Rabu, 03 Jun 2020
radarkediri
Home > Hukum & Kriminal
icon featured
Hukum & Kriminal

Kegelisahan Nihan Dwi Martani usai Menampung Limbah Abu Slag Aluminium

Niat Untung Jadi Buntung

08 Februari 2020, 12: 49: 15 WIB | editor : Adi Nugroho

Limbah

PASRAH: Nihan Dwi Martani (kiri) berbincang dengan Camat Patianrowo Edie Srianto di sela-sela pemindahan limbah asalum, Sabtu (1/2) lalu. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

Tak pernah terbayang di benak Nihan Dwi Martani jika keputusannya menampung material “uruk” gratis dari Jombang itu akan berbuah petaka. Setelah limbah asalum menimbulkan bau dan diprotes lingkungan, dia harus memindahkannya dengan biaya mencapai puluhan juta rupiah.

REKIAN, Patianrowo. JP Radar Nganjuk

Jarum jam menunjukkan pukul 13.30. Satu unit ekskavator terlihat hilir mudik di belakang pekarangan rumah Nihan Dwi Martani, di Dusun Satak, Desa Ngepung, Patianrowo. Mengeruk tumpukan serbuk berwarna abu-abu putih yang tak lain limbah abu slag aluminium (asalum).

Di dekat ekskavator itu, ada tujuh unit dump truk yang mengantre. Menunggu untuk diisi sebelum mengirim kembali limbah ke tempat asalnya. Di Jombang. Melewati jalan yang becek dan licin, satu unit truk yang mendapat giliran diisi, terlihat hanya bisa melaju pelan.

Nihan yang kemarin sore memakai topi warna hitam sibuk memberikan arahan. Meminta sopir memilih jalan yang relatif “kering” agar roda tak tertimbun lumpur dan macet.

Hal yang sama dilakukan begitu truk selesai diisi limbah. Nihan beberapa kali berteriak. Terutama saat truk macet di tengah jalan. “Ayo maju!” teriak Nihan pada sopir truk setelah kendaraan didorong ekskavator dari belakang.   

Sedianya, pengerukan limbah kemarin dimulai sejak pagi. Tetapi, setelah melihat kondisi jalan yang becek dan licin karena lembab, niat itu diurungkan. Tujuh unit truk yang sudah bersiap terpaksa menunggu hingga pukul 13.30.

Pengerukan dimulai setelah Nihan meyakini akses jalan menuju tempat timbunan limbah di belakang rumahnya, bisa dilewati. “Tadi pagi tidak bisa,” lanjut pria berusia 43 tahun itu sembari melihat jalan di samping rumahnya yang berlumpur dan becek.

Ya. Lumpur itu memang tidak datang secara tiba-tiba. Nihan sengaja mendatangkannya untuk menguruk limbah. Dia mengambil solusi tersebut setelah muncul protes dari warga tentang bau yang menyengat.

Belakangan, pengurukan yang dilakukan tak banyak membawa perubahan. Bau limbah tetap menyengat. Protes dari warga semakin keras menuntut limbah berbahaya itu segera dipindahkan. “Hari ini (kemarin, Red) hanya bisa dipindah tujuh truk,” urai Nihan.

Sebelumnya, Nihan sempat melakukan pengerukan limbah di pekarangannya pada Jumat (31/1) lalu hingga Sabtu (1/2) lalu. Meski masih ada sekitar 14 rit limbah bercampur tanah uruk di tanahnya, pengerukan harus dihentikan. Alasannya, uang untuk pemindahan limbah sudah habis.

Uang Rp 20 juta yang dikumpulkan termasuk dengan menjual sapi peliharaannya, ludes. Celakanya, masih ada separo material yang harus dipindahkan. “Ini dapat bantuan uang Rp 4 juta (dari Suyanto, pengepul limbah di Jombang, Red),” tuturnya.      

Jumlah yang tak seberapa itu dipastikan hanya cukup untuk mengangkut tujuh truk limbah. Selebihnya, sopir truk tebu itu masih harus memutar otak mencari bantuan agar semua limbah bisa dipindahkan.

Sesaat kemudian matanya menerawang. Mengingat kembali peristiwa pada Oktober 2019 lalu. Saat total 28 rit limbah asalum masuk ke pekarangannya. Dia sama sekali tak menyangka jika keputusannya kala itu akan berbuntut panjang. Bahkan, sangat panjang buntutnya. “Waktu itu saya pikir untuk tanah uruk. Tidak tahu kalau limbah berbahaya,” ungkapnya lirih.

Dia semakin terpikat karena dijanjikan mendapat sejumlah uang. Bagaimana tidak senang? Nihan mendapat material uruk gratis plus mendapatkan uang. Tak ayal dia langsung mengiyakan.

Tiap satu truk limbah yang ditampung di pekarangannya, Nihan mendapat uang Rp 250 ribu. Itu belum termasuk biaya sewa truk yang didapat. Sebab, truk untuk mengangkut limbah dari Jombang ke Ngepung menggunakan armada miliknya.    

Dengan total 28 truk limbah yang ditampung, Nihan berhasil mendapat uang Rp 7 juta. Kegembiraannya mendapatkan uang dan material uruk gratis tak berlangsung lama. Setelah hujan mulai turun akhir November lalu, Nihan menyadari jika serbuk yang ditampungnya bukan serbuk biasa. Melainkan berbahaya.

Keresahan pun bermunculan dari para tetangga. Mereka mengeluhkan sesak, perih di mata, hingga dampak kepada hewan ternak dan sumur. Puncaknya, awal Januari lalu warga menggeruduk rumah Nihan. Menuntut limbah dipindah sesuai waktu yang dijanjikan. “Akhirnya ya dipindah kemarin itu. Saya sudah habis lebih dari Rp 20 juta,” sesalnya.

Nasi sudah menjadi bubur. Menyesali berkepanjangan juga tidak akan mengubah keadaan. Kini Nihan terus berupaya memindahkan serbuk pembawa petaka itu dari rumahnya.

Dia pun berencana kembali meminta uang kepada Suyanto, sang pengepul limbah asal Desa Kendalsari, Sumobito, Jombang, untuk menyelesaikan pemindahan limbah. “Saya juga akan minta bantuan sopir yang dulu mengangkut limbah. Dia kan juga dapat duit dulu,” tegasnya berharap masalah ini bisa segera selesai.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia