Minggu, 05 Apr 2020
radarkediri
Home > Features
icon featured
Features

Edelweis Kelud: Si Daun Panjang yang Mudah Tumbuh

15 Februari 2020, 08: 56: 24 WIB | editor : Adi Nugroho

taman edelweis

SI DAUN PANJANG: Taman Edelweis dekat puncak Kelud. (Rendi Mahendra - radarkediri)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri - Di pegunungan Jawa, ada dua jenis edelweis yang tumbuh. Yaitu anaphalis javanica dan anaphalis longifolia. Nama pertama yang lebih awal ditemukan. Yaitu Caspar Georg Carl Reinward pada 1819. Lokasinya di Gunung Gede, gunung di Jawa Barat yang berketinggian 2.000 mdpl.

Memang, edelweis Jawa (anaphalis javanica) punya ciri tumbuh di ketinggian itu. Karena itu banyak tumbuh di kawasan Bromo, yang ketinggiannya mencapai 2.329 mdpl.

Berbeda dengan anaphalis longofolia alias edelweis daun panjang. Jenis ini bisa tumbuh di gunung yang lebih rendah. Yaitu sekitar 1.500 mdpl. Nah, Kelud yang berketinggian 1.731 mdpl koleksi edelweisnya adalah yang disebut terakhir.

“Di Gunung Kelud itu setahu saya berbeda dengan yang ada di Tengger. Mungkin itu karena ketinggian di mana bunga edelweis itu tumbuh berbeda. Tapi rata-rata pecinta alam yang datang ke Kelud bilang kalau itu bunga edelweis,” jelas Eko Dheny, staf Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kediri.

Ciri lainnya yang membedakan yakni pada daun dan warnanya. Edelweis Jawa beraroma harum. Daunnya pun juga harum. Dalam satu tangkai lebih dari satu kuntum bunga, berwarna putih bersih. Selain itu ada warna kuning di bagian kelopaknya. Daun lebih pendek dengan selaput bulu halus berwarna putih. Beberapa penelitan menyebutkan bahwa jenis edelweis Jawa susah tumbuh dan belum bisa dibudidayakan.

Sedangkan edelweis yang tumbuh di Gunung Kelud, yakni edelweis daun panjang, warna bunya tak seputih edelweis Jawa. Daunnya lebih panjang, serta lebar, dan tipis. Selain itu, Edelweis daun panjang lebih mudah tumbuh. Sehingga bunga edelweis daun panjang tersebut bisa dibudidayakan. Misalnya di Taman Edelweis yang berada di Desa Wonokriti, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan.

Umur bunga edelweis relatif panjang. Yakni bisa mencapai 10 tahun. Hal tersebut yang membuat edelweis mempunyai sebutan Bunga Abadi. Mitos tentang keabadian cinta tersebut menjadikan bunga edelweis menarik. Sehingga diperjual belikan. Begitu pula edelweis di Gunung Kelud, pernah dijualbelikan.

Namun bunga edelweis mempunyai pertumbuhan yang lebih lambat. Hal tersebut juga berlaku pada tumbuhan yang tumbuh di dataran tinggi.

Karena bunga edelweis mempunyai daya tarik, banyak yang memetiknya. Sehingga edelweis tak bisa berbiak sesuai proporsinya. Oleh karena itu, edelweis termasuk flora yang dilindungi sesuai UU No 5 tahun 1990.

“Sebab populasinya menurun. Sedangkan pengambilannya marak dilakukan. Edelweis di Kelud juga pernah diperjual-belikan, seikat Rp 5 ribu. Maka sekarang kami membuat papan larangan untuk memetik bunga Edelweis untuk pencegahan,” kata Dheny. Menurut warga desa-desa di lereng Kelud, sebelum letusan 13 Februari 2014 bunga edelweis hanya tumbuh di lereng-lereng curam. Serta di dekat kawah saja. Namun pada 2015 bunga itu tumbuh dengan suburnya. Tak hanya di lereng curam tapi juga di pinggir jalan menuju puncak dan kawah Kelud.

Warga sekitar baru tersadar ada potensi taman bunga edelweis pada 2006. Kala itu, mereka tengah menggelar ritual larung sesaji. Beberapa warga melihat bunga-bunga edelweis tumbuh di dekat kawah.

“Saya mengetahui kalau di Gunung Kelud itu ada bunga edelweisnya pada 2006. Saat itu saya sedang melarung sejaji dan berenang di kawah. Pas selesai ada yang bilang melihat bunga edelweis. Katanya hampir sama dengan yang di Bromo,” kata Pak Dul, sapaan akrab Abdul Rokhim.

Saat itu edelweis hanya tumbuh di tempat-tempat tertentu. “Sebelum tahun 2015 itu, Bunga Edelweis hanya tumbuh di lereng dan dekat kawah,” kata Pak Dul.

Kini  di Gunung Kelud ada titik di mana bunga edelweis tumbuh mengumpul layaknya taman. Luasnya sekitar 100 meter persegi. “Tidak ada yang menanam Bunga Edelweis itu, tumbuh sendiri,” terang Pak Dul.

Menurutnya beberapa warga ada yang mencoba menanam bunga edelweis di pekarangan rumah tak bisa tumbuh seperti yang ada di Gunung Kelud. Sebagian besar mati.

Ada cerita lucu ketika pemetikan dan penjualan edelweis mulai dilarang. Pak Dul pun berusaha membuat papan pengumuman. Pengumumannya bertuliskan ‘Dilarang Memetik Bunga Ed.Luis”. Tulisan itu tentu jadi bahan guyonan.

“Saya tanya ke anak sekolah kan Mas, bagaimana cara nulis edelweis itu? Lha katanya ya seperti itu, ternyata bukan. Dadi guyon aku Mas,” kenang Pak Dul.

Sementara, Dheny, ketika ditanya soal rencana budi daya tanaman bunga itu, mengaku belum terpikirkan. Meskipun peluang itu terbuka karena edelweis Kelud termasuk yang mudah dikembangbiakan. Seperti yang sudah dilakukan di Taman Edelweis yang berada di Desa Wonokriti, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan.

“Belum ada rencana untuk membudidayakan bunga edelweis. Sementara kami fokus merawat yang sudah ada saja,” pungkas Dheny.

Ciri-Ciri Edelweis Kelud

Nama                   : Edelweis daun panjang (anaphalis longifolia)

Daun                    : Lebih panjang, lebar, dan tipis

Pertumbuhan        : Lebih mudah tumbuh dan bisa dibudidayakan.

Usia pertumbuhan : Sekitar 20 tahun.                           

Ciri yang lain       : Mulai banyak tumbuh setelah letusan 2014

                 Tumbuh di satu kawasan, sekitar 200-an meter dari kawah Kelud.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia