Senin, 06 Apr 2020
radarkediri
Home > Politik
icon featured
Politik

Harga Cabai Rawit Masih Belum Bisa Stabil

Volume Penjualan Turun

31 Januari 2020, 15: 25: 08 WIB | editor : Adi Nugroho

Cabe

FLUKTUATIF: Aktivitas perdagangan cabai di Pasar Sukomoro terus berlangsung meski relatif sepi pembeli, kemarin. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

SUKOMORO, JP Radar Nganjuk-Harga cabai di Pasar Sukomoro Nganjuk masih belum stabil. Meski harga cabai rawit yang sempat meroket sudah mulai turun, tetapi hingga kemarin masih mencapai Rp 65 ribu per kilogram (kg).

Setiyoko, 30, salah satu pedagang cabai di Pasar Sukomoro mengatakan, meski mulai terjadi penurunan harga, hal tersebut tidak bisa jadi patokan jika ke depan harganya akan terus merosot. “Cabai itu naik-turunnya (harga, Red) cepat. Kadang hitungan jam sudah berbeda,” ujarnya saat ditemui Jawa Pos Radar Nganjuk, kemarin siang.

Seperti halnya pada dua-tiga hari terakhir ini, harga cabai masih terus bergerak. Yakni, sempat merangkak dari harga Rp 75 ribu per kg menjadi Rp 78 per kg. Bahkan, sempat tembus harga Rp 80 ribu per kg. “Tapi tidak kuat, akhirnya turun lagi harganya,” sambung Setiyoko.

Pemilik kios Beta Cabe itu menjelaskan, harga di Pasar Sukomoro mengacu pada pasar induk Pare, Kabupaten Kediri. Meski demikian, harga di Nganjuk tetap bisa berbeda. Pedagang di sana tetap akan melihat iklim transaksi di pasar tersebut. Bisa lebih murah atau bahkan sebaliknya.

Melihat perkembangan harga selama beberapa hari terakhir, Setiyoko memprediksi penurunan harga bisa terus terjadi. “Kemungkinan masih akan turun, tapi sedikit-sedikit,” timpalnya.

Dengan harga yang sudah mulai turun ini, ironisnya pembeli cabai di pasar itu justru relatif sepi. Bahkan, pembelinya tidak sebanyak pada seminggu lalu. Saat harga cabai rawit merah berada diharga Rp 75 ribu. “Ini justru sepi. Nggak berani ambil banyak, takut risiko busuk,” imbuh Setiyoko.

Sementara itu, jika harga cabai rawit mulai turun, harga cabai merah besar justru meroket. Kini, cabai merah besar mencapai Rp 58 ribu per kg. Padahal, sebelumnya hanya Rp 50 ribu per kg.

Lebih lanjut, fluktuasi harga cabai tersebut tidak hanya dirasakan di tingkat pedagang grosir saja. Pun pedagang kecil maupun eceran. Perubahan harga juga sama dirasakannya dengan petani cabai yang di Patianrowo.

Haryono, 30, salah satu petani cabai di Desa Rowomarto, Patianrowo mengatakan, seminggu lalu harga cabai rawit di sawahnya dibeli tengkulak dengan harga Rp 60 ribu per kg. “Tapi setelah itu sempat turun harganya,” akunya.

Dia bersyukur pada musim panen terakhir di sawahnya, Haryono kembali dapat merasakan tuah dari bertani komoditas hortikultura itu. Sebab, harga di tingkat tengkulak kembali mencapai Rp 60 ribu per kg.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia