Selasa, 25 Feb 2020
radarkediri
icon featured
Features

BPCB Dorong Pemkab Lestarikan Cagar Budaya

23 Januari 2020, 10: 20: 11 WIB | editor : Adi Nugroho

Sejarah

TUNGGU ANGGARAN: Situs Sumbergayu di Desa Kelurahan, Ngronggot yang di ekskavasi November 2019 lalu belum ditindaklanjuti. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

Banyaknya temuan benda bersejarah di Nganjuk mendapat perhatian dari Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan, Jawa Timur. Dari sekian banyak temuan, baru candi Banjarsari, Ngronggot yang masuk cagar budaya. Sementara situs-situs lainnya terancam terbengkalai.

Seperti Kampung Kuno di tepi sungai Brantas mulai dari Desa Trayang sampai ke Desa Juwet, Ngronggot. Saat ini hanya tersisa serpihan batu bata yang hancur karena pengerukan. Kemudian, situs Sumbergayu, di Desa Klurahan, Ngronggot. Setelah diekskavasi pada November 2019 lalu, hingga kini tidak ada kelanjutannya. 

Wicaksono Dwi Nugroho, arkeolog BPCB Trowulan mengatakan, situs Sumbergayu di Desa Klurahan, Ngronggot memiliki potensi menjadi cagar budaya. “Gerak kami (BPCB, Red) dibatasi sama Undang Undang Cagar Budaya Nomor 11/2010. Sekarang pemerintah daerah punya peran untuk melestarikan dan mengembangkannya,” ujar pria yang akrab disapa Wicaksono itu.

Dia melanjutkan, cagar budaya saat ini dibagi dalam skala nasional, provinsi, dan daerah. Cagar budaya nasional adalah benda cagar budaya yang terletak di dua provinsi. Sedangkan cagar budaya provinsi terletak di dua kabupaten/kota dalam satu provinsi.

Adapun cagar budaya daerah, adalah benda cagar budaya yang ada di satu daerah. “Sekarang BPCB fokus pada cagar budaya nasional. Untuk daerah, selayaknya diurus pemkab,” lanjut Wicaksono.

Karenanya, terkait pengembangan situs Sumbergayu, Wicaksono menjelaskan, BPCB menunggu kebijakan pemerintah daerah. Pemkab, tuturnya, bisa menganggarkan kegiatan untuk pelestarian, perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan situs ke depannya.

Tidak hanya situs Sumbergayu, temuan-temuan lain yang sudah dilakukan kajian seharusnya bisa ditindaklanjuti dengan ekskavasi. “Ini (pengembangan situs, Red) bisa memunculkan potensi ekonomi,” tandasnya.

Kasi Sejarah, Seni Tradisi, Kebudayaan dan Kepurbakalaan Disparporabud Amin Fuadi mengungkapkan, pihaknya masih menunggu hasil kajian dari BPCB untuk tindak lanjutnya. “Kalau ini kami masih menunggu hasil dari BPCB dan Balar Jogja,” terang Amin.

Bagaimana dengan situs Kampung Kuno di Ngronggot? Amin menyayangkan tindakan masyarakat yang belum peduli dengan peninggalan sejarah ini. “Kondisinya sekarang sudah berantakan, kalau mau diekskavasi hasilnya tidak bisa maksimal,” sesalnya.

Yang bisa dilakukan sekarang adalah mengumpulkan benda-benda temuan masyarakat yang ada di sana untuk diselamatkan di museum. Sayangnya, tahun ini anggaran untuk imbal jasa bagi yang menemukan benda bersejarah sudah tidak ada.

Padahal, dalam Undang Undang Cagar Budaya sudah dituliskan jika pemerintah atau pemkab mengalokasikan anggaran tidak hanya untuk pengembangan dan pemanfaatan. Melainkan juga memberi kompensasi dengan memperhatikan prinsip proporsional. “Saya hanya khawatir akan banyak benda-benda peninggalan sejarah yang dijual ke luar daerah,” tegasnya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia