Selasa, 25 Feb 2020
radarkediri
icon featured
Features

Menelisik Situs Bersejarah Nganjuk di Empat Wilayah

Pegunungan Kendeng Jadi Hunian

23 Januari 2020, 10: 15: 54 WIB | editor : Adi Nugroho

Sejarah

PENINGGALAN ZAMAN MAJAPAHIT: Amin Fuadi mengamati temuan fragmen candi di Desa Garu, Baron. Disparporabud sudah memetakan temuan benda bersejarah berdasar wilayah yang dibagi ke dalam empat daerah terpisah. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

Temuan benda bersejarah di Kota Angin sudah tak terhitung jumlahnya. Berdasar identifikasi dinas pariwisata, pemuda, olahraga, dan kebudayaan (disparporabud), persebaran situs itu terbagi di empat wilayah. Lokasi temuan sekaligus menunjukkan zaman benda bersejarah itu berasal.

Hingga tahun 2020 ini Disparporabud Nganjuk menemukan benda bersejarah atau bangunan kuno hampir dari semua daerah di Kota Angin. Mulai benda dari zaman prasejarah, hingga kejaraan Mataram Islam.

Kasi Sejarah, Seni Tradisi, Kebudayaan, dan Kepurbakalaan Amin Fuadi mengatakan, berdasar identifikasi disparporabud, temuan benda bersejarah dan situs di Kota Angin terbagi dalam empat wilayah. Yaitu, area gunung Wilis, dataran rendah, sungai Brantas, dan area gunung Kendeng. “Tiap wilayah punya kekhasan masing-masing,” ujar Amin.

Sejarah

(Grafis: Nakula Agie Sada - radarkediri.id)

Di lereng gunung Wilis, situs dan benda bersejarah ditemukan mulai Desa Bajulan, Loceret; Kecamatan Ngetos, dan Sawahan. Di sana ditemukan benda peninggalan zaman klasik awal atau sejak abad VIII dan IX, sebelum kerajaan Majapahit. Dia mencontohkan situs Condrogeni di Sawahan. Meski berasal dari

Amin menyebutkan, di wilayah selatan juga ditemukan benda bersejarah dari zaman kerajaan Kediri dan Majapahit. Tetapi, tidak dominan seperti di wilayah tengah. “Tidak banyak pemukiman (zaman Kediri dan Majapahit, Red) di lereng Wilis. Yang memilih tinggal di sana adalah orang-orang seperti biksu, pengikut atau para muridnya,” lanjut Amin sembari menyebut gunung Wilis dianggap punya aura magis yang kuat.

Yang paling kentara dari perjalanan spiritual itu ada di Ngetos. Yakni keberadaan Candi Ngetos yang sudah ada sejak zaman Empu Sindok, Kerajaan Kediri, Majapahit, dan Mataram Islam. “Candi Ngetos menjadi simbol kawasan gunung Wilis adalah tempat yang tidak biasa,” terang pria asal Kelurahan Mangundikaran, Kota Nganjuk ini.

Selanjutnya, temuan benda bersejarah di wilayah tengah banyak didapati di Berbek, Loceret, Pace dan Nganjuk. Daerah ini diperkirakan sudah ditempati sejak abad ke sembilan hingga Mataram Islam. “Rentang waktu yang ada di wilayah ini cukup panjang,” urainya.

Temuan benda bersejarah di lokasi ini menunjukkan wilayah ini kerap ditempati para tokoh. Ia mencontohkan di Desa Patihan, Loceret, ada struktur bangunan rumah dan benda-benda yang diduga milik seorang tokoh.  Selain struktur bangunan rumah, ada pula bak mandi serta bekas candi Jaladwara dan peninggalan Candilor era Empu Sindok.

Wilayah penemuan situs dan benda bersejarah lainnya banyak ditemukan di sekitar bantaran sungai Brantas. Mulai Kecamatan Ngronggot, Prambon, Tanjunganom, Kertosono dan Baron. “Di wilayah ini didominasi pada masa Majapahit pada abad XII sampai XIV,” tuturnya.

Aliran sungai Brantas lama selain menjadi sumber kehidupan juga jadi sarana transportasi. Ada banyak temuan benda bersejarah di lokasi ini. Mulai candi Banjarsari di Ngronggot, temuan patung, dan struktur bangunan patirtan. Di tepi sungai Brantas mulai Desa Trayang sampai Desa Kelutan, Ngronggot diperkirakan juga jadi perkampungan kuno era Majapahit.

Dugaan itu diperkuat dengan temuan benda seperti perlengkapan rumah tangga dan uang koin. Amin menduga wilayah ini sudah ditempati dari masa prasejarah yang ditunjukan dari toponimi daerah.

Wilayah terakhir ada lereng gunung Kendeng dan gunung Pandan.Mulai dari Patianrowo, Lengkong, Jatikalen, Gondang, Ngluyu, Rejoso, Bagor hingga Wilangan. Di sana banyak ditemukan benda-benda bersejarah pada masa purba dan prasejarah. “Fosil-fosil hampir ada di semua kecamatan.Sepanjang pegunungan Kendeng,” tandas Amin.

Selain fosil, Disparporabud juga menemukan batu alam purba, menhir dan kuburan batu kuno. Ada pula kuburan batu orang kalang. Meski mayoritas temuan benda prasejarah, ada pula beberapa peninggalan Majapahit dan kerajaan Kediri di Rejoso, Ngluyu, dan Jatikalen.

Temuan prasasti Bangle I dan II, menunjukkan Jatikalen dahulu adalah kota tua. “Empat wilayah temuan benda-benda bersejarah ini menunjukkan jika Nganjuk adalah daerah yang kaya akan nilai sejarah. Nanti akan kami tindak lanjuti lagi,” tegasnya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia