Selasa, 25 Feb 2020
radarkediri
icon featured
Features

Zainal dan Ceritanya sebagai Penjaga Candi Surowono

Jelang Pemilu Banyak Caleg yang Cari ‘Sangu’

24 Januari 2020, 15: 50: 46 WIB | editor : Adi Nugroho

zainal abidin surowono

PENJAGA: Zainal Abidin berdiri dengan latar belakang Candi Surowono. (Rendi Mahendra - radarkediri)

Share this          

Pamor Candi Surowono memang jauh bila dibandingkan candi-candi yang lebih dulu terkenal. Namun, di beberapa momen, candi ini bisa mengundang pengunjung dengan tujuan tertentu. Seperti menjelang pemilu misalnya, banyak caleg yang justru datang khusus ke candi ini.

RENDI MAHENDRA, KABUPATEN, JP Radar Kediri

Langit sedang cerah. Matahari nyaris berada di atas kepala. Bayangan yang ditimbulkan juga hampir tak kelihatan. Menandakan waktu hampir tengah hari.

Teriknya sang surya di tengah hari itu juga menjadikan udara terasa panas. Tak terkecuali di sekitar Candi Surowono, candi yang terletak di Desa Canggu, Kecamatan Pare. Tak banyak manusia yang berada di area candi.

Di depan gerbang masuk area candi terdapat meja kecil. Digunakan untuk menjajakan es tebu. Penggilingan kecil untuk menghasilkan air tebu ada di samping meja tersebut. Sementara sesosok tambun berdiri di balik meja. Tangannya lincah meladeni seorang pembeli.

Lelaki itu adalah Zainal Abidin. Lelaki berusia 35 tahun itu sejatinya adalah penjaga Candi Surowono. Sementara kios es tebu itu  milik istrinya. Nah, karena pembeli es tebu lebih ramai ketimbang pengunjung candi, Zainal pun menyempatkan diri membantu kesibukan sang istri.

“Biasanya (pengunjung candi) ramai pas hari Minggu. Anak-anak yang belajar di Kampung Inggris biasanya kemari,” terang Zainal.

Zaenal tinggal di Dusun Banaran, Desa Tunglur, Kecamatan Badas. Jaraknya beberapa kilometer dari lokasi candi. Sudah sepuluh tahun lebih dia bertugas sebagai penjaga dan perawat candi peninggalan Kerajaan Majapahit ini.

Hari-hari lelaki yang masih berstatus tenaga honorer di Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur itu nyaris dihabiskan untuk menjaga candi. Berangkat sejak pagi, sekitar pukul 08.00 WIB, hingga sore hari sekitar pukul 16.00 WIB. Begitu datang Zainal langsung bertugas. Menyapu dan membersihkan lokasi di sekitar candi. Setelah beres, dia akan menyiapkan diri menjadi pemandu bagi para pelancong. Namun, bila pengunjung tengah sepi dia menyempatkan diri membantu sang istri berjualan es tebu. Seperti di siang hari itu.

Zainal sebenarnya tak punya latar belakang pendidikan kepurbakalaan. Namun dia melakukan pekerjaan itu dengan sepenuh hati. Bahkan dia mengaku bangga bisa ditugaskan menjadi seorang penjaga candi.

“Candi ini kan peninggalan sejarah.  Peninggalan kerajaan yang bisa mengingatkan kita bahwa jauh sebelum kemerdekaan, ada kerajaan besar yang bisa menjadi kebanggan kita,” ujar Zainal.

Status sebagai penjaga candi juga menambah kepercayaan dirinya. Apalagi, sebagian pengunjung yang datang bukan hanya dari daerah-daerah di Indonesia saja.  “Pengunjungnya banyak yang dari luar negeri. Ada yang dari Belanda, Italia, dan Jepang. Saya bisa bertemu dengan orang dari mancanegara. Jika saya bekerja di tempat lain, mungkin tidak punya pengalaman seperti itu,” ucap Zainal bangga.

Sambil mengajak koran ini berkeliling lokasi candi, Zainal menerangkan bahwa Candi Surowono punya banyak karya sastra. Kisah-kisah penting tertampang dalam relief-relief di dinding candi. Setidaknya ada tiga cerita yang tersaji. Arjuna Wiwaha, Bukbusah dan Gagang Aking, serta Sri Tanjung. Legenda-legenda itu punya kisahnya sendiri-sendiri.

“Arjuna Wiwaha itu cerita tentang pertapaan Arjuna hingga keberhasilannya dalam pertapaan. Kalau Bukbusah dan Gagang Aking menggambarkan tentang dua saudara yang mencari jati diri. Sementara Sri Tanjung ini cerita yang mirip asal mula Banyuwangi,” beber Zainal, persis seperti jika ia memandu pengunjung candi.

Tapi, pengalaman Zaenal tak hanya soal pengunjung dari mancanegara saja. Atau pelajar-pelajar yang tengah studi sejarah. Dia pun sering mendapati pengunjung dengan tujuan khusus. Lebih mengarah ke hal-hal berbau klenik. Yang berbau spiritual.

“Tak sedikit yang ke sini karena ingin naik pangkat. Biasanya mereka melakukan ritual di sini,” ceritanya sembari tersenyum.

Terlebih di musim pemilihan seperti pemilu atau pilkades. Kala itu dia akan sering mendapati pengunjung yang bertujuan khusus. Mereka biasanya mencari sangu (bekal) dari sisi supranatural agar berhasil dalam pemilihan.

“Di musim pemilihan banyak caleg dan kades yang ke sini,” terangnya.

“Bahkan ada pemilik perusahaan bus yang sebelum armadanya beroperasi juga berdoanya di sini,” sambungnya memungkasi cerita.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia