Selasa, 25 Feb 2020
radarkediri
icon featured
Politik

Berpusat di Tarokan, Gempa 3,9 SR Bukan Terkait Gunung Berapi

15 Februari 2020, 13: 17: 46 WIB | editor : Adi Nugroho

gempa kediri

Gempa di Kediri (Intagram Info BMKG Juanda)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri- Gempa yang dirasakan di wilayah Kediri dan sekitarnya kemarin tak terkait dengan aktivitas gunung berapi. Meskipun gempa itu berpusat di wilayah Pegunungan Wilis. Gempa dengan Magnitudo 3,9 skala richter (SR) itu merupakan gempa tektonik. Dengan pusat gempat di 12 kilometer barat laut Kota Kediri. Tepatnya di Dusun Balungasem, Desa Kerep, Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri.

Gempa dirasakan sekitar pukul 14.55 WIB. Menurut informasi dari Stasiun Geofisika BMKG Jogjakarta, pusat gempa di kedalaman 7 kilometer. Dengan episentrum gempa bumi terletak pada koordinat 7.71 LS dan 111.98 BT.

Kepala Stasiun Geofisika BMKG Jogjakarta Agus Riyanto mengatakan, dengan memperhatikan lokasi episentrum dan kedalaman hiposentrum tersebut, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal. Artinya, gempa ini merupakan gempa tektonik. Tak ada kaitanya dengan aktivitas gunung berapi di wilayah ini.

“Akibat adanya aktivitas sesar lokal,” jelasnya menyebut penyebab terjadinya gempa bumi.

Dampak dari guncangan gempa bumi ini, selain dirasakan di daerah Kabupaten dan Kota Kediri, juga dirasakan hingga Kabupaten Nganjuk. Bahkan, hingga pukul 15.20 WIB, dari hasil monitoring BMKG, juga menunjukkan adanya satu kali aktivitas gempa susulan. “Itu aftershock dengan besaran magnitudo 3,2,” tambahnya.

Di Tarokan, salah satu warga yang merasakan gempa bumi ini adalah Dwi Rofiul. Ia menyebut bahwa getaran cukup besar. Bahkan ada motor yang terparkir sampai jatuh. Benda ringan yang tergantung juga tampak bergerak. “Semua warga merasakan, terasa keras,” ujar warga Kaliboto, Tarokan ini.

Usai gempa, ia menyebut bahwa di daerah Tarokan terjadi hujan lebat disertai angin kencang. “Dari wilayah Pace dan Loceret Nganjuk katanya juga terasa,” jelasnya.

Dari kejadian ini, BMKG mengimbau kepada masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Terlebih, jika terjadi sesuatu, agar menghindari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa. Termasuk melakukan pemeriksaan dan memastikan bangunan tempat tinggal cukup tahan gempa. Atau juga melihat apakah tidak ada kerusakan akibat getaran gempa yang membahayakan kestabilan bangunan. Hal itu harus dilakukan sebelum warga kembali ke dalam rumah.

Untuk diketahui, sebelumnya informasi dari BMKG juga menyebut bahwa di awal bulan, tepatnya pada 5 Februari lalu wilayah Kediri juga terjadi gempa. Namun gempa itu dengan kekuatan yang yang lebih kecil. Yakni Magnitudo 2,9. Menariknya, gempa tersebut mengguncang wilayah yang sama. Yaitu di Tarokan. Yang jaraknya dengan calon bandara hanya sekitar 3 kilometer.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia