Selasa, 25 Feb 2020
radarkediri
icon featured
Kolom
ANWAR BAHAR BASALAMAH

Menunggu Fleksibilitas Permainan Itu Diterapkan

08 Februari 2020, 13: 45: 49 WIB | editor : Adi Nugroho

Anwar Bahar Basalamah

Anwar Bahar Basalamah (radarkediri)

Share this          

Bersama Persela Lamongan, Persik Kediri adalah tim paling sukses dalam gelaran Piala Gubernur Jawa Timur. Sejak dihelat pada 2002 sampai 2014, Macan Putih sudah lima kali membawa pulang trofi turnamen pramusim tersebut.

Di tahun terakhir itu, mereka juga memenangkannya. Di bawah asuhan Agus Yuwono, di partai puncak Persik mengalahkan Persegres Gresik 2-1 di Stadion Brawijaya. Sehingga ketika Piala Gubernur kembali digelar tahun ini pada 10 Februari, tim kebanggaan warga Kota Tahu itu berstatus juara bertahan.

Sebenarnya status tersebut tidak terlalu penting untuk ajang pramusim. Kadar gengsinya tentu saja tak mampu mengalahkan kompetisi yang sesungguhnya. Apalagi Piala Gubernur sudah terlalu lama vakum. Barangkali banyak orang lupa atau melupakan siapa klub terakhir yang menjadi jawara.

Ketika ditanya, Manajer Persik Beny Kurniawan juga menganggap Piala Gubernur hanya sebagai ajang pemanasan sebelum Liga 1 bergulir. Tidak ada target muluk-muluk. Jadi juara disyukuri. Tidak juga bukan masalah pelik. “Kami jadikan tolok ukur kemampuan Persik musim ini,” katanya.

Senada dengan sang manajer, pelatih Joko ‘Gethuk’ Susilo juga menilai Piala Gubernur sebagai sasaran antara. Dia lebih fokus pada kompetisi Liga 1. Hanya saja, turnamen pramusim tetap penting untuk  mengukur mental tanding para pemainnya.

Maklum, musim ini skuad Persik banyak dihuni para pemain muda. Beberapa di antaranya bahkan belum pernah mencicipi kerasnya kompetisi sepak bola kasta tertinggi di tanah air itu. Karena itu, mereka perlu ditempa di turnamen. “Nanti pasti ada tekanan. Dari lawan yang lebih mapan atau suporter,” ucap Gethuk.

Pernyataan Gethuk ada benarnya. Sepak bola modern tidak cukup hanya mengandalkan adu skill, teknik, dan fisik. Mental bertanding juga perlu diasah untuk melawan ego dalam diri. Juga membiasakan mereka dengan teror ribuan suporter lawan yang terus menggema di setiap sudut stadion.

Dari puluhan pemain yang dibawa Gethuk nanti di Piala Gubernur, termasuk penggawa asing, sebagian memang sudah terbiasa dengan tekanan tersebut. Namun, bagi pemain muda, menghadapi lawan sepadan atau lebih kuat, bisa menjadi pengalaman berharga.

Harapannya, saat kompetisi berjalan, mereka tidak keder lagi ketika berhadapan dengan pemain bintang. Lebih-lebih silau dengan kebintangannya. Dalam hal ini, Gethuk diyakini mampu menaikkan mental tanding anak asuhnya.

Jauh lebih penting lagi adalah bagaimana pria 49 tahun itu mengatur komposisi pemainnya. Dia memang bukan tipe juru taktik yang terpaku pada satu pakem formasi. Skema yang variatif justru lebih menguntungkan untuk skuadnya. Ketika pola itu diterapkan, lawan sulit untuk melihat sisi lemahnya.

Soal alternatif formasi, hal itu sudah dibuktikan Gethuk selama uji coba Persik. Pria kelahiran Cepu, Jawa Tengah itu empat kali menerapkan formasi berbeda. Mulai dari 4-4-2 diamond, 4-4-2 flat, 3-5-2 sampai 3-4-3.

Bukan formasi saja yang berubah-ubah. Dia juga menempatkan pemainnya di banyak posisi. Di suatu laga, Andri Ibo pernah dicobanya di sektor kanan pertahanan. Padahal, putra Papua yang musim lalu membela Barito Putera itu lebih sering bemain sebagai stopper.

Menarik ditunggu taktik dari sang arsitek di laga-laga Persik di Piala Gubernur. Menarik pula sistem fleksibilitas permainan yang selalu dipegang teguh itu. Dalam beberapa kesempatan, Gethuk selalu membicarakan kemungkinan untuk mengubah posisi pemain.

Karena mengukur kekuatan itu lebih penting ketimbang berbicara juara, sebaiknya Persikmania tidak perlu memberikan ekspektasi terlalu tinggi terhadap kiprah Persik di Piala Gubernur. Sejarah telah mencatat, para pemenang turnamen tersebut tidak secara otomatis bakal tampil hebat di liga.

Kalaupun Persik nanti mampu melangkah jauh, anggap saja sebagai kejutan luar biasa. Kalaupun tidak sanggup berbuat banyak, cukup katakan halo pada kejayaan masa lampau. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia