Selasa, 25 Feb 2020
radarkediri
icon featured
Features

Kisah Relawan dan Upaya Memburu Buaya Muara di Sungai Brantas

Tukang Ojek Itu Beli Safety Sendiri

13 Februari 2020, 18: 07: 35 WIB | editor : Adi Nugroho

buaya brantas

MASIH TENANG : Jainal (merah) bersama warga Kelurahan Ringinanom berada di tepi Sungai Brantas, kemarin siang. Pencarian buaya terus dilakukan. (Iqbal Syahroni - radarkediri)

Share this          

Sehari-hari Jainal adalah tukang ojek. Tapi dia selalu menyempatkan diri mendatangi Sungai Brantas yang melintas di Ringinanom. Mencari tahu bila buaya yang dia cari muncul. Meski tak dibayar, lelaki ini tetap melakukan pekerjaan itu karena merasa mau dan mampu.

IQBAL SYAHRONI, Kota, JP Radar Kediri

Beberapa warga berkumpul di tepi Sungai Brantas yang melintas di wilayah Kelurahan Ringinanom, Kecamatan Kota. Hampir semuanya memelototi permukaan air. Sebagian tangan mereka memegang senar panjing. Sementara mata kailnya sudah masuk ke dalam air. Sebagian lagi hanya duduk-duduk sembari mengamati sungai.

buaya muara

Buaya Muara di Brantas (Ilustrasi: Afrizal - radarkediri)

Sebagian besar dari mereka bukanlah warga Ringinanom atau sekitarnya. Namun, semuanya punya tujuan sama. Sama-sama relawan yang mencari keberadaan buaya muara yang dilaporkan ada di Sungai Brantas.

Salah seorang di antaranya adalah Jainal Arifin. Lelaki berumur 25 tahun itu adalah seorang relawan yang mulai bertugas sejak penampakan buaya pertama kalinya. Hingga kemarin dia terus ikut memantau pergerakan reptil tersebut.

“Hingga kemarin belum ada laporan lagi. Tapi tadi ada warga yang bilang buayanya siang-siang kelihatan lagi di permukaan,” ujar Jainal.

Lelaki asal Kelurahan Ngadirejo, Kecamatan/Kota Kediri itu menjelaskan bahwa ia belum melakukan pengecekan lagi. Terakhir, pada Senin (10/2) malam, lima penjerat yang digunakan untuk menangkap buaya sudah dilepas semua. Jainal menyebutkan bahwa umpan daging kepala ayam yang tidak dimakan akan membusuk. “Daripada sungainya tercemar daging busuk,” dalihnya.

Bercerita tentang pengalamannya menjadi relawan, ini merupakan kali pertama Jainal turun ke Sungai Brantas mencari buaya muara. Jika untuk keperluan lain, dia sudah sering melakukan. Termasuk beberapa kali mengikuti ekspedisi dengan menaiki perahu. Menyusuri sungai.

Layaknya relawan yang harus terjun ke alam bebas, Jainal dan teman-temannya melengkapi diri dengan peralatan safety. Tali, boots, dan yang lain. Hebatnya, equipment itu dia beli sendiri. Kebetulan dia juga penyuka hobi naik gunung dan panjat tebing.

Kemampuan menjelajah sudah dia dapatkan sejak ikut kegiatan Palang Merah Remaja (PMR) di sekolah dulu. Kemudian dia juga ikut kelas untuk menambah pengalaman tentang alam, navigasi, dan safety. Itu dia lakukan karena memang dia sangat suka berkecimpung di alam bebas. Menjadi seorang relawan lepas.

Karena itu, bila ada kenalan atau temannya yang mengajak melakukan sesuatu, Jainal bersedia. Dengan catatan tidak ada kesibukan yang tak bisa dia tinggalkan.

“Apa saja, kalau ada yang ngajak, ya monggo,” imbuhnya.

Namun tetap satu yang harus ia lakukan. Yakni mempersiapkan peralatan keselamatan (safety) secara lengkap. Ia tidak ingin setengah-setengah. Tali, pengaman, helm, kacamata, hingga jaket tebal selalu disiapkan. Jaga-jaga bila memang diperlukan.

Jainal bercerita, ia juga pernah diajak teman-teman lamanya mencari anak yang hilang di salah satu bendungan di Malang beberapa tahun lalu. Berangkat dari Kediri bersama teman-teman relawan lain. Di tengah jalan dikabari bahwa anak kecil itu sudah ditemukan. “Ya, balik lagi, Mas,” ujarnya sembari tertawa.

Mulai siang, hingga malam, di sela pekerjaannya menarik ojek, Jainal sempatkan untuk mengunjungi lingkungan Ringinanom. Ia merasa seperti apa yang ia lakukan sekarang, adalah hal yang ia lakukan karena ia mau dan ia mampu. “Kalau tidak ada laporan, dua hari sekali saya cek ke lokasi,” terang Jainal.

Pada Rabu (5/2) pagi, Jainal ingat betul bahwa ia sebenarnya ragu saat hendak turun ke sungai. Namun ia memberanikan diri karena dilengkapi dengan tali safety yang dibawanya dari rumah. “Meski pakai tali, ya kalau rasa ngeri juga masih ada, Mas,” imbuhnya sembari tertawa.

Dibantu dengan peralatan lain dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kediri, dan relawan lain pagi itu, Jainal turun ke sungai. Saat berada di sungai, ketakutannya hilang.

Khusus dalam mencari buaya muara itu, berbagai sosialisasi mereka lakukan. Bersama dengan Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Kediri Adi Sutrisno, Heri, dan dari tiga pilar Kelurahan Ringinanom. “Tentunya agar warga segera melaporkan bila melihat ada buaya terlihat di sungai. Bila bisa ditangkap sendiri, juga harus tetap melaporkan, agar tidak disalahgunakan,” ujar Adi.

Warga sekitar juga masih terus beraktivitas seperti biasa. Yang masih memancing, juga terus setia duduk sembari menunggu umpannya dimakan ikan. Meski mengeluhkan jumlah ikan tangkapan turun drastis ketika ada penampakan buaya muara di belakang rumahnya. “Biasanya jam segini (sore kemarin, Red), sudah dapat, sekarang masih belum,” ujar salah seorang pemancing.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia