Selasa, 25 Feb 2020
radarkediri
icon featured
Politik

Gunung Kelud, Enam Tahun setelah Letusan

Proyek Terowongan Terhenti 2 Tahun

15 Februari 2020, 13: 04: 41 WIB | editor : Adi Nugroho

kawah kelud

BISA DIAKSES: Kawah Kelud yang memiliki pesona luar biasa. (M Arif Hanafi - radarkediri)

Share this          

Enam tahun lalu, pukul 21.46, meletuslah Gunung Kelud. Lontaran letusan yang mencapai 17 kilometer membuat kerusakan cukup parah. Merusak bangunan di sekitarnya. Salah satunya terowongan ampera.

Kenapa terowongan itu sangat penting? Petugas pengamat Gunung Kelud dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi(PVMBG) Khoirul Huda mengatakan terowongan itu dibutuhkan untuk mengurangi potensi bencana. “Kalau terowongan itu tidak ditemukan tentu potensi bahaya akan kembali seperti letusan 20 Mei 1919 lalu,” tutur Khoirul.

Data yang diperoleh Jawa Pos Radar Kediri, saat itu air kawah tidak berkurang. Saat letusan terjadi pada 1919, total korban jiwa mencapai 5.160 jiwa. Saat itu, air yang memenuhi kawah berubah menjadi awan panas. Saat terlontar menjadikan korban jiwa semakin tinggi.

Belajar dari kejadian itu, pemerintah Belanda membangun terowongan Ampera pada 1923. Pembangunannya membutuhkan waktu dua tahun. Semenjak itu, korban jiwa turun drastis. Data korban yang berhasil tercatat pada letusan 24 April 1966, korban sebanyak 210 korban jiwa. Sementara untuk 10 Februari 1990 sebanyak 34 korban jiwa.  Di tahun ini korban jiwa dijelaskan karena bangunan tempat pengungsian ambruk terkena beban abu.

“Kalau sekarang, terowongan ampera masih tertutup material sekitar 20 meter. Aliran air kawah ke luar tidak lancar dan hanya melalui rembesan-rembesan,” terangnya. Sayang, sampai kemarin, pihak PVMBG belum bisa melakukan penghitungan karena keterbatasan peralatan.

Tidak hanya air yang mengalir melalui rembesan ke luar, tetapi juga volume air yang menutup cekungan kawah. “Belum bisa dipastikan saat hujan seperti ini. Banyak runtuhan material dari tebing yang masuk ke kawah,” beber petugas pengamat lainnya, Budi Prianto.

Menurut Khoirul Huda, kalau hujan, air kawah bisa naik hingga 30-40 meter. “Karena itu, kami kesulitan menghitung real jumlah air kawah. Apalagi saat musim hujan seperti ini ada rembesan dari tebing dan campuran material membuat air kawah penuh,” terangnya.

Meski sudah ada rembesan yang keluar dari outlet terowongan Ampera, Khoirul mengaku khawatir jika jalur rembesan itu akhirnya juga buntu karena kembali tertutup material. “Karena itu, kebutuhan penemuan terowongan tersebut tetap penting,” tegasnya. Sebab, saat jalur sudah ditemukan, dan dibersihkan, maka nantinya akan bisa digunakan secara maksimal untuk mengalirkan air kawah ke luar.

Bukan hanya menemukan terowongan Ampera,  terang Khoirul,  saat ini juga dibutuhkan penahan tebing kawah. Sehingga material tidak longsor dan masuk ke kawah Gunung Kelud. “Selain itu, juga diperlukan jalan inspeksi untuk membantu pemantauan,” terangnya.

Perlu diketahui, Gunung Kelud yang juga dikenal dengan nama Gunung Kelut ini menjadi gunung api aktif di Jawa Timur. Berada di Dusun Margomulyo, Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngancar. Berada di wilayah administrasi Kabupaten Kediri, Kabupaten Blitar dan Kabupaten Malang. Memiliki puncak 1.731 mdpl dengan tipe gunung strato dengan danau kawah. Karena dikelilingi pemukiman padat inilah yang membuat gunung kelud memiliki potensi bencana yang tinggi.

Proyek yang Tersendat

Terowongan utama ampera yang mengalirkan air kawah ke luar belum juga ditemukan

Butuh Penahan tebing kawah untuk mencegah material longsor

Butuh jalan inspeksi untuk melakukan pemantauan

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia