Sabtu, 29 Feb 2020
radarkediri
icon featured
Features

Menelisik Kuliner Khas Tionghoa di Kediri yang Telah ‘Berakulturasi’  

Adaptasi yang Bisa Hasilkan Makanan Baru

26 Januari 2020, 21: 41: 14 WIB | editor : Adi Nugroho

pecinan kediri

TITIK AWAL: Pendatang etnis Tionghoa menggunakan jalur Sungai Brantas untuk tiba di Kediri. Hal itu ditandai dengan keberadaan kelenteng dan kawasan pecinan. (Didin Saputro - radarkediri)

Share this          

Kedatangan etnis Tionghoa di Kediri tak hanya menyebabkan akulturasi budaya saja. Dalam soal makanan banyak penyesuaian yang terjadi. Bahkan, sebagian mampu menghasilkan ‘spesies’ baru di bidang kuliner.

Kediri dikenal memiliki ragam kuliner yang beraneka rupa. Sebagian khas makanan Nusantara. Sebagian lagi sudah bercampur dengan kultur makanan warga Tionghoa, yang jumlahnya juga sangat signifikan.

Beberapa jenis makanan bernuansa Tionghoa itu bahkan menjadi ciri khas kuliner Kediri. Sebut saja sebagai contoh tahu takwa misalnya. Kuliner ini sejatinya adalah kuliner khas warga Tionghoa. Namun sudah berakulturisasi sehingga menjadi sangat khas Kediri.

Pengamat sejarah dan kebudayaan Nusantara Fahmi Prihantoro mengatakan, ada dua periode etnis Tionghoa yang masuk ke Nusantara. Yakni di masa Kerajaan Majapahit dan ketika era penjajahan Kolonial Belanda. Namun, kebudayaan yang paling kental itu terlihat dan masih eksis hingga saat ini adalah saat warga Tionghoa migrasi besar-besaran ke Indonesia. Yaitu ketika era kolonial Belanda yang dimulai abad ke-17.

“Perkembangan yang pesat itu terjadi pada abad 18 dan 19. Pasti di setiap kota ada kelompok etnis Tionghoa ini,” terang Fahmi.

Keberadaan mereka di Indonesia pada saat itu adalah akibat perang besar di Negeri Tiongkok. Mengakibatkan warga yang berada di wilayah selatan mencari tempat yang lebih aman. Termasuk ke Indonesia. Sebagian besar menjadi tenaga kerja orang-orang Belanda. Tapi ada juga yang menjadi pedagang atau pengusaha.

Yang menjadi pekerja biasanya berada di Pulau Sumatra. Di kawasan itu etnis Tionghoa banyak yang menjadi kuli tambang timah. Sedangkan yang berada di Pulau Jawa mayoritas adalah pedagang.

“Mengadu nasib di sini banyak yang berhasil. Dan dari kedatangan mereka itulah makanan khas Tionghoa mulai diperkenalkan,” jelas dosen arkeologi di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gajah Mada tersebut.

Awalnya, mereka menyebar di kota-kota yang ada di pesisir utara Pulau Jawa. Mereka memanfaatkan pelabuhan laut sebagai tempat mendarat. Sementara di Kediri yang posisinya berada di bagian tengah Jawa Timur, para etnis Tionghoa ini memanfaatkan jalur sungai untuk datang. Tentu saja Sungai Brantas, yang muaranya memang di Surabaya.

“Di daerah itu dibuktikan dengan adanya kelenteng sebagai tempat ibadah. Juga dengan terbentuknya kelompok-kelompok komunitas masyarakat Tionghoa,” terang Fahmi.

Terbentuknya kelompok-kelompok itu tak lepas dari tragedi pemberontakan masyarakat Tionghoa di Batavia. Yang selama ini disebut geger Pacinan pada tahun 1740. “Dari pengelompokan itulah jadi kawasan-kawasan pecinan. Karena mereka harus diawasi dan dikelompokkan jadi warga pecinan,” tambahnya.

Semakin berkembangnya kelompok ini berimbas pada resep kuliner yang mereka bawa. Hanya saja, Fahmi menyebut bahwa tak semua kuliner etnis Tionghoa itu bertahan sesuai resep asli dari negara asalnya. Banyak yang menyesuaikan dengan kearifan lokal. “Beberapa sudah ada modifikasi,” ungkapnya.

Makanan tersebut seperti bakso, bakpao, bakmie, hingga bakpia, mengalami perubahan baik bahan maupun penyajian. Dari bahan, makanan-makanan itu di negara asalnya sudah pasti bercampur daging babi. Ketika dibuat di Kediri tentu mengalami modifikasi. Apalagi bila untuk konsumsi di luar etnis Tionghoa.

“Bahannya menyesuaikan setiap daerah di Indonesia. Jadi  makanan itu campurannya banyak yang diganti dengan bahan-bahan lain,” terangnya.

Bagi warga Tionghoa, menyesuaikan dengan budaya di Kediri membuat mereka harus bekerja keras. Memutar otak. Akhirnya lahirlah kreasi-kreasi baru. Seperti bakpia dan bakpao yang dimodifikasi dengan campuran kacang. Bakso daging babi diganti dengan daging sapi. Yang paling khas adalah pewarna untuk tahu diganti dengan kunyit. Dan ini menjadi sangat khas sebagai kuliner khas Kediri.

Menurut Fahmi, makanan khas etnis Tionghoa juga berpengaruh besar dalam perkembangan budaya kuliner Nusantara, termasuk Kediri. Di kota-kota utama Indonesia komunitas etnis Tionghoa masih sangat kendal dengan budaya yang mereka dapatkan turun-temurun. Termasuk soal kulinernya. Mereka mengadaptasikan makanan dari leluhur itu menjadi lebih bernuansa dan berasa di lidah warga asli.

Bahkan, ada juga makanan yang benar-benar baru tapi merupakan hasil akulturasi kuliner Tionghoa. Makanan tersebut dibuat dari gabungan teknik dan penyesuaian bahan. “Seperti lontong cap go meh. Itu yang paling menarik, karena di sini lontong ini menjadi kreativitas lokal Nusantara dengan nuansa Tionghoa. Dan di negara asalnya tidak ada,” sebut Fahmi.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia