Selasa, 25 Feb 2020
radarkediri
icon featured
Sego Tumpang

Model Brukutan

24 Januari 2020, 12: 51: 28 WIB | editor : Adi Nugroho

Model Brukutan

Share this          

Urip bebrayan memang tidak mudah. Jangankan satu negara, satu provinsi, atau satu kota. Satu warung sego tumpang Mbok Dadap saja pendapatnya bisa benceng cueng. Padahal mereka yang datang sudah satu selera: sego tumpang. Sego tumpangnya Mbok Dadap pula. Bukan sego tumpangnya mbok-mbok yang lain.

Satu hal yang menjadi penyelamat adalah mereka sudah terbiasa dalam kebenceng-cuengan seperti itu. Sehingga, siapa pun yang datang dengan model apa pun, ya mereka biasa saja.

Ada yang datang masih kumus-kumus belum raup, monggo.

Ada yang datang pakai sarung, monggo.

Ada yang datang cuma pakai celana pendek, monggo.

Sudah nyetil, monggo. Kemringet habis olahraga, monggo. Dasteran saja, monggo.

Namanya juga warung. Siapa saja yang datang, asalkan bayar, ndak ada yang nglarang. Kecuali jika sudah main serobot antrean. Itu yang mengganggu dan ndak bisa diterima warga warung sego tumpang. Kalau cuma soal benceng cueng pendapat, biasaa.. Benceng cueng penampilan, biasaaa… Ndak ada yang merasa terganggu maupun terusik.

Makanya, jika hari-hari ini kembali hangat soal cara berpakaian muslimah yang dipantik pendapat Bu Sinta –yang sebenarnya tidak baru, ya mereka selow saja. Setel kendo. Termasuk jika ada yang ngegas –bahkan mbleyer—terhadap pendapat Bu Sinta itu.

“Lha wong ndak ngerti, ya ngertinya pendapatnya sendiri,” komentar Kang Noyo, selow. Dia lo, nyantai saja jika ada pengunjung warung Mbok Dadap yang brukut dan cuma memperlihatkan kedua matanya. Lha wong mereka juga sama-sama pedoyan sego tumpang. Sama-sama bayar. Ndak nyerobot antrean.

“Itu kan cuma cara mereka berpakaian. Menurut keyakinan mereka,” katanya. Kalaupun dari cara berpakaian itu mereka lebih ribet untuk urusan menyuapkan sego tumpang ke mulut, ya itu pasti sudah mereka pikirkan sendiri caranya.

Wong mereka ya masih tetap srawung dengan tetangga. Buktinya ya tetap saja ikut antre sego tumpang. Tetap belanja janganan ke pasar. Tetap ikut arisan. Tetap menyapa kalau ketemu di jalan. Walau, ibu-ibu harus lebih keras untuk menebak wajah siapa di baliknya jika yang brukutan seperti itu lebih dari satu.

Mekanisme sosial di warung sego tumpang Mbok Dadap mampu meredam potensi gejolak dan benturan akibat kebenceng-cuengan seperti itu. Mereka yang benceng cueng tapi tidak bisa menerima mekanisme sosial yang sudah hidup dan lama mengakar di sana, pasti tersisih. Ndak akan mau datang lagi ke sana. Dan, itu adalah kerugian besar bagi dirinya: kehilangan sego tumpang yang henaknya sak ndonya.

Lha bagaimana tidak, mereka yang datang dengan perbedaan lalu berusaha memaksakan pendapatnya sendiri, pasti dipoyoki.

“Hiyaaa… wong kurang piknik iki…” 

“Lhadalah… donyane nggone mbahe dewe…”

“Haiissh… arep macung nyaingi Gusti Allah po piye?”

Kang Noyo, Pakde Suto, bahkan Dulgembul jelas aras-arasen kalau harus bengkerengan ngadepi wong ngengkelan seperti itu. Yang merasa kebenaran hanya milik kelompoknya dan pribadi. Percuma. Eman-eman sarapannya. Sepiring sego tumpang habis dibuang. Cuma buat berdebat yang ndak perlu.

Apalagi kalau sampai sama-sama marah. Ngotot. Terus perang dalil. Perang ayat. Halaaah…tambah ndak perlu. Tiga piring sego tumpang pun akan habis menjadi energi yang sia-sia. Makanya, kalau ada yang seperti itu, paling pol cukup dipoyoki. Energinya ndak sampai menghabiskan sepiring sego tumpang.

Itu pun sebenarnya sudah berlebihan. Diesemi. Mungkin ini takaran yang pas. Sekadar sebagai basa-basi. Daripada meninggalkan orang seperti itu ngengkel sendirian. “Ben omong karo angin,” ucap Dulgembul yang kupingnya pun eman-eman digunakan untuk mendengarkan wong ngengkelan.

“Ndak sopan, Mbul...,” kata Kang Noyo.

 Warga warung sego tumpang seperti Kang Noyo dan kawan-kawan itu yakin, sebagai makhluk sosial, setiap orang tetap butuh urip bebrayan. Berteman. Bertetangga. Bersosialisasi dengan yang lain. Lha kalau selalu memaksakan pendapatnya sendiri, benarnya sendiri, pasti akan kehilangan teman dan tetangga.

Dan, ngengkelan, tidak berhubungan dengan cara berpakaian. Mau berpakaian seperti apapun, sebrukut apapun, kalau tidak ngengkelan dan bisa urip bebrayan, pasti akan banyak teman. Sebaliknya, kalau selalu ngengkelan dan mau menangnya sendiri, ya pasti akan sulit cari teman. Sewajar apa pun model pakaian yang dikenakan… (tauhid wijaya)

(rk/die/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia