Selasa, 31 Mar 2020
radarkediri
Home > Kolom
icon featured
Kolom
IQBAL SYAHRONI

-- KPM 251 -- 

26 Januari 2020, 22: 11: 48 WIB | editor : Adi Nugroho

Iqbal Syahroni  

Oleh: Iqbal Syahroni  

Share this          

Beberapa minggu yang lalu, kalimat “Media Lokal vs Media Luar” terus menggema di jagat maya. Kasusnya tentu saja, karena berita-berita yang beredar. Entah memang tujuannya beneran untuk mengkritisi atau hanya ingin ikut-ikutan saja. Tanpa mengetahui konteks yang dimaksud.

“Kenapa media kita tidak bisa meniru media luar?” Begitulah kira-kira cuitan dari para misionaris online mulai dari instagram, twitter, facebook, atau di media sosial lain. Sesekali, ditemukan di kolom komentar di portal berita online yang dituju.

Pembahasan tersebut, bermula saat berita tentang tertangkapnya Reynhad Sinaga, predator seks tanpa konsensus, yang berasal dari Indonesia, dan diamankan petugas kepolisian resor Manchester, Inggris.

Dari berita yang termuat dari laman berita di beberapa koran dan radio internasional, menunjukkan bahwa Reynhard ini adalah lelaki yang telah memperkosa ratusan lelaki lain. Dengan cara diajak mabuk, dan dibawa ke apartemennya.

Semua tertulis di beberapa kanal berita internasional, pujian terus dilontarkan oleh masyarakat. Mulai dari kalangan menengah ke bawah, hingga menengah ke atas. Semua ikut merayakan penangkapan predator seks asal Indonesia itu. Dengan wajah yang dipasang di headline koran internasional, hingga memenuhi halaman web berita.

Tidak ada satu hari dari meledaknya berita tersebut di jagat maya, wartawan lokal (Indonesia) beramai-ramai mencari identitas Reynhard Sinaga. Darimana ia tinggal saat kecil, hingga dewasa, dan bagaimana bisa ia menjadi seperti itu.

Benar saja, tidak ada satu hari, kanal berita online di Indonesia sudah memunculkan di mana Reynhard tinggal saat masih di Indonesia, hingga bagaimana tanggapan keluarga, saudara, hingga tetangga Reynhard semasa ia tinggal di Indonesia.

Hal tersebut dikecam para warganet. Dengan jari-jari yang cepat dan ganas, langsung berkomentar bahwa informasi seperti itu tidak begitu bernilai untuk diberitakan. Mulai dari komentar hingga dibuatkan ke format meme “Media Luar vs Media Lokal”

Tidak berhenti di situ saja, ujaran tersebut semakin mengganas, ketika ada salah satu media online lokal yang memberiktakan tentang merk hp apa yang digunakan oleh Reynhard semasa hidup bebas berkeliaran.

Saya tidak ingin menyalahkan komentar tentang bagaimana informasi yang penting diberitakan atau tidak oleh para warganet ini. Tidak salah lho mereka mengkritik seperti itu. Bahkan, kritik tersebut malah ditambahi dengan saran, yakni “Coba tiru jurnalisme luar kalau memberitakan” kurang lebih seperti itu.

Oke. Mungkin, dari kemungkinan ribuan atau bahkan puluhan ribu komentar dan “kritik” yang dilontarkan para warganet ini tidak berdasar. Maksud saya, benarkah kita harus mencoba meniru jurnalisme luar (internasional) dalam pemberitaan? Apakah para warganet mengerti betul bagaimana cara media atau jurnalisme internasional bekerja?

Saya yakin hampir semua yang berkomentar bahwa jurnalisme lokal harus menurut jurnalisme internasional itu tidak pernah membaca berita features atau soft news dari media internasional. Mereka hanya tahu kulit luarnya saja. Atau yang dijadikan headline dari sebuah koran saja.

Bila dibaca seksama, dari kanal online, yang tentu saja warganet bisa mengakses, seharusnya sudah tahu, kalau dari dalam berita headline, wartawan internasional juga menanyakan kebiasaan reynhard selama masih tinggal di apartemennya.

Oke, mungkin tidak seperti media lokal yang memberitakan menjadi satu berita tersendiri. Kalau ingin mencari lebih dalam lagi, coba cari artikel atau berita tentang kriminalitas yang terjadi di luar negeri. Hampir semuanya, memberitakan tentang sisi keluarga atau kerabat dekat dari tersangka. Mulai dari pembunuh berantai seperti Stephen Port di Inggris beberapa tahun lalu. Mulai mewawancarai keluarga tersangka, hingga dijadikan sebuah film.

Adapula contoh seperti Luka Magnotta, pembunuh kucing, dan manusia yang videonya diunggah ke forum luar negeri pada 2012, dan akhirnya dijadiken serial bersambung di Netflix. Dengan mewawancara orang tua tersangka (Luka Magnotta) dan juga beberapa kerabat korban manusia yang dibunuh Magnotta dengan keji.

Namun respons yang berbeda juga ditunjukkan oleh warganet di Indonesia. Mereka malah memuji, “berita” yang mereka anggap remeh seperti bagaimana keseharian tersangka sebelu tertangkap, bagaiman lifestyle, kehidupan sehari-harinya, apa musik yang didengar, dan juga bagaimana korban di mata keluarga. Bahkan dijadikan film berseri.

Jadi bagaimana? Sudahkah kita bersikap adil? Apa benar media Indonesia harus meniru media luar negeri? Media luar negeri memberitakan apa yang dikenakan Meghan Merkle saat memakan buah favoritnya, atau saat Felix Kjellberg sedang menjilati es krim di Pantai Brighton bersama dua anjingnya? Di Indonesia memberitakan tentang Nia Ramadhani yang baru bisa membuka salak. Bukankah media Indonesia sudah meniru media luar?

Budaya membaca manusia mungkin memang sudah mulai meningkat. Namun, budaya cepat menyebarkan berita, dan opini yang tidak berdasar, yang masih tidak menurun. Seolah mereka hanya ingin, dan terlihat berwawasan luas, dan mengikuti arus utama hanya karena ingin mendapatkan atensi dan menyebutnya sebagai achievement terbesar mereka di dunia maya.

Sama seperti Arsenal yang merayakan seri melawan Chelsea di Stamford Bridge sebagai achievement terbesar mereka dekade ini, dan melupakan bahwa di dekade yang sama pula, di pertandingan terbesar mereka, Chelsea menaklukkan Arsenal 4-1 di Baku, Azerbaijan.(penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia