Selasa, 25 Feb 2020
radarkediri
icon featured
Politik

Supandi, Potret Warga Terdampak Proyek Bandara Kediri

Beli Truk, Kini Tak Perlu Merantau Lagi

24 Januari 2020, 16: 24: 07 WIB | editor : Adi Nugroho

lahan bandara

MANDIRI: Supandi berada di depan rumah barunya dengan latar dump truk yang dia gunakan untuk modal usaha. (Didin Saputro - radarkediri)

Share this          

Ibarat pisau bermata dua, pembangunan selalu punya dua sisi. Ada yang teruntungkan tapi juga ada yang merasa dirugikan. Tak terkecuali pada proyek pembangunan bandara Kediri. Salah seorang yang merasa beruntung adalah Supandi.

MOCH. DIDIN SAPUTRO, Kabupaten, JP Radar Kediri.

Siang yang panas memaksa Supandi pulang dari rutinitas kerja sehari-hari. Membawa pulang kendaraan yang dibuatnya mengais rezeki. Berniat beristirahat di rumah barunya, di kawasan Tanjung Baru, di Dusun Bedrek Selatan, Desa Grogol, Kecamatan Grogol.

Lelaki itu memarkir dump truk warna merah miliknya itu tepat di depan rumahnya. Dibawah atap berbahan galvalum berangka kayu yang ditopang dua pilar berbahan semen.

“Kira-kira hampir tiga Lebaran ini Mas,” kata Supandi sembari turun dari kendaraannya, menerangkan usia rumah barunya tersebut.

Rumah itu mulai dia bangun pada akhir 2017. Setelah dia dan keluarganya sepakat dengan harga dari investor bandara yang menawar lahan dan rumah miliknya di Dusun Tanjung, Desa Grogol. Kebetulan lahan yang dia miliki berada di titik utama landas pacu bandara nanti.

Setelah sepakat dengan harga, mau tidak mau Supandi harus segera pindah. “Dulu ya pasrah saja. Alhamdulillah ternyata setelah pindah hasil ganti ruginya bisa buat rumah dan modal kerja,” kata pria 42 tahun ini.

Supandi boleh disebut salah satu warga terdampak bandara yang beruntung. Nasibnya kontras antara sebelum dan sesudah pembayaran ganti rugi. Kontras dalam arti positif. Sebelum tanahnya dibeli investor, bertahun-tahun dia harus menghidupi keluarganya dengan merantau ke Jakarta. Bekerja menjadi sopir di perusahaan swasta.

Saat ini, dari hasil penjualan tanah itu dia akhirnya bisa bekerja mandiri. “Sekarang sudah punya usaha sendiri, jasa angkut material,” terangnya.

Selain bisa membeli dump truk untuk bekerja secara mandiri, Supandi juga mampu membeli tanah dan membangun rumah dari uang ganti rugi itu. Luas pekarangannya bahkan dua kali lipat dari yang dia punya dulu. Di lahan yang lama dia hanya punya lahan seluas 20 ru (1 ru sama dengan 14 meter persegi).  Sekarang ini lahannya jauh lebih luas dari itu.

Dia juga bisa memiliki rumah sendiri. Tak lagi menumpang pada saudaranya. Sebelum menerima uang ganti rugi itu dia harus berbagi atap dengan kakak kandungnya. Sang kakak, menurut Supandi, juga sudah memiliki dump truk sendiri.

 “Jadi tiap hari masih bisa beraktivitas. Meski uang habis, setidaknya ini bisa jadi modal usaha,” terangnya.

Supandi hanya contoh kecil sisi positif dari pembebasan lahan calon bandara Kediri. Masih banyak warga Desa Grogol yang bernasib sama. Semakin sejahtera setelah terdampak pembebasan lahan calon bandara.

Bila berjalan di kampung tempat Supandi tinggal, rata-rata penghuninya juga bernasib serupa. Di Tanjung Baru itu rumah-rumah di permukiman itu tampak masih baru. Kondisinya  juga bagus. Ada dua bangunan rumah bertingkat. Ada yang berukuran minimalis tapi ada juga yang terkesan megah. Beberapa rumah juga terparkir mobil di teras.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia