Jumat, 03 Apr 2020
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Ibu Hamil Diberi Pita Warna Merah

Siapkan Kursi Roda untuk Masuk ke Ruang Ujian

19 Februari 2020, 10: 43: 22 WIB | editor : Adi Nugroho

CPNS

RISIKO TINGGI: Tim panselda mengantar ibu hamil memasuki ruang ujian dengan kursi roda. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK, JP Radar Nganjuk-Banyaknya ibu hamil yang menjadi peserta tes CPNS, jadi perhatian panitia seleksi daerah (panselda). Mereka menandai peserta risiko tinggi (risti) ini dengan memasang pita merah. Tidak hanya itu, ibu hamil juga mendapat fasilitas kursi roda untuk masuk ke ruang ujian.

Pantauan koran ini, sejumlah peserta dengan usia kandungan tua langsung diminta duduk di kursi roda untuk diantar masuk ke ruang ujian. Dengan cara itu, mereka tidak perlu naik tangga seperti halnya peserta lain. Melainkan memutar melewati akses khusus.

Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Nganjuk Sopingi yang dikonfirmasi tentang pemberian tanda dan fasilitas khusus itu merespons banyaknya ibu hamil yang ikut ujian. “Tiap sesi ada peserta ibu hamil. Jumlahnya bisa tujuh atau sepuluh orang,” ujar Sopingi.

CPNS

KHUSUS: Perlakuan khusus juga diberikan kepada peserta tes SKD yang sakit dengan diperiksa oleh tim medis. (Rekian - radarkediri.id)

Usia kandungan mereka, lanjut Sopingi, juga beragam. Ada yang baru dua bulan hingga sembilan bulan. Karenanya, panitia mengantisipasi dengan menyiapkan kursi roda untuk menuju ke ruang ujian. “Demi keselamatan kandungannya,” terang Sopingi sembari menyebut kemarin ada sembilan peserta tes yang hamil.

Selain memberi perhatian khusus pada ibu hamil, panitia juga menyiapkan penanganan bagi peserta tes yang sakit. Kemarin tim medis memeriksa salah satu peserta yang mengeluh sesak napas. “Setelah diperiksa, yang bersangkutan dinyatakan bisa ikut ujian,” lanjut Sopingi.

Sementara itu, meski memberikan perlakuan khusus, panitia tetap menjalankan aturan secara ketat. Sopingi mencontohkan ada ibu hamil yang datang tidak memakai kemeja berwarna putih.

Menyikapi hal itu, panitia tetap melarang peserta mengikuti ujian. Dia disyaratkan memakai baju sesuai ketentuan. “Akhirnya pergi ke toko baju membeli kemeja putih agar bisa ikut ujian,” urainya.

Tak hanya aturan tentang pemakaian seragam, kemarin panitia juga terpaksa melarang satu peserta mengikuti ujian. Pasalnya, peserta tersebut datang terlambat. Saat datang, tim Badan Kepegawaian Negara (BKN) telah menutup ruang ujian.

Sopingi menjelaskan, sejak awal panitia sudah bersikap tegas. Yakni, tidak memberikan toleransi terhadap peserta yang datang terlambat. “Akhirnya benar-benar tidak bisa mengikuti ujian,” tandasnya.

Seperti diberitakan, selain beberapa pelanggaran tersebut, sebelumnya panitia mendapati peserta yang nekat membawa jimat ke dalam ruang ujian. Meski sudah ada beberapa jimat yang disita petugas satpol PP, agaknya para calon abdi negara itu tidak kapok.

Kemarin personel satpol PP kembali mendapati jimat berupa daun kering yang dibungkus kertas. Benda yang disimpan di saku baju itu didapati saat pemeriksaan jelang masuk ke ruang isolasi. “Jimatnya langsung kami ambil karena memang tidak boleh dibawa masuk ke dalam ruangan,” tutur Brenda, anggota satpol PP yang bertugas.

Selain jimat, kemarin petugas juga menyita sapu tangan, uang kertas, dan koin yang dibawa peserta. “Barangnya bisa diambil setelah ujian. Sesuai aturan memang tidak boleh membawa barang itu ke ruang ujian,” beber Brenda.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia