Selasa, 25 Feb 2020
radarkediri
icon featured
Politik

Inbreeding, Domba Bermata Satu Mati

23 Januari 2020, 10: 07: 15 WIB | editor : Adi Nugroho

Kambing

TAK BERTAHAN LAMA: Domba bermata satu di Dusun/Desa Sumberagung mati setelah 12 jam lahir. (Kaswi for radarkediri.id)

Share this          

GONDANG, JP Radar Nganjuk- Sempat jadi buah bibir, domba bermata satu di Dusun/Desa Sumberagung, Gondang akhirnya mati. Domba hasil perkawinan sekerabat alias inbreeding milik Kaswi, 50, tersebut hanya bertahan sekitar 12 jam setelah lahir pada Senin (20/1) pagi.

Menurut penuturan Kaswi, kelainan pada domba itu tidak hanya pada bagian mata saja. Yakni hanya ada satu mata tepat di tengah kepala. Melainkan, kelainan juga terdapat pada hidung dan mulut domba. “Mulut dan hidungnya jadi satu,” akunya saat didatangi Jawa Pos Radar Nganjuk, kemarin pagi.

Sontak, tetangga yang sadar dengan keanehan hewan ternak itu langsung penasaran. Bermula dari satu-dua orang, akhirnya menyebar hingga ke penjuru desa. Kaswi pun kelabakan dan bingung lantaran diserbu banyak orang.

Meski dengan kondisi cacat tersebut, cempe jantan itu sejatinya masih dapat mengembik. Suaranya hampir sekeras domba normal. Namun, untuk mencerna susu tidak bisa. Baik langsung dari induknya maupun dengan bantuan botol.

Tak ayal, domba berbulu putih tersebut tidak dapat bertahan hidup lebih lama. Lahir setelah Subuh, domba itu akhirnya mati menjelang petang. “Kemarin (21/1) juga masih ada yang lihat, saya kasih tahu mati tidak percaya,” lanjut perempuan berambut lurus tersebut.

Sejatinya, induk domba itu melahirkan empat ekor cempe. Dari empat ekor tersebut, hanya satu ekor domba saja yang cacat. Yakni, dua ekor mengalami kelainan fisik sedang lainnya normal. “Yang pertama lahir tidak ada bulunya. Itu malah tidak lama langsung mati,” terang Kaswi.

Penanggung Jawab Puskeswan Gondang drh Rulli Yemima mengungkapkan, domba mengalami kelainan genetik. Dalam ilmu medis, kelainan itu dikenal dengan istilah cyclops syndrome. “Matanya satu. Terlebih hidung dan mulutnya juga jadi satu ini,” tuturnya kepada koran ini.

Dengan kondisi tersebut, Rulli mengakui bahwa cempe itu kesulitan untuk menyusu. Sehingga, tidak aneh jika tidak dapat bertahan hidup lama. Terlebih, dari beberapa pengalamannya, hewan dengan kelainan genetika memang relatif singkat hidupnya. “Maksimal seminggu biasanya,” timpalnya.

Terkait penyebab kelainan hewan, Rulli menerangkan ada beberapa faktor penyebabnya. Antara lain kelainan genetika, kromosum, terpapar radiasi, dan penggunaan obat-obatan yang berlebihan.

Namun, untuk kasus ini, ia menduga penyebabnya karena inbreeding. Yakni perkawinan sekerabat atau sedarah. “Saya curiganya seperti itu. Soalnya tadi ibunya (Kaswi, Red) juga mengamini kalau sistemnya inbreeding,” paparnya.

Sementara itu, untuk kedua anakan domba lainnya dinilai Rulli normal. Ia tidak melihat ada tanda-tanda kecacatan atau hal yang fatal terhadap kemampuan domba untuk bertahan hidup. “Yang dua ini normal,” tandasnya.

Lebih jauh Rulli menegaskan, kelainan pada cempe itu tidak ada kaitannya dengan hal-hal mistis. Kelainan fisik bukan hal yang tabu. Hanya saja, kejadian itu memang relatif jarang terjadi. “Bisa satu dibanding seribu kelahiran,” pungkas Rulli.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia