Rabu, 08 Apr 2020
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Dua Bulan, Belasan Ular Masuk ke Permukiman

17 Februari 2020, 13: 17: 11 WIB | editor : Adi Nugroho

Ular

WASPADA: Aji Rachmat mempraktikkan cara menangani ular kobra saat menggelar pelatihan di Kwarcab Nganjuk, kemarin. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK, JP Radar Nganjuk-Keberadaan ular yang masuk ke permukiman warga mulai meresahkan. Sejak Januari hingga Februari lalu, sedikitnya ada 15 laporan terkait peristiwa tersebut yang masuk ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nganjuk. Menindaklanjuti hal itu, BPBD berkoordinasi dengan Sioux Ular Indonesia Wilayah Nganjuk. 

Koordinator Sioux Ular Indonesia Wilayah Nganjuk Ektavianto mengatakan, peristiwa masuknya ular ke permukiman warga juga terjadi di darah lainnya. “Ular masuk ke permukiman warga untuk mencari makan karena habitat mereka semakin berkurang,” ujar Ektavianto.

Lebih jauh Ektavianto mengungkapkan, ada beberapa jenis ular yang dilaporkan masuk ke permukiman. Mulai ular piton, ular sapi, ular cecak, ular tali picis, dan ular weling. “Paling banyak adalah anak ular kobra Jawa,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Nganjuk, kemarin.

Terkait penanganannya, Ektavianto menyebut Sioux bekerja sama dengan BPBD Nganjuk dan UPTD Pemadam Kebakaran (Damkar) Nganjuk. Sejauh ini sudah ada empat laporan ke UPTD Damkar terkait masuknya ular ke permukiman tersebut. “Kami saling membantu. Beberapa anggota BPBD Nganjuk kebetulan banyak yang ikut Sioux,” tutur Ekta yang juga staf BPBD Nganjuk itu.

Menyikapi banyaknya peristiwa ular masuk ke permukiman, Ekta mengajak jajaran Sioux memberi edukasi terkait jenis ular dan penanganannya. Ketua Yayasan Sioux Ular Indonesia Aji Rachmat sendiri yang langsung memberikan materi tentang penanganan ular.

Pria berambut gondrong itu menyebut banyak masyarakat yang belum paham dengan penanganan ular. Terutama yang masuk ke rumah atau permukiman warga. Sehingga, mayoritas orang akan langsung membunuh ular lantaran ketakutan.

“Kalau memang tidak ada bekal penanganan ular, jangan langsung ditangani sendiri. Laporkan kepada instansi terkait atau komunitas pecinta ular,” pinta Aji.

Pasalnya, tiap ular memiliki cara penanganan yang berbeda-beda. Tidak bisa disamakan. “Kalau bisa difoto dulu. Jadi waktu melaporkannya kami sudah tahu jenis ularnya apa,” imbuhnya.

Ia meminta masyarakat untuk tidak membunuh ular yang masuk ke permukiman. Menurutnya ular cukup dikeluarkan dari dalam rumah dengan cara disapu. “Intinya, masyarakat selamat, ularnya juga selamat. Yang penting keseimbangan tetap terjaga,” tandas Aji.

Dikatakan Aji, ular juga berperan dalam siklus rantai makanan. Yakni untuk membasmi tikus. Menurutnya, ular bisa masuk ke permukiman warga selain karena habitatnya yang berkurangnya, juga karena makanannya. “Kalau dibunuh, tentunya ada rantai makanan yang akan terjadi ketidakseimbangan,” terang pria asal Jogjakarta itu.

Pria yang telah bergelut dengan ular sejak 1998 itu juga menyoroti penanganan pascagigitan ular. Menurutnya, di beberapa klinik maupun RS masih kurang memadai untuk tindakan lebih lanjut. “Ini juga yang menjadi PR bersama. Semoga ada dukungan dari segala pihak ke depannya,” akunya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia