Selasa, 25 Feb 2020
radarkediri
icon featured
Ekonomi

Petani Kediri Terancam Gagal Panen Cabai, Ini Sebabnya  

24 Januari 2020, 16: 00: 10 WIB | editor : Adi Nugroho

cabai

LAYU: Petani cabai di Desa Baye, Kecamatan Kayenkidul sedang membersihkan tanamannya dari tumbuhan liar (21/1). Mereka terancam gagal panen karena tanaman cabai terserang penyakit dan virus kuning. (HABIBAH A. MUKTIARA - JP Radar Kediri)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Petani cabai di Kabupaten Kediri terancam gagal panen. Pasalnya, hampir 40 persen dari 900 hektare (ha) tanamannya rusak terserang virus. Produksi pun turun drastis.

Meski tak separah di Puncu dan Kepung, wilayah Kayenkidul pun terkena. “Meski banyak daunnya, buahnya sedikit,” ungkap Imam, petani Desa Baye, Kecamatan Kayenkidul.

Lahannya seluas 125 meter seharusnya sekali panen dapat 100 kilogram (kg). Namun kini panen cabainya hanya sekitar 50 kg. “Kalau normal, dalam satu minggu dapat panen dua hingga tiga kali,” urainya.

Imam mengaku, dalam satu minggu ini hanya dapat panen satu kali saja. Itupun tidak banyak. Itu gara-gara penyakit layu fusarium dan buah busuk. “Sudah diberi beberapa macam obat, namun tidak ada hasilnya,” ujarnya.

Dikonfirmasi terpisah, Yayuk Anissa, petugas penyuluh lapangan (PPL) Kecamatan Ngasem, menyebut, kerusakan terjadi di daun tanaman berwarna kuning dan keriting. "Di wilayah kerja saya ada dua kategori kerusakan. Parah dan sedang. Seluruh petani cabai di wilayah saya mengalami. Tidak ada yang aman dari virus ini," paparnya.

Menurut Yayuk, sekarang sudah ada yang panen. Ini panen pertama. Tetapi tidak melimpah. Hanya 40 persen. Bahkan ada yang tidak bisa memanen.

Sementara itu, Kasi Perbenihan dan Perlindungan Tanaman Hortikultura Dinas Pertanian dan Perkebunan (Dispertabun) Kabupaten Kediri Arahayu Setyo Adi mengatakan, kerusakan yang sama terjadi hampir di seluruh kabupaten. Termasuk di wilayah sentrapetani cabai.

"Di wilayah atas seperti Puncu itu hampir 50 persen terkena dampak hama, begitu juga di daerah bawah seperti Plosoklaten dan Pagu," ucapnya.

Menurut Adi, kerusakan akibat hama dan virus tanaman. Yakni virus kuning, serangan lalat buah, dan busuk buah. Itu menyebabkan produksi turun. Kekurangannya bisa 40 sampai 50 persen.  

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia