Sabtu, 04 Apr 2020
radarkediri
icon-featured
Hukum & Kriminal

Kasus Pencabulan Santriwati di Kediri: Korban Dipaksa Sejak Kelas 3 SD

Pascakasus Pencabulan, Banyak Santriwati Pula

30 Januari 2020, 19: 39: 06 WIB | editor : Adi Nugroho

nukan cabuli santri

MENUNDUK: Nukan saat press release di Polres Kediri. (Rendi Mahendra - radarkediri)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri -  Aksi tak senonoh Nukan, 38, pengasuh pondok pesantren (ponpes) di Kecamatan Plemahan, yang tega mencabuli santriwatinya berdampak pada pondoknya. Saat koran ini mendatangi ke sana kemarin, situasi tampak sepi. Pasca Nukan diamankan polisi pada Senin lalu (26/1), para santri banyak yang dijemput orang tuanya.“Sejak peristiwa itu banyak yang pulang,” terang senior ponpes yang enggan disebutkan namanya.

Terutama yang paling banyak dijemput orangtuanya adalah santriwati. Termasuk Bunga (bukan nama sebenarnya), 12, korban kasus asusila ini. Dia kembali bersama keluarganya.

Berdasarkan keterangan senior di pondok itu, Bunga kali pertama masuk pondok sejak tiga tahun lalu. Tepatnya ketika masih kelas tiga SD. Sejak itu pula, ia menjadi korban asusila. Hal tersebut sesuai hasil pemeriksaan polisi. “Aksi pelaku sudah tiga tahun. Tepatnya sejak korban masih kelas tiga SD,” terang Kapolres Kediri AKBP Lukman Cahyono.

Pondok tersebut sudah berdiri pada 2009. Sejak itu, Nukan telah menjadi pengasuh di sana. Nukan berasal dari luar daerah. Tepatnya dari Sidoarjo. Sementara jumlah santri yang belajar berjumlah sekitar 50 anak.

“Setahu saya berasal dari Sidoarjo. Kalau pondoknya sudah berdiri sejak sepuluh tahun yang lalu. Ini cuma cabang, pusatnya di Surabaya kalau ndak salah,” terang warga sekitar yang meminta namanya untuk disamarkan.

Berdasarkan informasi santri senior di sana, Nukan sudah menikah. Saat Nukan diamankan polisi, banyak warga yang berkerumun dan marah. Bahkan mereka sempat merusak papan nama pondok. Saat itulah, istri Nukan keluar dan meminta maaf. “Ya ada warga yang datang ke pondok. Itu kayaknya diprovokasi sama orang luar Mas,” terang senior di pondok tersebut.

Aksi Nukan yang berlangsung lama baru ketahuan setelah sang korban mengadukan perlakuan tak senonoh terhadap dirinya itu kepada teman sesama santri dan pengurus pondok.

Lalu, apakah korban Nukan hanya satu santri? Lukman belum berani memastikan. Pihaknya masih melakukan pendalaman. Namun, ia mengimbau, bila ada korban lain segera melapor ke polisi. Sementara untuk kejiwaan Nukan masih dalam pemeriksaan, sebab korbannya masih di bawah umur

(rk/baz/die/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia