Jumat, 03 Apr 2020
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Pengelolaan Sampah ala KSM Wates Bersinar   

Ubah Tak Berguna Jadi Berkah

21 Februari 2020, 18: 39: 09 WIB | editor : Adi Nugroho

sampah

TELATEN: Petugas TPS 3R KSM Wates bersinar sedang mengolah sampah menjadi kompos di Desa/Kecamatan Wates.   (Habibah Anisa - radarkediri)

Share this          

Kepedulian warga Desa/Kecamatan Wates terhadap sampah sangat besar. Dulu pengolahan sekadar dikumpulkan dan dibakar. Sekarang prosesnya sudah reduce, reuse, dan recyle (3R). Bahkan, mampu mengolah menjadi pupuk organik.

HABIBAH A. MUKTIARA, KABUPATEN, JP Radar Kediri

Siang itu, di depan gerbang tempat pengolahan sampah (TPS) 3R Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Wates Bersinar di Desa/Kecamatan Wates tidak terlihat kegiatan. Namun setelah memasuki pagar besi bercat hitam, barulah terlihat sekelompok laki-laki tengah beraktivitas.

Mereka memakai helm kuning dan bersepatu boots hitam. Para pria itu tampak sibuk dengan kegiatan masing-masing. Sebagian memilah sampah. Ada pula yang mengayak kompos menggunakan alat pengayak bermesin diesel.

“Kompos organik ini terbuat dari sampah organik warga, seperti sayur-sayuran.” terang Candra Surya, 29, salah satu petugas pengolah sampah di TPS 3R KSM Wates Bersinar.

Tak hanya pengayak kompos, namun juga mesin–mesin lain. Selain peralatan pembuat kompos juga terdapat mesin pencacah kompos. Tidak hanya itu, terdapat mesin pres yang merupakan sumbangan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kediri.

Sebelum memiliki mesin pres, KSM ini masih menggunakan metode manual. Untuk menjadikan satu sampah, mereka menginjaknya menggunakan kaki. Operasional TPS 3R KSM Wates Bersinar dimulai tiga tahun lalu, tepatnya 2017. Semula masalah sampah di Desa/Kecamatan Wates menjadi masalah serius.

Hal ini dikarenakan kurangnya tingkat kepedulian masyarakat terhadap pengolahan sampah. Mereka masih menganggap sampah hanya perlu dibuang. “Pada saat itu pengolahan sampah masih berupa pengumpulan dan pembakaran,” ungkap Arfan Yulizar, Ketua KSM Wates Bersinar.

Di mana awal proses pengumpulan sampah, dulu dilakukan setiap hari dengan menggunakan gerobak. Karena masih menggunakan metode pembakaran, pada saat itu warga tidak ditarik iuran. Sampah warga yang terkumpul langsung dibuang di tempat pengumpulan sampah (TPS) yang disediakan pemerintah desa.

“Sampah yang dikumpulkan kemudian dibakar menggunakan tungku pembakaran atau dibakar secara langsung,” terang Arfan.

Hingga akhrinya pada 2018, pemerintah desa mendapatkan fasilitas dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Hal tersebut melalui satker pengembangan sistem penyehat lingkungan, dengan pembangunan tempat pengolahan sampah reduce, reuse, dan recyle (TPS 3R). 

Pengolahan sampah tersebut dibangun di lahan seluas 980 meter persegi. Kini tempat pengolahan sampah itu dapat menampung sampah dari sebanyak 1.168 kepala keluarga (KK). “Setelah mendapatkan fasilitas tersebut, untuk pengolahan sampah tidak boleh dibakar lagi,” urai Arfan.

Pada pengolahan sampah basah, menurutnya, dapat digunakan sebagai kompos organik. Untuk pengolahan sampah organik terdapat sistem bata berongga. Prosesnya, setelah sampah basah berupa hasil sayuran atau tanaman dicacah menggunakan mesin pecacah akan dilakukan fermentasi. Itu selama hampir dua satu bulan.

Bata berongga ini berfungsi mengalirkan udara di dalam timbunan sampah, melalui pipa berpori. Sementara lubang pipa pada bagian dasar, adalah sebagai saluran dari air dalam tumpukan sampah di dalam boks.  Setelah pupuk kering, kemudian diayak menggunakan pengayak kompos. Kompos tersebut kemudian digunakan petani untuk memupuk tanamannnya. Sementara itu, untuk sampah yang tidak dapat dikelola dikumpulkan di dan diangkut ke tempat penampungan sampah akhir (TPA).

Hanya saja, dahulu tidak ditarik iuran. Namun karena dalam pengolahan terdapat beberapa tahap, kini warga ditarik iuran. Memang butuh waktu satu tahun, agar membiasakan warga untuk melakukan iuran.  Iuran ini digunakan untuk pengajian personel atau operator TPS 3R.

“Selain itu, dengan uang iuran tersebut juga digunakan untuk biaya bahan bakar mesin mencacah, mesin pengayak sampah dan biaya pemeliharaan mesin,” jelasnya.

Dengan TPS 3R, ke depannya warga dapat memilah sampahnya sendiri. Dengan begitu, petugas dengan mudah ketika memproses selanjutnya. Selain itu, hal ini dapat mengubah paradigma masyarakat tentang mengolah sampah. Di mana sampah yang awalnya dipandang sebagai masalah, dapat berubah menjadi berkah.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia