Selasa, 31 Mar 2020
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Di Badas, Warga Temukan Benda Bersejarah di Pekarangan Rumah

Masih Akan Dicek

04 Februari 2020, 17: 05: 21 WIB | editor : Adi Nugroho

benda bersejarah

PURBAKALA?: Roby menunjukkan benda yang diduga purbakala yang terpendam di dalam pekarangan rumah, kemarin. (Rendi Mahendra - radarkediri)

Share this          

BADAS, JP Radar Kediri — Diduga benda bersejarah ditemukan di pekarangan rumah Sujono, 55, warga Dusun Nepen, Desa Krecek, Kecamatan Badas. Benda-benda itu berupa gerabah, pecahan keramik, terakota, lumpang, batu penumbuk, umpak, serta potongan batu pipisan.

Mulanya Riza, 26, dan Roby 13, kedua putra Jono ini curiga dengan batu andesit yang tertutup tanah di pekarangan rumahnya. Selanjutnya Riza memotret batu tersebut, dan disebarkan di media sosial.

Hal tersebut dibenarkan oleh Roby mengatakan kalau ada beberapa orang sengaja datang ke rumahnya dan menggali pekarangan, Jumat (31/1). Benar saja, saat digali, ada benda-benda dari batu dan diduga memiliki nilai sejarah. “Setelah foto disebar ke media sosial, lalu didatangi komunitas Jumat (31/1),” terang Roby, kemarin (3/1).

Haris, 28, tetangga Roby yang juga mencintai sejarah mengatakan bahwa di pekarangan tersebut pernah ditemukan benda-benda bersejarah. “Dulu pas saya masih SMA, sekitar tahun 2009, di pekarangan rumah ini kan ada penggalian untuk kolam ikan. Nah saat itu banyak ditemukan benda-benda bersejarah seperti gerabah,” terang alumni UIN Sunan Ampel Surabaya tersebut.

Bermula dari penemuan itu, banyak yang berdatangan ke tempat tersebut. Bahkan menurut Haris, banyak pendatang dari luar kota yang datang berniat mengambil benda bersejarah tersebut. “Ada yang sengaja datang untuk mengambil perhiasan dari emas, serta mahkota. Mahkotanya kalau ndak salah dibawa orang Ngawi,” terang Haris.

Selain itu, menurut Roby, ayahnya pernah menemukan batu andesit dengan lambang suryakala majapahit. Tapi batu tersebut di buang ke dalam kolam ikan yang sudah tidak terpakai dan bertumpukan sampah. “Akibat membuang batu itu, ayah saya sakit,” terang Roby.

Haris berharap dari dinas terkait untuk menindaklanjuti temuan tersebut. “Kami berharap ditindaklanjuti dari dinas terkait. Sebab dari daerah sini sudah banyak yang mengambil benda-benda tersebut untuk kepentingan pribadi,” jelas Haris.

Sementara menurut Eko Priatno, arkeolog dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kediri, untuk memastikan status benda tersebut perlu pengecekkan langsung. “Butuh dilihat dulu, dan kalau benar itu lumpang batu, maka pemakaiannya sudah awal abad 20. Jadi belum tentu cagar budaya,” jelas Eko.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia