Selasa, 31 Mar 2020
radarkediri
Home > Sportainment
icon featured
Sportainment

Cerita di Balik Sukses Sepak Bola Wanita Putri Kediri Raih Juara Jatim

Terapkan Metode Latihan Keras tapi Lunak  

04 Februari 2020, 18: 04: 07 WIB | editor : Adi Nugroho

sepak bola putri kediri

  PESTA JUARA: Tim Putri Kediri yang mewakili Askot PSSI Kota Kediri usai menerima trofi juara Pertiwi Cup 2019 beberapa waktu lalu.   (PUTRI KEDIRI for radarkediri)

Share this          

Penantian delapan tahun tim sepak bola putri Kota Kediri terbayar lunas Januari lalu. Setelah sebelumnya hanya berkutat di empat besar, kali ini mereka mampu merengkuh juara. Sekaligus menapak kaki ke tingkat nasional.

MUALIFU ROSYIDIN AL FARISI, Kota, JP Radar Kediri

Raut muka Nurhadi Lukman sangat ceria. Senyum selalu mengembang di bibirnya. Kemenangan di final Pertiwi Cup 2019, Sabtu (18/1) jadi penyebabnya. Apalagi, di partai puncak itu ibaratnya adalah derby. Karena tim yang dilatihnya harus menghadapi tim sepak bola wanita dari Kabupaten Kediri, Candra Kirana.

“Baru kali ini (bisa juara). Sebelumnya hanya masuk empat besar,” ujar lelaki ini ceria.

Tim yang diasuhnya, Putri Kediri, selalu hadir dalam kejuaraan yang awalnya bernama Budhe Karwo Cup tersebut. Mewakili PSSI Asosiasi Kota Kediri, timnya yang bernama Putri Kediri tersebut selalu berpartisipasi dalam delapan tahun terakhir.

Perjuangan mereka tahun ini juga tak ringan. Sebelum melenggang ke final mereka harus melewati hadangan tim lawan mulai penyisihan grup. Bahkan, di grup A, Putri Kediri harus menghadapi Kota Batu yang notabene adalah tuan rumah.

Hasil memuaskan itu ibaratnya membayar lunas kerja keras seluruh tim selama ini. Tim ini berisi talenta-talenta muda di cabang sepak bola wanita. Rata-rata berusia 16 hingga 25 tahun. “Ada yang masih SMP, SMA, hingga mahasiswa,” terang pelatih berusia 37 tahun ini.

Mereka berlatih seminggu tiga kali, Kamis, Sabtu, dan Minggu. Menggunakan dua lapangan. Yaitu di Lapangan Hijau Karangsono, Lirboyo, dan lapangan di lingkungan Grogol, Kelurahan Singonegaran. Karena mayoritas adalah pelajar dan mahasiswa, latihan baru berlangsung usai bubaran waktu sekolah. Sekitar pukul 16.30.

Untuk mengatasi kejenuhan dalam berlatih, terkadang lokasinya berpindah-pindah. Seperti di Lapangan Blabak dan Lapangan Gurah. “Kalo (lapangan untuk berlatih) itu-itu terus kan bosen juga ya,” ucap pelatih asal Jamsaren, Kota Kediri itu.

Sebagai pelatih sejak awal Lukman mempersiapkan segala hal. Dia memastikan semua pemain harus merasa senang dahulu dengan sepak bola.

Menariknya, awalnya pemain rekrutannya banyak yang belum bisa bermain bola. Namun karena punya motivasi kuat, lama-lama mereka mampu menunjukkan skill sepak bola mumpuni.

Pemain-pemain Putri Kediri ini menunjukkan tekad besar selama berlatih. Berbagai halangan mampu mereka lewati. Tentu saja, hal-hal menarik dan unik pun sering terjadi selama persiapan itu. Seperti, ketika berlatih hampir setengah dari jumlah pemainnya ternyata mengalami menstruasi.

Lukman memakluminya karena memang pemain yang sedang dilatihnya semuanya perempuan. Karena itu Lukman harus bisa mengatur ritme pelatihan menjadi keras dan lembut. “Tidak bisa dipaksa, namanya cewek kan gampang baper (bawa perasaan, Red) nanti kan repot,” terangnya.

Apalagi, proses pembentukan tim sering diwarnai bongkar pasang pemain. Bukan karena mereka berpindah klub atau lainnya. Tapi banyak pemain lawas yang keluar. Alasannya karena sudah berumah tangga atau bekerja.

Namun, ada juga yang tetap bertahan meskipun sudah bekerja. Seperti pemain yang bernama Nur Ilma Putri dan Elva Agustiani Dewi. Dua pemain tersebut masih ikut latihan meskipun masuk perusahaan ternama. Terlebih, keberhasilan mereka masuk perusaan itu juga berkat prestasinya selama di Putri Kediri.

Juga ada Ismi Nur Azizah dan Siti Yuni Astuti. Dua pemain itu masih berstatus mahasiswa di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Karena itu mereka rela melakoni perjalanan jauh demi berlatih bersama rekan-rekannya.

Kesebelasan Putri Kediri terbentuk pada 2011. Kini mereka memiliki 25 pemain. Sebagian besar merupakan pemain asli Kediri. Tapi ada juga yang datang dari luar Kediri.

Di kejuaraan Pertiwi Cup kali ini, mereka berada di Grup A. Bersama tim dari Kota Batu, Banyuwangi, dan Tuban. Sedangkan Grup B diisi Gayatri Tulungagung, Candra Kirana Kabupaten Kediri, dan Mojosari Putri dari Mojokerto.

Sejak awal kejuaraan, tim yang diketuai Plt Edy Hendro itu bertanding sepenuhnya di Stadion Gelora Brantas, Kota Batu. Sedangkan grup B bertanding di lapangan hijau Tulungagung.

Pada laga semifinal pada Kamis (16/1), tim maju ke babak final karena perolehan skor 3-2 dari adu penalti dengan tim Mojorsari Putri. Saat babak final yang diadakan dua hari kemudian Putri Kediri sempat mengalami penurunan performa. Sempat tertinggal lebih dulu, mereka akhirnya bisa menjadi juara.

“Langsung formasi diubah, yang sebelumnya 4-4-2 menjadi 4-3-3,” papar Lukman.

Kejadian yang sama seperti semifinal terjadi. Mereka harus melalui dengan adu penalti. Akhirnya mereka menang dengan skor 4-2.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia