Jumat, 03 Apr 2020
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Separo Lahan Diserang Tikus

Tersebar di Enam Desa di Kecamatan Jatikalen

20 Februari 2020, 11: 34: 29 WIB | editor : Adi Nugroho

Tikus

BASMI TIKUS: Kepala BPP Jatikalen Nur Abdillah (kanan) dan Danramil 0810/19 Kapten Arh Yono Prio lakukan pengemposan di sawah Desa Dlururejo, Jatikalen, kemarin. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

JATIKALEN, JP Radar Nganjuk- Populasi hama tikus di Kecamatan Jatikalen meningkat pesat. Bahkan, ada enam di sana yang sawahnya rawan diserang hewan pengerat itu. Antara lain Desa Jatikalen, Gondangwetan, Ngasem, Dlururejo, Begendeng, dan Lumpangkuwik.

Kepala Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Jatikalen Nur Abdillah mengatakan, serangan tersebut terasa sejak tujuh tahun terakhir. Bahkan, ratusan hektare (ha) sawah di sana tergolong rawan akan serangan hama tikus tersebut.

“Lahan persawahan di Desa Begendeng yang paling luas,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Nganjuk saat ditemui usai kegiatan pengemposan di Desa Dlururejo, Jatikalen, kemarin pagi.

Berdasarkan keterangannya, bahkan tidak hanya Jatikalen saja yang rawan diserang oleh hama tikus. Beberapa lahan persawahan di kecamatan sekitarnya juga rawan dengan hama tersebut. Antara lain di Kecamatan Gondang, Lengkong dan Patianrowo.

“Kalau Kecamatan Patianrowo ini terutama yang wilayah utara yang banyak hama tikusnya. Seperti di Desa Rowomarto dan Tirtobinangun,” ungkapnya.

Hama tikus tersebut menyerang batang padi di sana. Umumnya, hama tikus menyerang tanaman padi mulai persemaian hingga panen. Mereka memakan bakal daun dan bakal batang padi tersebut. Akibatnya, batang padi menjadi patah hingga akhirnya mati.

Namun, menurut Nur, terkadang hewan pengerat tersebut tidak hanya merusak tanaman padi untuk mencari makan saja. Bahkan, ada beberapa titik sawah yang ditemukan rusak tapi tidak dimakan oleh tikus-tikus tersebut. “Terkadang mereka (tikus, Red) hanya mengasah giginya,” terangnya.

Beruntung, kerusakan akibat hewan pengerat tersebut belum sampai menimbulkan gagal panen atau puso. Pasalnya, kerusakan akibat hewan tersebut masih berkisar 40-50 persen. Yakni dari petak lahan sawah padi milik para petani.

Meskipun begitu, beberapa petani bahkan harus menanam ulang padi miliknya yang dimakan oleh tikus. Terutama yang diserang hama tikus pada awal-awal musim tanam. Alhasil, hal tersebut juga berpengaruh terhadap penggunaan jumlah pupuk di sana.

“Otomatis harus dilakukan pemupukan ulang oleh petani yang bersangkutan,” imbuh Nur.

Populasi hama tikus di sana setiap tahunnya memang mengalami peningkatan. Begitu pula pada tahun ini, diperkirakan hama tikus tersebut juga akan lebih banyak menyerang tanaman padi para petani. Pada tahun lalu saja, kerusakan di sana akibat hama tikus sekitar tercatat ada sekitar 500 hektare.

“Populasinya sendiri diperkirakan mencapai ratusan ribu tikus,” tandas pria yang suka bercanda tersebut.

Untuk menangkal hama tikus itu sendiri, pihaknya sangat menyarankan petani untuk melakukan sistem tanam secara serempak. Pasalnya, dengan tanam serempak potensi ancaman hama tikus cukup dapat terkurangi.

Selain itu, pembasmian hama tikus juga dapat dilakukan dengan cara pengemposan dan gropyokan. Dengan pengemposan sendiri, hama tikus dapat mati lantaran terpapar asap empos yang terbuat dari campuran belerang.

“Kami juga mengembangkan pembasmian tikus dengan burung hantu. Atau yang biasa dikenal dengan istilah Tito Alba,” pungkasnya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia