai plus. Di kereta pun terasa seperti naik kelas eksekutif dengan sejumlah fasilitasnya. Bagi seorang pecinta kereta api, kenyamanan ini sungguh sangat menyenangkan. Semua kenyamanan itu memang harus sudah ada mengikuti perkembangan zaman dan persaingan.

Kini, sebuah transformasi lain akan dihadapi masyarakat Kediri dan sekitarnya. Sebuah keberuntungan karena tak semua daerah bisa memiliki bandar udara. Tak bisa dipungkiri, keberadaan bandara ini akan membuat perubahan besar khususnya di bidang perekonomian. Khususnya di wilayah barat sungai yang sebelumnya hanya menjadi daerah kering dan sulit untuk pertanian. Tak hanya sektor ekonomi, tetapi juga banyak sektor lainnya. Mulai pariwisata hingga usaha mikro.

Mau tidak mau, masyarakat Kediri pun harus siap.  Keberadaan bandara memang akan membuat perubahan wajah tiga kecamatan di wilayah barat sungai itu. Tarokan, Banyakan dan Grogol akan menjadi ‘kota’ baru. Jangan lupa, di setiap kota akan banyak masalah yang mengikutinya. Seperti lalu lintas, kriminalitas, sampah, pedagang kaki lima dan masalah lainnya.

Satu yang tidak boleh lupa, di setiap pembangunan, selalu ada pengorbanan. Bagi warga yang telah sukarela melepas lahan memang patut diapresiasi. Semoga biaya pembelian lahan memang menjadi ganti untung, dan bukanlah ganti rugi. PR besar lainnya adalah fasilitas pelengkap keberadaan bandara. Seperti penyelesaian jalan tol, pelebaran jalan menuju wilayah bandara serta kebutuhan pendukung lainnya. Memang ‘jalan’ yang ditempuh untuk memiliki bandara ini masih panjang.

Pemerintah pun harus bijak dalam menyikapi perubahan ini. Baik pusat maupun daerah. Jangan sampai perubahan dan transformasi ini tidak berjalan mulus. Mencontohlah pada pengelolaan kereta api, yang transformasi perubahannya berujung pada kenyamanan. Semoga mampu mengangkat keberadaan Kediri menjadi daerah yang kian diperhitungkan. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia