Rabu, 08 Apr 2020
radarkediri
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Mengaku Polisi, Berhasil Raup Puluhan Juta

Cari Target di Medsos, Bawa Pistol Mainan

18 Februari 2020, 11: 01: 39 WIB | editor : Adi Nugroho

Gadungan

PALSU: Kapolres AKBP Handono Subiakto memeriksa pistol mainan yang digunakan Fandi untuk memuluskan aksi penipuannya setelah mengaku sebagai anggota polisi, dalam rilis di Polres Nganjuk kemarin. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK, JP Radar Nganjuk-Mengaku sebagai anggota polisi, Fandi Aryo Ariyanto, 39, berhasil mendapatkan pacar lewat media sosial. Tidak hanya itu, dia “sukses” mendapatkan uang hingga puluhan juta rupiah. Akibat perbuatannya itu, pria asal Mojokerto itu harus berurusan dengan polisi setelah aksi penipuannya dilaporkan ke Polres Nganjuk. 

Adalah Dyah Dwi Utami, 43, yang terpikat dengan aksi tipu daya Fandi. Kepada perempuan asal Kabupaten Blitar itu, Fandi mengaku berpangkat inspektur dua. Dia juga mengaku sebagai anggota tim buser Polda Jatim.

Kapolres Nganjuk AKBP Handono Subiakto mengatakan, untuk melengkapi aksinya Fandi menggunakan KTP palsu. “Disana tertera pekerjaannya sebagai polisi,” ujarnya saat pers rilis di halaman Mapolres Nganjuk, kemarin pagi.

Gadungan

PASRAH: Polisi menggelandang Fandi dengan tangan terborgol untuk mengikuti rilis di halaman Mapolres Nganjuk, kemarin. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Selain itu, ia juga membekali diri dengan sebuah lencana polisi palsu. Di lencana tersebut bertuliskan penyidik. Untuk meyakinkan Dyah, Fandi juga menunjukkan pistol mainan tipe Glock.

Saat diinterogasi kemarin, Fandi mengaku kenal korbannya dari jejaring media sosial akhir tahun lalu. “Tersangka mengenal korban melalui Facebook. Setelah semakin kenal, mereka lalu sering bertelepon dan video call,” terang orang nomor satu di Polres Nganjuk tersebut.

Dari perkenalannya itu, Fandi pun mengeluarkan jurus rayuan mautnya. Akhirnya menjalin hubungan kekasih. Meski jarang bertemu langsung, pelaku menjanjikan untuk menikah dengan Dyah. Yakni pada September nanti.

Mendapat janji-janji itu, Dyah semakin percaya. Selanjutnya, Fandi mulai meminta kiriman uang. Jumlahnya bervariasi. Mulai Rp 150 ribu hingga Rp 1 juta. Alasan yang digunakannya pun bermacam-macam. Yakni, untuk makan sehari-hari sampai alasan mengganti ban mobil Fortuner miliknya.

Akal bulusnya tidak berhenti sampai di sana. Fandi kembali membujuk Dyah untuk menjual mobil Honda Civic AG 1569 KY tahun 1988 miliknya. “Pelaku berdalih akan mengganti mobil tersebut dengan yang lebih bagus. Korban dijanjikan dibelikan Honda Stream,” tutur mantan penyidik KPK itu.

Korban pun mengiyakan tawaran tersebut. Akhirnya, unit bersama kelengkapan kendaraan lainnya turut disertakan. Keduanya melakukan serah terima mobil tersebut di SPBU Bandarkedungmulyo, Jombang pada November lalu.

Mobil tersebut dijual oleh perantara kenalan Fandi ke seseorang warga Desa Kemaduh, Baron. “Mobil itu dijual dengan harga Rp 25 juta,” timpal polisi dengan pangkat dua melati di pundak tersebut.

Dari uang hasil penjualan mobil tersebut, Dyah hanya diberi uang Rp 4,5 juta. Lalu, Rp 500 ribu untuk perantara. Sedangkan sisanya sebanyak Rp 20 juta digondol sendiri oleh Fandi. Kepada petugas, ia mengaku uang tersebut digunakan untuk berfoya-foya. “Untuk karaoke di daerah Mojokerto,” tandas Handono.

Sebulan berselang, Dyah baru mengetahui jika Fandi bukanlah anggota Polri. Ini setelah dia berusaha mencari tersangka ke rumahnya pada Desember 2019 lalu. lalu. Mendapati kenyataan tersebut, Dyah langsung melaporkan Fandi ke Polres Mojokerto Januari lalu.

Penanganan kasus dilimpahkan ke Polres Nganjuk karena tempat kejadian penjualan mobil di Nganjuk. Fandi langsung dibekuk Unit Resmob Satreskrim Polres Nganjuk di rumahnya di Desa Jabon, Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto. “Sekarang kami masih melakukan pendalaman,” tegas Handono.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia