Selasa, 25 Feb 2020
radarkediri
icon featured
Features

Ekskavasi Gading Purba Berusia Ratusan Ribu Tahun di Nganjuk

Temukan Alat Berburu Manusia Purba di Tritik

07 Februari 2020, 12: 07: 38 WIB | editor : Adi Nugroho

Gading

RAPUH: Tim BPSMP memasang kardus di sekeliling fosil gading gajah sebelum diberi cairan poliuretan di hutan Desa Tritik, Rejoso. Treatment khusus ini dilakukan agar benda bersejarah itu tak rusak saat diangkat dan dibawa ke museum Anjuk Ladang, kemarin. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

REJOSO,JP Radar Nganjuk-Tim Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran, Sragen, Jawa Tengah mengekskavasi fosil di hutan Desa Tritik, Rejoso, kemarin. Benda peninggalan sejarah berupa tanduk kerbau dan gading gajah stegedon itu langsung dibawa ke museum Anjuk Ladang. 

Arkeolog BPSMP Sangiran Febri Wijanarko mengatakan, dari formasi kabuh yang terlihat, usia fosil yang diekskavasi kemarin diperkirakan 300 ribu sampai 900 ribu tahun. “Dilihat dari lapisan tanah di sekitar sebaran temuan,” ujar Febri kepada JP Radar Nganjuk.

Untuk diketahui, gading gajah yang ditemukan kemarin sepanjang 1,09 meter dan diameter 56 sentimeter. Melihat kondisinya yang rapuh, tim BPSMP menggunakan bahan poliuretan atau sejenis polimer untuk membungkus fosil sebelum diangkat. “Ini agar tidak rusak saat dipindahkan,” lanjut Febri.

Gading

AMAN: Tim BPSMP Sangiran dan disparporabud mengangkat fosil gading gajah yang sudah diberi poliuretan dan dibungkus kardus, kemarin. (Rekian - radarkediri.id)

Jika gading gajah harus diberi poliuretan, tidak demikian dengan tanduk kerbau. Fosil yang sudah berupa potongan-potongan itu langsung dimasukkan ke kantong plastik dan dibawa ke museum.

Dikatakan Febri, fosil hewan yang ditemukan di hutan Desa Tritik, Rejoso kemarin itu hidup di masa keemasan binatang purba. Banyaknya binatang purba di sana, menurut Febri tak lepas dari kondisi wilayah yang subur.

Sesuai kondisi formasi kabuh, terang Febri, hutan di  pulau Jawa, termasuk di Desa Tritik, terdapat sungai yang luas. “Hutannya terbuka dan banyak sumber makanan,” terangnya.

Sementara itu, selain fosil binatang, peninggalan manusia purba juga ditemukan di sekitar lokasi gading gajah. “Tahun 2012, kami pernah temukan bola batu. Saat ini (ekskavasi kemarin, Red) juga ditemukan bola batu yang ada di dekat gading gajah,” tandas Febri.

Dia memperkirakan bola batu dahulu digunakan untuk berburu oleh manusia purba. Dengan temuan itu, tidak menutup kemungkinan di kawasan hutan Desa Tritik juga ada pemukiman manusia purba. Mereka hidup dengan cara berburu.

Melihat banyaknya sebaran benda peninggalan zaman purba, tim dari BPSMP sudah menyiapkan kajian lanjutan. Rencananya, mereka akan melakukan penelitian lanjutan di sana. “Penelitian berikutnya bisa mengungkap potensi dan sebaran fosil di wilayah Nganjuk,” paparnya.

Terpisah, Kasi Seni Tradisi, Museum, Kepurbakalaan dan Budaya Disparporabud Nganjuk Amin Fuadi mengatakan, pihaknya akan melakukan konservasi fosil yang ditemukan tim BPSMP itu. Menurut Amin masih banyak fosil-fosil yang belum diselamatkan dan tertanam di hutan Tritik.

“Kedalaman lokasi fosilnya hampir sama dengan gading gajah stegoden ini. Sekitar setengah meter sampai satu meter,” urai Amin sembari menyebut selain menyelamatkan fosil hewan, disparporabud juga menemukan tulang manusia purba yang ada di museum.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia