Selasa, 25 Feb 2020
radarkediri
icon featured
Kolom
MAHFUD

-- Korona --  

11 Februari 2020, 18: 47: 02 WIB | editor : Adi Nugroho

mahfud

Oleh : Mahfud (radarkediri)

Share this          

Virus korona benar-benar jadi ‘primadona’ saat ini. Perhatian kita pada perkembangan virus yang bermutasi dari ‘versi’ lama menjadi ‘versi’ baru yang sangat mengerikan ini benar-benar tinggi. Penyebabnya tentu saja dampak yang disebabkan pada infeksinya pada manusia. 

Total, secara global, virus ini sudah membunuh lebih dari 600 orang. Terbesar tentu saja di negara ‘asal’ virus ini, Tiongkok. Di kota Wuhan, Provinisi Hubei, tentu saja korban terbesar yang terjadi. Kota ini bahkan sudah diisolasi oleh otoritas setempat. Tak boleh ada yang keluar – masuk tanpa izin pemegang kewenangan.

Di Indonesia, hingga saat ini memang belum ditemukan pasien yang positif terpapar virus yang konon merebak karena kesukaan manusia menyantap hewan liar ini. Namun, tetap saja kehebohan selalu terjadi. Sebagian karena kewaspadaan. Sebagian lainnya karena peran kabar bohong atau informasi yang dilebih-lebihkan. Hoax tentang beberapa rumah sakit yang merawat pasien korona sempat merebak di media sosial (medsos). Yang sayangnya, masih banyak saja yang percaya pada kabar-kabar seperti itu.

Selain hoax, korona juga memunculkan situasi lain pada masyarakat kita yang sebenarnya terkenal dengan masyarakat yang tepa selira dan menjunjung sikap tenggang rasa tinggi itu. Warga Natuna, yang daerahnya jadi lokasi tempat observasi bagi WNI yang baru dievakuasi dari Tiongkok, menggeliatkan penolakan. Mereka banyak yang memilih eksodus. Pergi keluar daerah karena takut tertular.

Padahal, tempat mereka bukan menjadi tempat karantina orang yang terpapar virus korona. Tapi hanya lokasi observasi bagi saudara mereka yang saat peristiwa itu merebak kebetulan berada di Wuhan. Toh, ketakutan bisa mengalahkan rasa persaudaraan sebangsa dan setanah air.

Tapi, saya tidak mencoba untuk membahas virus korona dan semua dinamikanya saat ini. Toh yang penting adalah kewaspadaan kita pada penyebaran virus ini. Termasuk upaya awal yang bisa dimulai dari diri kita. Yaitu pola hidup sehat.

Saya justru ingin mengingatkan bahwa ada ‘virus’ lain yang juga menjadi mesin pembunuh masal. Tahun lalu misalnya, ‘virus’ ini mampu membunuh 80 orang per hari. Artinya, dalam sebulan ada 2.400 orang meninggal. Dalam setahun? Bisa dikalikan dengan 12. Hasilnya? Puluhan ribu orang meninggal dalam setahun akibat kecelakaan di jalan raya.

Kemudian coba kita lihat apa faktor penyebab kecelakaan itu? Sebanyak 61 persen akibat faktor manusianya. Faktor pengemudinya. Sedangkan sisanya karena kendaraan (9 persen) dan sarana-prasarananya.

Dari data di atas sudah bisa kita simpulkan secara sederhana. Attitude kita dalam berlalu lintas masih sangat-sangat rendah. Dan itu yang membuat tingkat kecelakaan masih sangat tinggi. Termasuk di wilayah Kediri. Hampir setiap hari kecelakaan terjadi. Dan itu seringkali disertai dengan korban jiwa.

Karena itu tidak berlebihan kiranya kita juga menempatkan kewaspadan pada kecelakaan lalu lintas sama seperti kewaspadaan kita pada virus korona. Apalagi ancaman dari ‘virus’ kecelakaan lalu lintas itu benar-benar tinggi. Korban pun berjatuhan dari hari ke hari.

Lalu, dengan cara apa? Perlu keterlibatan yang intensif dari semua stakeholder lalu lintas. Pemerintah dan tentu saja masyarakat. Tingginya pertumbuhan kendaraan bermotor memang bak pisau bermata ganda. Satu sisi menguntungkan dari sisi pertumbuhan ekonomi, di sisi lain membuat sesak jalanan yang juga menjadi satu pemicu kecelakaan. Karena itu pemerintah perlu melakukan regulasi pada peningkatan kendaraan yang sangat tinggi itu.

Yang lain, tentu saja mengubah pola kita berlalu lintas. Sikap ugal-ugalan dan menang sendiri sudah selayaknya kita buang jauh-jauh. Empati dan menghargai pengguna jalan yang lain adalah kunci dari keselamatan bersama.

Karena itu, saya merupakan salah satu yang setuju ketika ada tes psikologis bagi pencari surat izin mengemudi. Juga, saya bisa memahami bila ada usulan orang tua harus ikut bertanggung jawab bila sang anak yang masih di bawah umur ketahuan membawa kendaraan dan terlibat kecelakaan. Toh, semua regulasi itu untuk kebaikan kita semua. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia