Selasa, 25 Feb 2020
radarkediri
icon featured
Sego Tumpang

Cikar Gumuyu

13 Februari 2020, 18: 01: 59 WIB | editor : Adi Nugroho

Cikar Gumuyu

Cikar Gumuyu (radarkediri)

Share this          

Musim hujan yang ndak tentu gini, Jeng Tulip bersyukur banget. Itu karena dia ndak kehujanan saat panas dan ndak kepanasan saat hujan.

Eh… kebalik. Maksudnya, dia ndak khawatir mau hujan atau panas. Soalnya sama-sama ndak ngaruh. Itu karena dia punya tunggangan sendiri. Roda empat. Sehingga, kalaupun hujan turun, dia ndak bakal basah kuyup. Dan, kalaupun terang dengan kualitas yang masih the hot is potatoes alias panas kenthang-kenthang itu, dia juga ndak bakal gemrobyos. Lha wong prahoto-nya sudah dilengkapi dengan AC yang semriwing.

“Makane to, Yu..  Kuwi mobilmu timbang nganggur ndak ditumpaki,” katanya waktu melihat Yu Kanthil menembus hujan dengan motornya ke warung Mbok Dadap.

Maksudnya, Jeng Tulip ndak tega kalau Yu Kanthil sampai basah kuyup. Hanya demi sego tumpang. Lha wong di rumahnya juga ada mobil yang nganggur. Yang bisa dipakai sewaktu-waktu. “Koyok aku ngene iki, kan iso nyang ndi-ndi kapan ae,” tambahnya.

Yu Kanthil cuma mesem, lalu menjawab, “Aku ora wani nyetir dewe.” Pernah ia punya keinginan seperti disampaikan Jeng Tulip, tetangganya itu. Makanya ia pun nekat belajar. Bahkan ambil kursus nyetir. Tak cukup sekali. Melainkan sampai tiga kali.

Cuma, selepas kursus dan mencoba mengemudikan mobilnya sendiri, ia salah injak. Itu terjadi saat hendak mengeluarkan mobil dari dalam pagar. Mestinya, rem yang diinjak. Tapi, Yu Kanthil malah menginjak kuat-kuat pedal gasnya.

Alhasil, mobilnya nyelonong dengan deras. Menyeberang jalan. Lalu masuk ke selokan. Sejak itu, dia kapok njit. Ndak berani pegang setir mobil sendiri. “Aku numpak montor ae,” katanya. Ndak peduli hujan atau panas, dia tetap nekat naik motor. Yang dijamin ndak kepanasan saat hujan dan ndak kehujanan di kala panas (kalau ini dijamin pasti bener).

Apalagi, katanya, naik motor lebih ayem di hati. Ndak gampang waswas. Ini kaitannya sama isi saku. Mbok cuma ngesaki duit Rp 20 ribu, hati tetap tenang. Kalaupun ban bocor atau bensin habis, cukup untuk ongkos nambal maupun beli premium atau pertalite.

Terlebih jika bawa duit Rp 50 ribu. Andhok bareng di warung Mbok Dadap, tetap pede untuk mbayari. “Kowe ora tanduk?,” tanyanya pada Dulgembul yang masih terlihat kelaparan meski sudah meludeskan sepiring sego tumpang.

Kalau naik mobil, nyetir dewe, duit Rp 50 ribu ndak payu. Rp 100 ribu pun ndak bikin percaya diri. Masih waswas. Khawatir. Apalagi dadak kemlinthi mau nraktir orang lain. “Numpak mobil, duite kudu kandel,” ucapnya.

Kecuali numpak mobile wong liya, seperti bis atau angkot. Atau, mobile dewe yang disopiri bojone. “Pokoke aku emoh nyetir dewe,” timpalnya, menegaskan. Yu Kanthil lebih rela pakai jas hujan untuk melindungi diri dari air atau jaketan untuk menepis sengatan matahari yang menimpa kulitnya. “Hora popo numpak montor,” lanjutnya.

Ia teringat ucapan Mbah Dalang: luwih becik numpak cikar tapi gumuyu tinimbang numpak Mercy tapi nangis ndrengungu. Ungkapan itu terasa pas bagi orang-orang seperti dia yang sekadar cukup, ndak sugih. Lebih pas lagi bagi orang-orang yang strata ekonominya di bawahnya.

Lha wong jelas, mobil tidak lebih murah dibanding sepeda motor. Harga beli maupun biaya perawatannya. Apalagi sekelas Mercy yang merek Eropa. Bagi orang seperti Yu Kanthil, jelas tidak ekonomis. Bisa mengganggu neraca keuangan rumah tangganya.

“Nuruti sampeyan, duit janganan bisa katut,” ucapnya kepada Jeng Tulip. Sesekali saja mobil di rumahnya ia gunakan. Jika hendak keluar kota. Jauh. Bukan untuk mobilitas harian dirinya. Yang paling sering cuma antar-jemput anak sekolah.

Duit janganan. Itu hal yang ndak bisa diuthik-uthik bagi kaum ibu seperti Yu Kanthil. Apalagi di saat harga bawang putih meroket seperti hari-hari ini. Gara-gara stoknya berkurang. Impornya seret terimbas korona. Virus yang membuat banyak orang ketakutan. Apalagi hoaksnya. Yang ndak karu-karuan. Yang membuat akal sehat menjadi ikutan hilang.

Untung saja, HP China ndak ikut-ikutan dilarang. Itu bisa bikin mumet Jeng Mayang, Bulik Mawar, atau Yu Dlongop yang hobi selfi-selfian. Padahal, itulah perangkat ajaib yang bisa bikin mereka terlihat cantik ndak ketulungan seperti artis Korea. Dengan pose jempol dan telunjuknya disilang: saranghae. Sambil naik cikar. Yang ndak bikin nangis ndrengungu. (tauhid wijaya)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia