Jumat, 03 Apr 2020
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Mengikuti Gropyokan Tikus di Desa Dlururejo, Jatikalen

Ada yang Kabur lewat Sela-Sela Kaki

20 Februari 2020, 11: 38: 15 WIB | editor : Adi Nugroho

Tikus

BERI PETUNJUK: Kepala BPP Jatikalen (dua dari kiri) menyampaikan cara pengemposan tikus di Desa Dlururejo, Jatikalen, kemarin pagi. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

Banyaknya tikus di Desa Dlururejo, Kecamatan Jatikalen cukup merepotkan petani di sana. Berbagai upaya pemberantasan dilakukan. Salah satunya dengan pengemposan tikus.

ANDHIKA ATTAR, Jatikalen, JP Radar Nganjuk

Hama tikus telah menjadi musuh besar petani di beberapa wilayah di Jatikalen. Salah satunya adalah petani yang ada di Desa Dlururejo. Di sana, hewan pengerat tersebut tak pandang bulu merusak padi para petani.

Gerah dengan hal tersebut, petani di sana akhirnya melakukan pengemposan dan gropyokan tikus. Kemarin pagi, diiringi mentari yang bersinar riang, belasan petani pun bertambah semangat.

Terlebih, kegiatan itu pun didukung penuh oleh Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Jatikalen. Bahkan, pemdes dan koramil setempat juga tak ingin ketinggalan untuk berpartisipasi.

Untuk mendukung kegiatan tersebut, BPP Jatikalen menyediakan tiga kardus emposan tikus. Satu kardusnya berisi sebanyak seratus buah emposan tikus. Bentuknya mirip petasan.

Cara pakainya juga dibakar ujung emposan, lalu akan mengeluarkan asap tebal. Hampir mirip dengan flare yang sering digunakan suporter sepak bola. Namun, baunya sangat menyengat. Pasalnya, salah satu bahan emposan tersebut adalah sulfur atau belerang.

Asap itulah yang nantinya akan membunuh tikus-tikus di sana. “Penggunaannya juga harus hati-hati. Karena emposan juga dapat meledak,” pesan Kepala BPP Jatikalen Nur Abdilah kepada para petani sebelum kegiatan dimulai.

Para petani mulai berpencar. Mereka dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Seakan tak ingin ketinggalan, personel dari BPP dan koramil juga antusias mencari lubang yang menjadi sarang tikus.

Tim mulai melakukan penyisiran. Setelah lubang ditemukan, mereka langsung sigap membakar empos tersebut. Kemudian meletakkannya di dalam lubang tersebut. Dengan penuh harap tikus yang ada di dalamnya akan mati.

Beberapa detik ditunggu, para petani mulai mengernyitkan dahi. Sedikit terbengong, mereka merasakan seperti ada yang salah dengan empos tersebut. Asapnya tidak bisa keluar banyak. “Coba sedikit dipukul-pukul emposnya,” tandas Nur.

Anjuran itu langsung dilakukan para petani. Beberapa mencobanya kembali. Ternyata benar, trik tersebut cukup manjur untuk mengoptimalkan fungsi empos tersebut. Sejurus kemudian, bau belerang langsung menyeruak menonjok hidung.

Menurut Nur, terkadang empos tersebut memang harus dijemur terlebih dahulu. Namun, tidak selalu seperti itu. Sebab, biasanya juga langsung berhasil pada percobaan pertama dan seterusnya.

Ada puluhan lubang tikus yang ditemukan di sana. Satu per satu lubang diberi perlakuan yang sama. Baik yang berada di pematang sawah maupun lubang yang ada di rawa.

Sepatu kotor seakan tak menjadi masalah. Pasalnya, beberapa lubang berada agak tengah di pematang sawah. Tak ayal, kaki harus terjun langsung ke tanah persawahan yang berair. Yang penting tidak sampai merusak tanaman padinya.

Dengan cara pengemposan tersebut, tikus yang sedang berada di dalam sarang akan mati mencium belerang yang menyengat. Bahkan, diyakini tidak hanya tikus yang sudah dewasa saja. “Anak-anaknya juga bisa mati. Jadi populasi tikus dapat berkurang,” timpal pria kurus tersebut.

Namun, tetap saja ada beberapa tikus yang masih dapat bertahan. Biasanya terjadi karena lubang yang diberi empos tidak tertutup sempurna. Sehingga asap yang masuk pun tidak sepenuhnya memenuhi lubang sarang tikus tersebut.

“Kalau bisa keluar, tikusnya akan terganggu penglihatannya. Asap itu juga bisa membuat matanya menjadi buta,” terang Nur.

Oleh karena itu, sembari melakukan pengemposan, mereka juga membawa tongkat kayu. Yakni digunakan untuk memukul tikus jika masih dapat keluar dari sarangnya untuk melarikan diri.

Namun, hal tersebut tidak selalu sesuai dengan teori yang diberikan. Terkadang praktiknya memang lebih memiliki tantangan tersendiri. Tak jarang tikus yang kabur berhasil menghindar dari hardik para petani.

Cukup lucu melihat adegan tersebut. Petani sudah sigap dengan tongkatnya, namun beberapa tikus juga masih dapat mengelak. Ada tikus yang kabur lewat sela-sela kaki petani. Ada yang kabur lalu berenang di rawa. Namun, hal itulah yang membuat kegiatan gropyokan menjadi lebih seru.

“Kalau ini kemungkinan tikusnya sudah mati di dalam lubang. Kalau yang gropyokan sebelumnya, ada banyak tikus yang kami dapatkan,” aku Nur. Bahkan, tikus yang didapat sebelumnya mencapai 30 ekor lebih.

Selesai menyisir sekitar dua jam, akhirnya kegiatan dihentikan. Pasalnya, sudah semua lubang yang diduga menjadi sarang tikus telah diberikan empos. Para petani pun mulai berkumpul di titik awal dengan wajah lelah namun terbayarkan.

Danramil Jatikalen Kapten Arh Yono Priyo mengaku, pihaknya selalu mendukung kegiatan positif yang dilakukan warga di sana. Tak terkecuali kegiatan gropyokan tersebut. “Setiap ada kegiatan, kami pasti akan mendukung,” tegasnya.

Sementara itu, Kades Dlururejo Ismawati mengaku, kegiatan tersebut sudah tiga kalinya diadakan di sana. Dia senang banyak pihak yang mendukung pertanian di desanya agar produktivitasnya lebih baik lagi.

“Semoga dengan dilakukannya pengemposan dan gropyokan tikus, menjadikan panen padi di sini meningkat,” ucapnya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia