Jumat, 03 Apr 2020
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Bandara Kediri: Berjodoh setelah Banyak Hadapi Tantangan

19 Februari 2020, 04: 29: 12 WIB | editor : Adi Nugroho

bandara kediri

PROYEK: Pembangunan Bandara Kediri sudah mulai dikerjalan. (Didin Saputro - radarkediri)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri - Jika akhirnya Kediri memiliki bandara, banyak kendala yang harus dihadapi. Berbagai telaah, sejak muncul ide pembangunan bandara, dilakukan. Seperti penentuan potensi penumpang. Saat 2007, bupati saat itu, Sutrisno melihat potensi penumpang tidak hanya dari Kediri. Tetapi juga Blitar, Tulungagung, Jombang, dan Madiun.

Potensi penumpang itu bukan saja dari Bandara Juanda, Sidoarjo. Tetapi juga kereta api. Sutrisno pun melihat adanya potensi penumpang yang akan memilih menggunakan pesawat dibandingkan dengan kereta api yang membutuhkan waktu lama. Sementara selisih harga yang relatif sedikit.

Puas dengan potensi penumpang, ternyata analisa pentingnya keberadaan bandara tidak hanya mendapat penolakan dari DPRD Kabupaten Kediri. Pada 2012, saat usulan ini diajukan ke Pemerintah Provinsi Jawa Timur, permintaan pun ditolak.

Bahkan, saat itu pemerintahan Provinsi Jawa Timur yang dipimpin Gubernur Soekarwo lebih memilih wilayah Malang Selatan hingga Trenggalek. Meski akhirnya, pada 2016, Tulungagung yang benar-benar diajukan menjadi lokasi  dibangunnya bandara. Izin pun sudah disetujui. Menutup kesempatan Kabupaten Kediri memiliki bandara.

Alasan yang digunakan saat itu, disampaikan oleh Wakil Gubernur Syaifulah Yusuf pada kesempatannya datang ke Kediri, yaitu karena Kabupaten Kediri dekat dengan Gunung Kelud. Dan, termasuk zona merah yang masuk sebagai tempat latihan pesawat TNI Angkatan Udara (AU).

Meski tak didukung pemerintah provinsi, Bupati Haryanti Sutrisno tak keder. Dalam sejumlah kesempatan, Haryanti yakin kalau Kediri sudah siap. Sebab, proses sejumlah perizinan sudah dimulai. Mulai dari studi kelayakan sampai pada rencana tata ruang wilayah (RTRW) sudah dilakukan. “Keputusan terakhir, Presiden yang menentukan,” katanya.

Untuk diketahui, Pemkab Kediri sudah menganggarkan dana Rp 200 juta untuk biaya pra feasibility study (FS) pada tahun 2008 lalu. Kemudian pada 2010 juga kembali dianggarkan untuk FS tersebut sebesar Rp 700 juta. Hasil dari studi kelayakan itu kemudian menentukan lima lokasi kecamatan yang layak menjadi tempat bandara. Mulai dari Kecamatan Plemahan, Kunjang, Purwoasri, Ngancar, hingga Plosoklaten. Kemudian pada 2013, perkembangan pembangunan bandara masuk dalam pasal 12 Perda No.14/2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).

Tak disangka, bandara memang sudah ‘berjodoh’ harus berada Kabupaten Kediri. Salah satu perusahaan rokok besar di Indonesia, PT Gudang Garam Tbk, yang akhirnya mendorong terwujudnya bandara di Kabupaten Kediri.

Pada 2018, dengan penawaran pembangunan bandara oleh PT Gudang Garam Tbk itu sehingga tak membebani anggaran pemerintah membuat Presiden memutuskan pembangunan bandara di Kediri.

Lokasi pun ditentukan. Bukan lagi Plosoklaten atau empat kecamatan yang sudah dilakukan uji kelayakan. Tetapi terpilihlah tiga kecamatan di barat Sungai Brantas. Yaitu Kecamatan Banyakan, Grogol, dan Tarokan. Luasannya mencapai 376,5 hektare yang harus dibebaskan oleh investor yaitu PT Gudang Garam. Bukan hal mudah, karena sebagian besar sudah padat penduduk.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia