Selasa, 25 Feb 2020
radarkediri
icon featured
Politik

Hama Tikus Menyerang 19 Kecamatan di Kediri

15 Februari 2020, 08: 45: 35 WIB | editor : Adi Nugroho

hama tikus kediri

BOM ASAP: Anang Widodo memasang bom asap di sarang tikus di persawanan Desa Pandantoyo, Ngancar. (Habibah Anisa - radarkediri)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Hama tikus masih menjadi momok bagi para petani. Setidaknya, 19 kecamatan telah terserang hama hewan pengerat tersebut. Dengan total lahan persawahan yang rusak mencapai 700 hektare.

Masifnya serangan hama tikus itu membuat pemkab melakukan upaya gerakan serentak penanganan dan pengendalian terhadap organisme pengganggu tumbuhan (OPT). Yang secara simbolis ditandai di Desa Pandantoyo, Kecamatan Ngancar, Kamis lalu (13/2). 

“Jadi hari ini adalah gerakan pengendalian serentak. Ini adalah bentuk perhatian bupati terhadap dunia pertanian,” terang Plt Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Anang Widodo di lokasi pengendalian serentak kemarin.

Menurutnya, ledakan populasi tikus ini karena adanya perubahan iklim. Karena kenaikan suhu sebanyak dua derajat secara global menjadi salah satu faktor. Peningkatan suhu itu membuat tikus berkembang biak dengan cepat.

"Hari ini kami lakukan gerakan serentak dalam membasmi hama tikus di lokasi 19 kecamatan yang menjadi lokasi terdampak,” imbuhnya.

Dengan OPT secara serempak itu dampat meningkatkan efesiensi dalam pemberantasan. Sedangkan untuk lahan tanaman yang diserang, hampir semua tanaman menjadi korban keganasan tikus. Baik itu padi, jagung, maupun cabai.

Cara yang dilakukan dalam OPT tersebut adalah gropyokan tikus dan omposan. Untuk gropoyokan dengan menggunakan perangkap dan racun tikus. Sedangkan omposan dilakukannya dengan pengasapan. Petani melemparkan bom asap ke dalam lubang-lubang sarang tikus.

“Petani harus mengetahui bahwa tikus memiliki beberapa karakter,” ungkap Anang.

Dalam keadaan normal,  selama satu tahun tikus dapat berkembang biak menjadi 1.128 ekor. Saat beranak bisa lahir enam ekor berpasangan. Bahkan, setelah melahirkan anak malamnya tikus betina sudah minta dikawini oleh penjantannya.

Begitu pula dengan anak tikus. Dalam usia tiga minggu sudah minta untuk dikawin. Sehingga hal ini menyebabkan perkembangbiakan tikus sangat pesat.

Tikus memiliki naluri pada hidung dan pada bagian kumis. Ketika kumis tikus dipotong maka tikus menjadi gila. Tikus tidak dapat berjalan dengan normal. “Untuk para petani jangan pernah memberikan racun kepada tikus secara kontak, namun memberikan racun secara sistemik,” imbuhnya.

Memberikan racun secara kontak adalah ketika tikus diberi makan secara langsung dan mati di tempat. Tikus lain yang lewat akan mencari tahu apa yang menyebabkan temannya itu mati. Karena tahu penyebab kematian tikus sebelumnya, sehingga jebakan kontak dinilai kurang efektif.

Jika menggunakan cara sistemik maka tikus akan mati secara perlahan. Dalam pemberian racun sistemik itu lokasinya harus sama. Namun apabila di lokasi tersebut tidak ada perubahan maka harus segera berganti tempat.

Untuk diketahui, dari total 29 kecamatan yang ada, 19 di antaranya terdampak hama tikus. Kecamatan itu adalah Kandangan, Kayenkidul, Gurah, Pagu, Semen, Ngasem, Pare, Banyakan, Ngancar, Ngadiluwih, Kras, Kepung, Gampeng, Grogol, Purwoasri, Kandat, Papar, Plosoklaten, dan Wates.kasinya harus sama. Namun apabila di lokasi tersebut tidak ada perubahan maka harus segera berganti tempat.

Untuk diketahui, dari total 29 kecamatan yang ada, 19 di antaranya terdampak hama tikus. Kecamatan itu adalah Kandangan, Kayenkidul, Gurah, Pagu, Semen, Ngasem, Pare, Banyakan, Ngancar, Ngadiluwih, Kras, Kepung, Gampeng, Grogol, Purwoasri, Kandat, Papar, Plosoklaten, dan Wates.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia