Selasa, 25 Feb 2020
radarkediri
icon featured
Kolom

Tak Ada Spesialis di Mata Gethuk

02 Februari 2020, 22: 05: 23 WIB | editor : Adi Nugroho

Anwar Bahar Basalamah

Oleh: Anwar Bahar Basalamah (radarkediri)

Share this          

Degup keraguan itu masih saja terasa sampai sekarang. Sejak dikenalkan 4 Januari lalu, nama Joko ‘Gethuk’ Susilo belum juga melekat di hati Persikmania. Maklum, sebagai juru taktik, Gethuk tidak sepopuler Rahmad Darmawan atau Indra Sjafri.

          Dan jangan sekali-kali membandingkan prestasi kepelatihannya dengan Jacksen F Tiago atau Jaya Hartono. Gethuk, pria kelahiran Cepu, Jawa Tengah itu, memang baru melakoni debutnya sebagai pelatih kepala pada 2017 silam. Sebelumnya, dia lebih banyak duduk sebagai asisten pelatih.

          Tapi, Gethuk adalah pelatih berlisensi AFC Pro. Dia pernah menimba ilmu di Spanyol. Sertifikasi itulah yang jadi modal untuk meramu strategi permainan si kulit bundar. Boleh dibilang, mantan striker Arema itu merupakan pelatih ‘kampung’ yang memiliki filosofi kepelatihan modern.

          Sebulan menukangi Faris Aditama dkk, isi kepalanya tidak jauh dari pola dan strategi sepak bola. Gethuk adalah pelatih yang taktikal. Semua pergerakan pemain diperhitungkan dengan sangat detail. Di dalam permainan sepak bola,  baginya, tidak boleh ada gerakan yang sia-sia. Setiap langkah harus punya tujuan yang efektif.

          Itu tercermin dari pola latihan yang sudah dijalankannya. Gethuk tidak segan berteriak dan memperingatkan pemain yang salah dalam penempatan posisi. Dia juga tekun menunjuk area yang seharusnya dikuasai para penggawanya.

          Soal strategi, Gethuk adalah sosok perfeksionis. Bahkan, ketika Macan Putih melawan tim sekelas kelurahan, dia tetap memperhatikan pola yang diusung lawannya. “Mereka menerapkan compact defense. Jadi pemain kami harus lebih banyak improvisasi untuk membongkar pertahanan,” kata Gethuk usai pertandingan lawan kesebelasan asal Kelurahan Sukorame.

          Meski lawan yang dihadapi tidak sepadan, Gethuk tetap mengambil pelajaran dari sana. Dia ingin setiap game yang dilakoni menjadi bahan evaluasi strateginya. Siapa pun saja lawannya. “Kami ingin anak-anak ketemu chemistry,” ucapnya lagi.

          Gethuk sangat menghormati kelebihan dan spesialisasi para pemainnya. Namun, dia bukan tipe pelatih yang kaku. Dalam formasinya, mantan asisten pelatih Simon McMenemy di Timnas Indonesia itu berupaya agar pemainnya bisa bermain di banyak posisi.

          Tergantung lawan yang dihadapi. Tergantung pula ketersediaan pemain yang dimiliki. Makanya, dia tidak terlalu ambil pusing saat stok pemain tengahnya melimpah. Gethuk bisa memanfaatkan peran mereka di posisi yang bukan spesialisnya.

          Karenanya, menarik ditunggu gebrakan Gethuk soal fleksibilitas permainan. Di dunia sepak bola modern, hal itu bukanlah sesuatu yang tabu. Di Euro 2012, Daniele De Rossi punya tugas baru dari Cesare Prandelli sebagai bek tengah. Padahal, posisi aslinya adalah gelandang bertahan. Dalam skema 4-4-2, peran legenda AS Roma itu banyak menuai pujian.

          Di Timnas Spanyol, Cesc Fabregas pernah ditempatkan sebagai false nine. Yang kita tahu, Fabregas adalah pembagi bola ulung di lini tengah. Toh, dengan peran barunya tersebut, mantan pemain Arsenal dan Barcelona itu justru jadi role model posisi striker palsu.

          Tentu saja masih banyak pemain sepak bola dunia lain yang menjalani peran baru. Bahkan, beberapa di antaranya mengalami transformasi posisi. Sebut saja Andrea Pirlo yang dikenal awal sebagai playmaker kemudian dikenang sebagai deep-lying playmaker.

          Atau, Gareth Bale dari bek kiri menjadi pemain sayap. Juga nama-nama beken seperti Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi yang mampu bertransformasi dengan baik di posisi anyarnya.

          Karena itulah, jangan heran nanti ketika Gethuk menugasi Sackie Teah Doe sebagai bek. Pemain naturalisasi asal Liberia itu bisa meningggalkan posisi nyamannya di tengah. Begitu pula dengan Andri Ibo yang biasa bermain di belakang bisa dinaikkan posisinya ke tengah.

          Di awal prakompetisi seperti sekarang, kita belum sepantasnya memberikan penilaian terhadap kinerja Gethuk. Dia perlu membuktikan terlebih dulu di kompetisi yang sesungguhnya. Kesempatan menjadi pelatih andal terbuka lebar untuknya.

          Pep Guardiola sebelum dikenal sebagai pelatih tersukses di dunia saat ini, dulunya hanya melatih klub di Meksiko. Sementara Jose Mourinho berangkat dari seorang penerjemah menjadi The Special One. Bukankah semuanya berawal dari nol? (Penulis adalah Wartawan JP Radar Kediri)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia