Selasa, 31 Mar 2020
radarkediri
Home > Kolom
icon featured
Kolom
TAUHID WIJAYA

Teater Itu Diselesaikannya dengan Baik

Obituari

16 Februari 2020, 20: 19: 00 WIB | editor : Adi Nugroho

Tauhid Wijaya

Tauhid Wijaya (radarkediri)

Share this          

“Insya Allah masih bisa tetap ngaji. Kan beban saya di pondok sudah tidak seperti dulu lagi.” Jawaban itu disampaikannya ketika saya tanya apakah masih sempat mengasuh para santri jika kelak menjadi wakil wali kota (wawali). Hampir enam tahun lalu. Sebelum resmi dilantik sebagai wawali mendampingi Wali Kota Abdullah Abu Bakar (Mas Abu) pada 2 April 2014.

Ya, hari itu, Ning Lik melakukan lompatan dalam sejarah hidupnya. Dari seorang bu nyai yang sehari-hari mengasuh pesantren ke dunia birokrasi dengan segala problematikanya. Ia menjadi wawali perempuan pertama dalam sejarah pemerintahan di Kota Kediri.

Bulughul Maram (hadis), Taqrib (fikih), dan ‘Imrithi (tata bahasa Arab) adalah tiga kitab yang masih diajarkannya kepada santri-santri putri Pondok Pesantren (Ponpes) Al Ishlah, Bandarkidul menjelang pelantikannya saat itu. Dua kali seminggu di madrasah. Di samping ngaji sorogan Alquran tiap pagi bakda Subuh untuk belasan santri. “Saya akan tetap ngaji. Ngurus pesantren,” ucapnya.

Lilik Muhibbah

Lilik Muhibbah (Ilustrasi: Afrizal - radarkediri)

Dari bu nyai ke wawali, dari pesantren ke balai kota, Ning Lik tampaknya tak butuh banyak penyesuaian untuk memimpin birokrasi mendampingi Mas Abu. Bisa jadi, itu karena di pesantren ia sudah terbiasa memimpin. Apalagi, di luar pesantren, istri almarhum KH Fuaduddin Toha itu juga menjadi pemimpin di organisasi perempuan Nahdlatul Ulama (NU). Ning Lik adalah ketua Pengurus Cabang Muslimat NU Kota Kediri setelah sebelumnya juga aktif di Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) dan Fatayat NU.

Pembawaannya yang luwes membuat dia mampu memerankan diri sebagai partner yang baik bagi Mas Abu dalam memimpin Kota Kediri. So, hampir tidak ada problem komunikasi di antara mereka berdua dalam memimpin bersama kota ini. Terbukti, duet mereka pada periode pertama (2014-2019) dilanjutkan pada periode kedua (2019-2024) kali ini.

“Membangun hubungan yang baik itu salah satu kuncinya harus sama-sama bisa menempatkan diri. Dan, saya harus tahu posisi saya sebagai wakilnya Mas Abu. Yaitu, membantu tugas-tugas beliau dalam memimpin Kota Kediri,” kata Bu Nyai kelahiran Kediri, 9 April 1962 ini.

Ning Lik punya takaran yang pas untuk membangun pola hubungan kepemimpinannya dengan Mas Abu. “Kalau kebijakan, tentu itu kewenangan wali kota,” sebutnya. Ia tidak akan masuk ke sana, kecuali ada sign dari sang wali kota yang usianya 18 tahun lebih muda darinya itu. Mas Abu kelahiran Kediri, 12 April 1980. Tanggal lahirnya hanya selisih tiga hari.

“Kepada para pejabat di pemkot, saya selalu katakan, jangan macam-macam dengan Ning Lik. Karena (pendapatnya) bisa (saya gunakan untuk) memindah bapak/ibu,” kata Mas Abu tentang salah satu resepnya untuk membuat Ning Lik juga ‘bergigi’ di hadapan para birokrat.

Karena itulah, di samping karena keluwesan dan kepribadiannya yang hangat, birokrat di lingkup pemkot menaruh hormat kepadanya. Banyak di antara mereka yang lebih memandang Ning Lik sebagai sosok seorang ibu.

Begitu pula dengan para pejabat dan partner kerja dari instansi samping. Ning Lik punya kemampuan komunikasi yang bisa diterima oleh mereka. Joke-joke ala pesantren yang dikuasainya dengan baik sering menjadi pencair suasana.

Pendeknya, dari seorang bu nyai yang biasa mengurusi santri dan umat, Ning Lik membuktikan diri bisa bergaul dengan semua kalangan. Dan, seperti kegemarannya bermain teater saat duduk di bangku SDN Jagalan II, perempuan yang suka memasak sayur lodeh untuk keluarganya ini mampu memainkan dengan baik segala peran yang diberikan kepadanya. “Dulu waktu kecil saya suka sekali main teater,” tutur perempuan yang menyelesaikan seluruh pendidikan formalnya mulai SD hingga S2 di Kediri ini.

Tapi, ada rahasia di balik itu semua. Dalam sebuah kesempatan, Ning Lik mengaku bisa menjalani berbagai peran dalam teater kehidupannya berkat dukungan sang suami, Gus Fuad. Dan, kepergian sang suami yang lebih dulu merampungkan perannya di dunia ini pada 5 Juni 2016 lalu ikut merobohkan salah satu tiang penyangganya.

Begitu besar rasa cinta ibu Millah Qoyyimah, Wazir Al Muqtafa, dan Zidna Al Izzah itu kepada sang suami. Sepertinya, rasa kehilangan itu pula yang ikut memengaruhi fisik dan psikologisnya.

Tapi kini, Bu Nyai itu bisa menyusul sang suami tercinta. Menghadap sang Khalik. Sang Maha-sutradara teater kehidupan, yang peran-perannya di dunia ini telah bisa diselesaikannya dengan baik. Alfatihah.. (penulis adalah wartawan JP Radar Kediri)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia