Jumat, 03 Apr 2020
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Gunasri Ningsih, Peserta Tes CPNS yang Alami Kontraksi Saat Ujian

Rasakan Nyeri, Kerjakan Soal Sambil Berdiri

19 Februari 2020, 12: 39: 03 WIB | editor : Adi Nugroho

CPNS

SEMANGAT: Gunasri Ningsih memegang tangan suaminya saat hendak dibawa ke rumah sakit usai mengikuti tes SKD CPNS, kemarin. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

Keinginan Gunasri Ningsih menjadi abdi negara, membuatnya nekat mengikuti ujian meski sedang hamil tua. Pun saat mengalami kontraksi dan harus mengerjakan soal sambil berdiri. Meski akhirnya tak lulus passing grade, dia mengaku tidak merasa kecewa.

REKIAN, NGANJUK. JP Radar Nganjuk

Suasana pengarahan peserta tes CPNS yang berlangsung di tempat parkir atau lantai dasar Balai Budaya Pu Sindok, mendadak berubah sekitar pukul 16.00 kemarin. Konsentrasi ratusan pria dan wanita yang memakai seragam putih-hitam di sana tidak lagi pada seorang pria berompi cokelat yang tengah memberi penjelasan di bagian depan.

Tatapan mata para peserta berpindah ke arah beberapa orang yang memakai rompi merah bertuliskan Dinas Kesehatan Nganjuk. Keberadaan orang yang hilir mudik di depan mereka dengan raut panik itu menyisakan beberapa pertanyaan. Yakni, siapa peserta tes CPNS yang sakit?

Pertanyaan tak terucap itu terjawab setelah Agus Heri Widodo, salah satu panitia seleksi daerah (panselda) mengatakan jika ada salah satu peserta tes CPNS yang mengalami kontraksi. “Peserta yang hamil kontraksi,” ujarnya sembari memegang handy talky (HT).

Pernyataan Agus itu tidak membuat suasana menjadi tenang. Beberapa saat kemudian justru semakin riuh. Semua tenaga medis yang stand by di Balai Budaya diminta bersiap di pintu keluar.

Jika ada aba-aba peserta tes CPNS yang tak lain adalah Gunasri Ningsih itu tak kuat lagi, mereka harus segera melakukan penanganan. Yakni, mengevakuasi perempuan yang tengah hamil sembilan bulan itu ke luar ruangan. 

Hanya dalam hitungan menit, sejumlah peralatan dan perlengkapan disiapkan. Termasuk kursi roda, tandu, dan mobil ambulans. Semuanya berjejer di depan pintu keluar darurat.

Begitu perlengkapan sudah tertata, Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Nganjuk Sopingi mengajak panitia memantau dari ruang closed circuit television (CCTV). Dari sana mereka mengecek kondisi perempuan berjilbab itu saat tengah mengerjakan soal.

Maklum saja, panselda memang dilarang masuk ke ruang ujian. Ruangan di lantai 2 Balai Budaya itu menjadi kewenangan penuh Badan Kepegawaian Negara (BKN). “Orangnya yang ada di dekat kamar mandi itu,” sambung Agus Heri Widodo sembari menunjuk salah satu titik di layar tempat Gunasri berada.

Berbeda dengan ratusan peserta lainnya, perempuan asal Desa Banjarejo, Rejoso itu mengerjakan soal sambil berdiri. Dengan kondisi kontraksi, rupanya dia tidak kuat lagi duduk. Untuk mengurangi rasa nyeri, dia menyiasatinya dengan berdiri.

Kondisi itu tidak berlangsung lama. Sekitar 30 menit kemudian, dia bisa kembali mengerjakan soal sambil duduk di kursi berwarna merah. “Tampaknya sudah bisa mengerjakan sambil duduk,” tutur Sopingi sembari melihat perempuan yang dijaga oleh dua pegawai BKN itu.

Sesuai petunjuk petugas BKN, Gunasri diminta menyampaikan langsung jika sudah tidak kuat. Tetapi, perempuan yang melamar di formasi PGSD itu berkeras menuntaskan pengerjaan soal. Dia bertahan di dalam ruangan selama 90 menit. Mengerjakan soal sembari menahan rasa nyeri.

Usai mengerjakan soal SKD, laki-laki mengenakan kaus kerah berwarna gelap yang tak lain adalah Hadi Prasetyo, 34, suami Gunarsi, menghampiri panitia. “Bagaimana keadaannya?” tanya Hadi kepada panitia yang bersiap di dekat ambulans.

Pria yang bekerja sebagai fotografer ini lagsung menghubungi kerabatnya. Meminta untuk menyiapkan kebutuhan jika istrinya benar-benar melahirkan.

Alumnus Universitas Nusantara PGRI ini menuturkan, sebelum ujian istrinya merasa baik-baik saja. “Tidak merasakan apa-apa,” urainya tentang Gunasri yang tengah hamil anak kembar itu.

Hingga tes CPNS kemarin, usia kandungannya mencapai 35 minggu. Sesuai hitungan dokter, dia baru melahirkan setelah usia kandungan 36 minggu. Karenanya, Hadi berencana membawa istrinya periksa Kamis (20/2) besok. “Menurut dokter, satu anak sungsang, satu lagi masuk ke dalam,” bebernya tak menyangka istrinya mengalami kontraksi.

Mendengar kabar itu, tentu saja dia panik. Makanya, begitu ujian selesai, dia langsung berlari ke pintu keluar darurat bersama panitia. Jika Hadi dan beberapa petugas medis panik, tidak demikian dengan Gunasri.

Sembari duduk di kursi roda, dia berusaha menguatkan dirinya sendiri. “Semangaaat!” teriaknya sambil tersenyum. Bisa jadi, kata itu benar-benar mewakili perasaannya setelah berjuang untuk menjadi CPNS.

Dia tetap semangat meski dalam ujian seleksi kompetensi dasar (SKD) kemarin tidak lolos. Nilainya di bawah passing grade. “Tahun depan masih bisa ikut lagi,” tuturnya sembari masuk ke ambulans.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia