Selasa, 25 Feb 2020
radarkediri
icon featured
Features

Mengenal Sosok Supriyadi, si Pawang ‘Tawon Endas’

Tetap Sehat Dientup 5 Kali, Dipanggil Kebal

23 Januari 2020, 00: 03: 36 WIB | editor : Adi Nugroho

supriyadi

BERANI: Supriyadi setelah mengambil sarang tawon endas berukuran besar di Desa Gadungan, Kecamatan Puncu, tadi malam. (Rendi Mahendra - radarkediri)

Share this          

Sosok pria yang satu ini sebenarnya tak beda dengan petugas PMK Kabupaten Kediri lainnya. Hanya saja, ada spesialis khusus yang diembannya. Yaitu bila berurusan dengan sarang tawon endas atau vespa affinis. Karena sang tawon pun seakan takluk. Dientup berkali-kali tetap kebal.

RENDI MAHENDRA, KABUPATEN, JP Radr Kediri

Pantaslah jika pria berperawakan tinggi besar ini dijuluki kebal. Setidaknya ada lima kali entupan tawon endas sudah dirasakannya. Tetapi, Supriyadi-nama pria tersebut- tetap sehat bugar. Pria yang memiliki tinggi badan 170 sentimeter ini pun menunjukkan lima titik lubang di lengannya.

Di tangan kirinya ada dua luka berwarna hitam sebesar kacang polong. Begitupun sapu luka di tangan kanannya. “Selain luka di tangan, dua luka lainnya di paha” terang Supriyadi.

Kendati kerap mengalami luka, seperti sore kemarin, sekitar pukul 17.00 WIB, Supriyadi mendapat tugas spesial. Bersama lima anggota lainnya, mereka berangkat menangani tawon endas yang berada di Dusun Sumber Bahagia, Desa Gadungan, Kecamatan Puncu. “Motto kita di PMK ini, pantang pulang sebelum padam,” tuturnya dengan semangat.

Menempuh perjalanan 30 menit, akhirnya petugas tiba di lokasi tempat tawon endas bersarang. Bergelantungan cukup menyolok di pohon nangka setinggi 7 meter. Supriyadi dan rekan-rekannya pun segera bertindak. Mobil PMK didekatkan ke pohon nangka.

Supriyadi dan satu rekannya memasang tangga hingga mencapai tawon tersebut. Sementara rekan yang lain menyiapkan obor. Setelah obor menyala, Supriyadi yang membawa obor dengan sigap memanjat tangga, sehingga api menyulut sarang tawon endas tersebut. Tak lama kemudian, Supriyadi sudah berhasil mematahkan dahan tempat tawon endas bersarang.

Selanjutnya Supriyadi membawa turun sarang tawon endas tersebut. Warga di dusun tersebut tampak antusias melihat anggota PMK menangani tawon endas. Mereka mengerubungi Supriyadi yang di tangan kanannya memegang sarang tawon endas yang masih membara api.

Anak-anak pun mengerubungi Supriyadi, dan berusaha untuk memotret sarang tawon yang masih membara api tersebut. Supriyadi pun tersenyum bahagia.

Memang PMK Kabupaten Kediri sudah menangani puluhan tawon endas sejak viralnya tawon tersebut.  Hingga saat ini, menurut Supriyadi laporan terkait tawon endas  ke PMK terus berlanjut. “PMK memilih waktu sore hari, karena sore hari cahaya sedang redup, saat itu tawon endas  lebih jinak,” terang pria 43 tahun ini.

Supriyadi mengaku, sudah terbiasa dengan tawon endas. “Kalau evakuasi tawon endas, saya sudah puluhan kali,” ujar pria yang mempunyai tiga orang anak ini. Rekannya di PMK bernama Zainal Fanani, 40, saat menangani tawon endas, pernah dientup sehingga ia harus dilarikan ke Rumah Sakit (RS) HVA Toeloengredjo, Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare. “Pak Fanani itu pernah dientup sepuluh kali entupan saat evakuasi. Sehingga nginap di rumah sakit sampai satu minggu,” terang Supriyadi.

Saat dientup tawon tersebut, memang ia merasakan nyeri, dan bengkak, tapi hal itu tak sampai membuat aktivitasnya terhenti. “Bengkaknya itu cuma sehari. Dan setelah itu sudah langsung sembuh. Yang lama itu bekasnya Mas, sampai sekarang masih ada,” ujar Supriyadi.

Meski Supriyadi jarang pulang karena pekerjaannya,  namun keluarganya tetap mendukung. “Salah satu semangatnya saya, ya, karena keluarga,” terangnya. “Setiap hari selalu pamit ke keluarga Mas. Karena seringnya saya evakuasi tawon,  anakku itu sampai bilang panggah sampean ae ta Yah, sing evakuasi tawon,” katanya.

Istrinya yang bernama Sundiyah Wati, sudah tidak khawatir lagi atas pekerjaannya yang beresiko tinggi. “Saya kalau pamit ke istri gini mas, pulang selamat, gak pulang nginap. Nginap itu artinya, nginap di kantor. Kita ini kan orang lapangan, kalau sedang piket ya 24 jam harus siap di kantor,” tuturnya dengan nada bercanda.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia