Selasa, 25 Feb 2020
radarkediri
icon featured
Features

Melihat Latihan Para Sinden Cilik di Sanggar Sang Aji Tunjung Seta

Sesuaikan Karakter Vokal Anak

13 Februari 2020, 10: 42: 38 WIB | editor : Adi Nugroho

Boks

MERDU: Terry Tulus (kiri), tutor sanggar Sang Aji Tunjung Seta melatih anak didiknya menyinden disaksikan Titut Hidayat, ketua sanggar (kemeja putih). (Sri Utami - radarkediri.id)

Share this          

Menyinden bukan perkara yang mudah. Di sanggar Sang Aji Tunjung Seta, siswa SD hingga SMA belajar nada-nada pentatonik bersama. Kunci keberhasilan mereka ada pada kejelian tutor memahami karakter vokal anak kemudian menyelaraskannya.

SRI UTAMI, BAGOR. JP Radar Nganjuk

“Duh wong ayu, pepujaning ati... Kaya ngene wong nandang asmara...,” Bowo tembang Nyidam Sari mengalun pelan di sanggar Sang Aji Tunjung Seta, Desa Sekarputih, Bagor  sekitar pukul 15.30, Kamis (6/2) lalu. 

Diiringi tabuhan gamelan untuk menyelaraskan nada, tujuh anak perempuan terlihat berkonsentrasi menembang bowo Nyidam Sari. Terry Tulus, 48, sang tutor ikut menembang sembari memasang telinga mendengarkan suara anak didiknya.

Begitu ada anak didik yang suaranya fals atau menyimpang, dia langsung menyenggolnya. “Ayo disesuaikan. Santai. Rileks. Pelan,” ujarnya sembari kembali menembang memberi arahan nada kepada murid-muridnya.

Sembari terus memperhatikan arahan sang guru, anak-anak berusia delapan tahun hingga 17 tahun itu terus menyelesaikan tembang Nyidam Sari. Begitu Terry, demikian Terry Tulus biasa disapa, meminta agar mereka mengulang bagian tertentu, mereka pun menurutinya.

Tak hanya Terry, Khoiri, sang penabuh gender juga beberapa kali menyelaraskan nada saat mengetahui suara anak-anak itu tak sesuai. “Ma (lima), nem (enem), lu (telu), ma (lima),” sahutnya dengan suara kencang menyelaraskan.       

Mendengar “instruksi” itu, suara anak-anak itu kembali padu. Dari satu tembang, mereka beralih ke tembang lain dengan tingkat kesulitan yang berbeda. “Latar belakang mereka beragam. Jadi, wajar kalau kemampuannya tak sama,” ungkap Terry tentang anak didiknya yang duduk di bangku SD, SMP, dan SMA itu.

Bagaimana perempuan asal Perumahan Werungotok, Kota Nganjuk itu bisa mengajari anak-anak dengan umur yang tidak seragam itu? Ditanya demikian, perempuan yang belajar menembang secara turun-temurun dari keluarganya itu mengaku memiliki trik khusus. “Saya pelajari karakter vokal anak-anak. Karakter mereka berbeda-beda. Pelajarannya menyesuaikan,” lanjutnya.

Berbeda dengan tutor lainnya, Terry tidak lebih dulu menjejali notasi kepada anak didiknya. Melainkan mengajak anak-anak praktik langsung dengan memberikan contoh nada.

Cara itu sengaja dipilih agar anak-anak menyukai tembang Jawa. “Yang penting suka dulu. Kalau dari awal sudah dijejali notasi, saya takut mereka bosan dan perotol,” tuturnya.

Dengan cara tersebut, Terry bersyukur anak-anak dari berbagai wilayah di Nganjuk hingga Kabupaten Kediri itu semangat berlatih. Setiap Jumat dan Minggu sore, mereka selalu datang ke rumah Mujianto, yang sekaligus jadi sanggar untuk berlatih.

Dea Milasari, 8, membenarkan pernyataan Terry. Bocah asal Kertosono itu mengaku rutin berlatih dua kali seminggu. Meski harus menempuh jarak yang jauh, dia senang bisa berlatih menyinden. “Saya ingin jadi sinden,” kata bocah kelas 3 SD itu lirih tampak malu-malu.

Sementara itu, Titut Hidayat, ketua sanggar Sang Aji Tunjung Seta, yang menyaksikan anak-anak berlatih menyinden terlihat melempar senyum. Pria yang juga pedalang ini lega melihat mereka tetap semangat berlatih.

Didirikan pada 22 Agustus 2019, Sang Aji Tunjung Seta tidak hanya melatih menyinden. Tetapi juga mendalang. Pesertanya juga anak-anak yang duduk di bangku SD hingga SMA.

Jika sanggar lain mematok biaya tertentu setiap bulan, anak-anak yang berlatih di sana tidak dibebankan biaya secara khusus. “Seikhlasnya. Tidak ada tarif. Yang tidak bayar juga banyak. Kami diam saja,” tuturnya sambil tersenyum.   

Dengan konsep “seikhlasnya” ini, belakangan orang tua siswa justru semakin akrab dengan pengurus dan tutor. Tak jarang setiap latihan mereka membawa kue dan makanan. Misalnya nasi jagung lengkap dengan lauk dan sayurannya. “Kita makan ramai-ramai di sini. Seperti keluarga sendiri,” beber Titut tertawa.

Sejak awal menggagas pendirian sanggar bersama Mujianto, sang pemilik rumah, dan beberapa anggota Pepadi, mereka memang tidak berorientasi ekonomi. Melainkan, untuk menyatukan rasa cinta budaya Jawa. Sekaligus mencari generasi penerus untuk melestarikannya.

Karenanya, tak hanya siswa yang tidak dibebani biaya khusus. Sang tutor yang melatih menyinden dan mendalang juga tidak mendapat bayaran secara pasti. “Ada dikasih. Tidak ada ya tidak. Dan mereka juga tidak pernah menanyakan,” lanjutnya salut akan keihklasan para tutor.      

Bagaimana dengan operasional sanggar? lagi-lagi Titut mengaku lega karena semuanya ditanggung oleh Mujianto. Pria yang bekerja di Lapas Nganjuk itu memang memiliki sarana dan prasarana yang lengkap.

Tidak hanya rumah yang luas, dia juga punya gamelan yang lengkap. Pun dengan satu set wayang yang bisa jadi alat berlatih. “Anak-anak sudah sering tampil. Itu jadi sarana latihan mental. Kalau ada sedikit honor kami belikan baju untuk mereka,” sahut Mujianto yang sedari awal diam.

Seperti halnya Titut, pria yang juga dalang itu mengaku senang rumahnya digunakan untuk berlatih. “Saya tidak berpikir untuk mendapat uang dari sini. Karena hobi yang sama. Saya senang kalau ada yang semangat belajar menyinden dan mendalang,” urainya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia